
Pijatan Mbok Sum memang yang paling the best, badan Arum terasa jauh lebih rileks setelah mendapat sentuhan dari tangannya.
"Terima kasih ya Mbok," ucap Arum setelah pijetnya selesai.
"Sama-sama, Neng," sahut Mbok Sum.
Arum yang merasa jauh lebih baik kini berdiri merapikan kembali kain sarung yang tadi dia pakai untuk pijat, sejak di pijat Arum sama sekali tak melihat Hasan sang suami membuat jiwa penasaran yang ada dalam dirinya tumbuh.
"Abi lagi ngapain?" tanya Arum saat melihat Hasan sedang sibuk mencuci peralatan dapur yang terlihat menumpuk.
"Kamu sudah selesai pijat Syei'?" bukannya menjawab Hasan malah balik bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sudah, Abi lagi ngapain?" Arum mengulangi pertanyaan yang belum di jawab oleh Hasan.
"Ini nyuci peralatan masak, lebih baik kamu mansi dulu! setelah itu istirahat sambil nunggu Abi selesai di pijat dan kita makan bareng sebelum kembali ke rumah Ummah." Hasan memberi perintah.
"Jadi Abi dari tadi masak," sahut Arum dan Hasan hanya mengangguk sebahai jawaban.
"Abi, lebih baik sekarang ke ruang keluarga. Mbok Sum sudah nungguin, dan cuci piringnya biar aku yang nyelesaiin." Arum berjalan mendekat mengambil alih cucian piring yang sedang di bersihkan oleh Hasan.
Hasan tersenyum mendengar Arum akan menyelesaikan cuci piring, tanpa banyak protes Hasan membasuh tangan dan pergi meninggalkan dapur menuju ruang keluarga menemui Mbok Sum. Sedang Arum merasa begitu penasaran dengan makanan yang telah di masak oleh Hasan langsung membuka tudung saji di atas meja dan betapa bahagianya ternyata sang suami memasak makanan favoritnya orek tempe dan tempe penyet beserta pelengkapnya, menu yang telah di masak memang terlihat sederhana tapi bagi Arum terasa sangat istimewa karena selain menu yang ada memang menu favoritnya, yang memasak pun orang paling spesial dalam hidupnya.
Senyum di bibir Arum tak pernah surut sampai semua cucian piring selesai di kerjakan.
~
"Aku tak bertemu dia hanya pagi ini, kenapa rasanya begitu lama ya," lirih Huda saat menatap wajah cantik gadis pujaan hatinya yang kini sedang menyapu di teras ndalem Umik.
Huda baru saja sampai di pesantren dan berada di kamar khusus yang terletak tepat di samping depan rumah Umik, netra matanya tak pernah berpaling menatap ke arah teras yang tak jauh dari kamar yang dia tempati, terlihat Desy sedang menyapu membersihkan teras rumah Umik.
"Desy!" panggil Huda, sejak tadi dia mencoba menahan diri agar tak menemui Desy tapi apalah daya rasa rindu yang menggunung di hatinya tak lagi bisa dia bendung.
"Mas Huda," sahut Desy menghentikan pekerjaannya menyapu dan mengalihkan pandangannya ke arah Huda.
__ADS_1
"Ini untukmu!" Huda memberikan sebuah kotak bekal ke arah Desy.
"Apa ini?" tanya Desy bingung melihat kotak bekal yang dia sendiri tak tahu isinya.
"Itu isinya makanan, tadi Ibuku yang buat dan aku bawakan khusus untukmu. Nanti makanlah! aku pergi dulu." Jawab Huda.
Sebenarnya Huda masih ingin berlama-lama berada di dekat Desy tapi tugas yang di berikan pihak kampus yang harus di kumpulkan besok tak lagi bisa dia tinggal.
"Terima kasih Mas Huda," ujar Desy dan Hasan hanya mengangguk sebagai jawaban kemudian melenggang pergi meninggalkan Desy.
Desy merasa begitu penasaran dengab n isi dari kotak makanan yang di berikan oleh Huda, secepat kilat dia menyelesaikan menyapu kemudian pergi menuju asrama untuk membuka kotak pemberian Huda.
"Tumben kamu di kirim hari ini?" seloroh Shinta saat melihat Desy sang sahabat membuka kotak bekal mirip seperti rantang, biasanya Desy memang di bawakan kotak bekal yang mirip dengan kotak bekal yang dia pegang saat ini oleh orang tuanya.
"Ini dari Mas Huda," jawab Desy enteng.
"Apa??? dari Mas Huda?" spontan Shinta membuat Desy yang sejak tadi tidak fokus dan menjawab pertanyaan Shinta seenaknya langsung menoleh dan membungkam mulut Shinta dengan tangannya.
Plakk
Satu tepukan tangan mendarat indah di punggung tangan Desy yang masih setia menempel di mulut Shinta.
"Auuuw, sakit Shinta," keluh Desy.
"Habis betah amat nangkring di atas mulutku, pengap tahu," sungut Shinta.
"Kamu sih, punya mulut ngomongnya udah kayak toa masjid," Desy tak mau kalah, dia juga menyalahkan Shinta.
"Ya maaf, tadi aku cuma kaget, jadi spontan teriak gitu." Shinta membela diri.
Desy tak lagi menanggapi ucapan Shinta, dia lebih memilih menyelesaikan apa yang tadi dia kerjakan. Membuka kotak bekal yang di berikan oleh Huda.
"Ngomong-ngomong, kapan kamu ketemu Mas Huda?" Shinta mendekat dan berbisik ke arah Desy.
__ADS_1
"Tadi pas nyapu di teras." Jawab Desy singkat.
"Wahh ini pertanda buat kamu," ujar Shinta.
"Pertanda apa?" tanya Desy heran mendengar ucapan Shinta.
"Pertanda kalau Mas Huda sudah jatuh hati sama kamu," jawab Shinta.
"Sudahlah, jangan membuatku berharap terhadap sesuatu yang belum pasti!" sarkas Desy yang tak ingin tersakiti oleh harapan yang tak pasti.
"Ini bukan berharap Desy, tapi udah kenyataan, apa kamu tidak mengerti jika kotak bekal ini bentuk perhatian Mas Huda padamu?" Shinta masih bersi keras meyakinkan Desy jika Huda memiliki rasa padanya.
"Sudahlah, kita bahas yang lain saja, oh ya gimana kalau kita makan bareng?" Desy mengalihkan pembicaraan berharap Shinta tak lagi membahas Huda.
Desy memang sudah jatuh hati pada Huda tapi dia masih berusaha menahannya dan tak ingin Shinta terus mengungkit dan membahasnya karena Desy takut jika rasa itu akan semakin tumbuh besar juga dalam karenanya.
"Ogah, kamu makan aja sendiri." Tolak Shinta berdiri berjalan menjauh menuju lokernya.
"Kenapa gak mau?" tanya Desy yang heran melihat Shinta menolak ajakannya untuk makan bersama, biasanya Shinta paling senang dan bersemangat jika di ajak makan oleh Desy apalagi jika makanan yang di tawarkan makanan dari orang tua Desy.
"Itu khusus buat kamu dari dia, mana mungkin aku mau makan, takut kena virus-virus cinta yang bertebaran di dalamnya," jawaban aneh yang membuat Desy geleng kepala.
"Mana ada virus-virus cinta, kamu ini ada-ada saja," Desy kembali menyimpan kotak bekal yang di berikan Huda di tempat penyimpanan makanan kemudian berjalan mengambil tas sekolahnya karena dia baru sadar jika sekarang sudah waktunya berangkat sekolah setelah melihat Shinta telah siap dengan tasnya.
"Loh, kamu gak jadi makan?" kini giliran Shinta yang bertanya.
"Enggak, kalau aku makan sekarang entar bisa telat, males banget kalo harus lari di lapangan." Jawab Desy.
"Nyadar juga kalau waktunya udah mepet, tadi aja ngajakin makan," celetuk Shinta.
"Diem kau!" hardik Desy berjalan cepat meninggalkan Shinta yang masih setia bersiri di tempat.
"Woi tungguin!" ujar Shinta sambil berlari menyusul Desy.
__ADS_1