
"Di mana makanannya?" tanya Husein melepas pelukannya dan sedikit menjauh memberi ruang pada Zahra untuk bergerak.
"Mas duduklah dulu biar aku ambilkan." Jawab Zahra berjalan mengambil nampan yang tadi di letakkan di atas meja rias tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Husein kembali duduk di kasur tempatnya tadi merasakan manisnya bibir sang istri. Dengan senyum lebar dia menatap Zahra tanpa mau berpaling sedikitpun.
"Mas, bagaimana kalau kita makan di balkon saja?" usul Zahra yang kurang suka makan di dalam kamar karena menurutnya makan di dalam kamar bukanlah hal yang baik, selain itu makan di kamar bisa membuat kamarnya kotor dan beraroma tak sedap.
"Boleh, ayo!" dengan semangat empat lima Husein berjalan mendahului Zahra membukakan pintu untuknya.
Udara segar yang berhembus langsung terasa, hari ini cuaca tak terlalu panas karena mendung sedang menyelimuti langit.
"Semoga saja hari ini tidak hujan ya, Dek," ucap Husein seraya menatap ke atas langit yang kini berwarna coklat petang.
"Semoga Mas," sahut Zahra.
"Mas Husein suka makan apa?" tanya Zahra.
"Makan apa aja yang kamu masak nanti." Jawab Husein membuat Zahra tersenyum karenanya.
Keduanya kini makan dengan tenang menghabiskannya tanpa sisa. Sejak pagi Husein memang belum makan apapun karena sibuk mengontrol rasa gugup dan tegang yang hinggap dalam dirinya.
Detik demi detik telah terlewati MUA juga sudah selesai merias dua raja dan ratu sehari itu, kini keduanya duduk dengan tenang di atas singgahsana yang sudah di siapkan. Seutas senyum tak pernah luntur dari bibit keduanya juga bibir seluruh keluarga dan tamu undangan yang datang.
"Selamat ya, Dek, kamu sudah resmi menjadi seorang istri, maka jadilah istri yang soleha dan jangan membantah ucapan suami!" pesan Zein pada sang Adik.
"Dan untuk kamu Husein, jadilah suami yang bertanggung jawab dan jaga Adik kesayanganku dengan baik. Jangan sampai ada air mata yang jatuh di pipinya kecuali jika air mata itu keluar karena sebuah kebahagiaan." Zein juga memberi pesan untuk Husein.
"Kamu tenang saja, Zahra sekarang sudah jadi tanggung jawabku dan aku akan membahagiakannya." Jawab Husein.
Suasana resepsi semakin ramai karena malam semakin banyak saudara juga relasi kerja orang tua Zahra silih berganti berdatangan hingga malam semakin larut dan pesta yang tadinya ramai kini mulai sepi, karena tamu yang sudah hadir pulang satu persatu.
"Mas, apa acaranya sudah selesai?" tanya Zahra sambil memijit kaki yang sejak tadi terasa pegal.
__ADS_1
"Sebentar lagi selesai, Dek," jawab Husein.
"Aku sudah gak kuat, Mas, kaki pegel banget," keluh Zahra.
Saat ini kaki Zahra terasa begitu sakit dan mati rasa karena terlalu lama berdiri. Sungguh rasanya dia ingin segera pergi ke kamar dan merebahkan diri menikmati setiap denyutan rasa sakit yang terasa.
"Lima menit lagi kita turun." Ujar Husein.
Melihat wajah Zahra yang begitu lelah membuat hati Husein berdenyut, ingin rasanya dia menggendong dan membawa sang istri ke dalam kamar agar dia bisa beristirahat, tapi di depan masih ada banyak tamu yang belum pulang membuatnya terpaksa menahan diri sebentar.
"Ayo turun!" ajak Husein setelah lima menit berlalu.
Keduanya turun dan berjalan beriringan menuju kamar untuk segera beristirahat.
"Loh kok udah turun aja, Nak?" tanya Mama Rina.
"Kasihan Zahra Ma, kakinya sakit, jadi Husein ajak Zahra istirahat. Lagi pula tamunya sudah tak seramai tadi, tidak apa-apa, Kan, Ma?" jawab Husein sambil menjelaskan keadaan Zahra.
"Tidak apa-apa, lagi pula ini sudah sangat larut kalian istirahat saja. Biar Mama dan Papa juga Kakakmu yang mengurus sisanya." Mama Rina tersenyum senang melihat sang menantu begitu pengertian dan perhatian pada Putrinya membuat Mama Rina semakin yakin jika Husein adalah pilihan yang tepat untuk Zahra.
"Sudah, tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf juga," Mama Rina kembali tersenyum ke arah Husein.
"Ma, aku istirahat dulu ya." Kali ini Zahra yang berucap, wajahnya terlihat begitu lesu dan lelah membuat siapapun yang melihatnya tidak akan tega.
"Iya, sudah sana pergi ke kamar dan istirahat!" titah Mama Rina.
Keduanya kembali berjalan masuk ke dalam kamar, Zahra langsung melempar diri ke atas kasur tanpa melepas gaun ataupun hight hills yangs ejak tadi menempel di kakinya.
"Masya allah, ganti baju dulu, Dek, baru tidur." Seru Husein mengingatkan Zahra.
Zahra benar-benar merasa lelah dengan langkah gontai dan lemas dia berjalan menuju lemari mengambil sepasang piyama dan segera masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju. Sedang Husein menyimpan shigt hills yang tergeletak di bawah kasur beserta sepatu miliknya kemudian mengambil baju tidur yang sudah dia bawa dari rumah di dalam kopernya.
"Sudah selesai?" tanya Husein heran melihat Zahra sudah keluar dari dalam kamar mandi lengkap dengan baju piyamanya, meski wajahnya terlihat jauh lebih segar dari tadi tapi tetap saja terlihat gurat lelah di sana.
__ADS_1
"Sudah Mas," jawab Zahra singkat.
"Lepas saja hijabnya! kamu akan gerah kalau tidur pakai hijab itu." Seru Husein.
"Baik, Mas," jawab Zahra.
Husein langsung pergi menuju kamar mandi tanpa menunggu Zahra melepas hijabnya, karena sebenarnya Husein juga merasa lelah dan ingin segera istirahat sama seperti Zahra. Tapi Husein tak ingin rasa lelahnya membuat malam pertama yang harus dia lewati menjadi sia-sia. Husein memilih untuk berendam air hangat, sejenak menghilangkan rasa lelah yang hinggap di tubuhnya.
"Malam ini aku gak boleh gagal cuma gara-gara capek," gumam Husein mengingat apa yang tadi siang dia lewati, dan memikirkan hal apa yang akan dia lakukan setelah ini.
"Zahra, Mas datang." Lirih Husein setelah berganti baju dan merasa lelah dalam dirinya telah berkurang.
Dengan penuh semangat Husein berjalan keluar dari kamar mandi menghampiri Zahra yang terlihat duduk bersandar di kepala ranjang sambil menunduk.
"Dek, apa Mas boleh memulainya sekarang?" tanya Husein.
Zahra hanya diam tanpa bergerak meski Husein sudah melontarkan pertanyaan ke padanya, hal itu sukses membuat Husein jadi penasaran, perlahan tapi pasti Husei mendekat ke arah Zahra bermaksud mengecek sang istri yang tak merespon ucapannya.
"Astaghfirullah, dia tertidur," ujar Husein setelah melihat Zahra yang ternyata memejamkan mata dengan posisi duduk dan menundukkan kepala.
Husein sungguh heran melihat sikap Zahra yang begitu mudahnya tertidur dengan posisi yang pasti tidak nyaman. Dengan perlahan Husein mengangkat tubuh Zahra dan membenarkan posisi tidurnya dan Zahra hanya bergerak mencari posisi nyaman tanpa membuka mata, dia terlihat begitu lelap dan tak terganggu dengan apa yang di lakukan oleh Husein padanya, sungguh malam pertama yang jauh dari bayangan Husein, tapi meski begitu dia tetap bahagia karena bisa bersatu dan sudah sah menjadi suami dari Zahra, gadis yang soleha.
Husein yang melihat Zahra terlelap memilih untuk ikut tidur di sampingnya sambil memeluk tubuh sang istri, meski awalnya sangat sulit terlelap karena hasrat yang telah memuncak tapi Husein tetap memejamkan mata hingga dia terlelap dengan sendirinya.
-
-
-
-
Kakak2 pembacaku yang baik banget dan paling tersayang, aku akan buatkan bab khusus Desy dan Huda di akhir cerita nanti untuk sekarang fokus ke cerita Hasan dan Husein serta pasangan mereka dulu ya kak,
__ADS_1
jangan lupa terus dukung Aku dan aku selalu merasa senang membaca komentar Kakak2, tapi maaf Aku gk bisa balas satu per satu soalnya author sedang hamil besar butuh istirahat yg banyak jd gk bisa lama2 main hp. update ini saja aku sedikit memaksakan diri untuk terus update biar kakak2 seneng dan terus dukung karyaku.
salam manis dan sayang dariku untuk kalian yang udah setia dan terus mendukung karyaku 😘😘😘😘😘😘