
Suasana rumah Ummah selama seminggu terakhir begitu ramai dengan para pelayat dan tamu yang ikut tahlil di malam hari, keadaan seperti itu sangat kontras dan berbeda dengan suasana rumah saat ini.
Suasana sepi dan sunyi mulai terasa begitu menyayat hati, hal itu sangat di rasakan oleh Buya yang kini duduk di depan jendela kamar. Menatap lurus ke arah keluar jendela melihat beberapa daun yang gugur karena tertiup angin.
"Dunia ini terasa begitu sunyi tanpamu Ummah, seandainya kamu punya sedikit lebih banyak waktu untuk menemaniku di sini," fikiran Buya melayang tinggi mengingat setiap kenangan yang di tinggalkan Ummah sang istri.
Kepergian Ummah memberi banyak hal yang cukup menyayat hati untuk Buya, ikhlas memang mudah di ucapkan tapi percayalah akan sangat sulit untuk menjalankannya, setiap sudut rumah memiliki banyak kenangan dan setiap kenangan sangat sulit untuk di lupakan, tapi mau bagaimana lagi jika takdir sudah menentukan tak ada yang bisa merubahnya.
Jika Buya sedang menatap luar jendela mengenang setiap kenangan yang telah terukir indah sambil menatap dedaunan yang gugur di terpa angin sangat berbeda dengan keadaan yang terjadi di kamar yang tak jauh dari kamar Buya.
"Syei', bangun!" Hasan sudah memanggil Arum untuk yang ketiga kalinya, tapi masih saja tak ada reaksi ataupun tanda-tanda jika Arum akan bangun.
Cup
Cup
Cup
Tiga kecupan sayang mendarat indah di wajah Arum, membuat sang empu kini terusik, perlahan dia menggeliat pelan seraya merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"Issh Abi, jangan main cium gitu donk!" keluh Arum dengan ekspresi wajah cemberutnya, bukannya marah Hasan malah lucu melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Arum.
"Wajahmu lucu Syei', aku mana tahan untuk tak menciumnya." Jawab Hasan seenaknya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun karena keduanya memang sering sekali bercanda seperti itu.
"Tapi mulut Abi bau, aku gak kuat," keluh Arum sambil mengusap kasar bagian wajah yang tadi di cium oleh Hasan.
"Meski bau tapi kamu suka Kan, Syei'? hm?" Hasan menaik turunkan alisnya menggoda Arum yang terlihat semakin cemberut melihat sikap Hasan.
"Sudahlah Bi, jangan buat moodku hilang di pagi hari!" seru Arum berdiri melenggang pergi meninggalkan Hasan yang justru semakin melebarkan senyumannya.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu kini Arum sudah terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya, aroma sabun mandi menyengat ke dalam hidung membuat Hasan mengalihkan perhatiannya, sejak tadi Hasan tengah fokus menatap layar di ponselnya mengecek setiap email yang di kirimkan oleh sekertarisnya.
"Hmmm, kamu harum sekali Syei'," ucap Hasan.
Melihat Arum baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar membuat Hasan melupakan pekerjaannya, ponsel yang sejak tadi dia genggam kini tergeletak di kasur tanpa dia hiraukan.
"Abi mau ngapai? jangan mendekat!" Arum langsung berjaga-jaga saat melihat Hasan berjalan mendekat ke arahnya, semua Arum lakukan bukan karena dia tak mau di dekati Hasan tapi Arum tak ingin mandi untuk kedua kalinya di pagi hari, apalagi rumah Ummah berada di pegunungan.
"Kenapa gak boleh mendekat?" tanya Hasan sok polos dan tak mengerti apa-apa.
"Aku gak mau mandi lagi Abi," keluh Arum.
"Memangnya aku mau ngapain sampai kamu harus mandi lagi?" tanya Hasan masih memasang wajah polosnya.
Arum hanya bisa diam tanpa melawan kata-kata Hasan yang kini terlihat menatapnya dengan tatapan menggoda. Sedangkan Hasan yang melihat kewaspadaan Arum semakin bersemangat untuk menggodanya.
"Syei', kalau lihat kamu seger gini rasanya jadi betah di kamar, gimana kalau seharian ini kita menghabiskan waktu di kamar saja?" usulan Hasan benar-benar membuat Arum merinding, bagaimana tidak satu hari penuh berada di dalam kamar, apa yang harus mereka lakukan? olahraga sepanjang hari, ahh fikiran Arum semakin tak karuan dia berfikir jika berada di dalam kamar seharian yang ada dia tidak akan bisa berjalan nanti, mengingat betapa kuatnya Hasan.
"Aduh, aku ke kamar mandi dulu Bi sakit perut." Pamit Arum langsung berlari ke kamar mandi menghindari Hasan.
Melihat tingkah Arum membuat Hasan tertawa lucu meski tawa yang keluar dia tahan karena tak ingin sang istri marah karena sikapnya yang suka menggodanya.
Tok ... tok ... tok ....
"Syei'!" panggil Hasan seraya mengetuk pintu.
"Apa Bi?" sahut Arum yang sebenarnya hanya diam di kamar mandi tanpa melakukan apapun.
"Kamu ngapain lagi di kamar mandi?" tanya Hasan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Bi?" bukannya menjawab Arum malah balik bertanya.
"Aku lapar, apa kamu tidak ingin memasak untukku?" jawab Hasan.
"Sebentar lagi selesai Bi, tunggu saja di luar." Ujar Arum.
Hasan yang sudah mendapat jawaban kini memilih pergi meninggalkan kamar menuju ruang keluarga di mana sang Abi sedang duduk dengan santainya. Sedang Arum pergi ke dapur setelah mendengar Hasan pergi dari kamar.
Kemarin dapur terlihat begitu ramai dengan para pelayan yang membantu acara, sedang saat ini tak ada satu orang pun berada di sana. Dengan gerakan pasti dan cekatan Arum mencari sisa bahan makanan yang bisa dia masak.
Semalam Buya dan Abi juga Hasan dan Hisein sudah sepakat meminta Buya untuk kembali tinggal di pesantren. Mengingat jika Biya haris sendirian di pesantren membuat Hasan dan Husein sedikit memaksa Buya untuk tinggal bersama di pesantrwn. Dan untungnya Buya mau.
Arum memasak sayur sop, tempe dan ayam goreng juga sambal terasi, karena hanya tinggal bahan itu saja yang ada di dalam lemari es.
"Abi!" panggil Arum sesaat setelah menyelesaikan acara memasaknya. Hasan yang di panggil oleh Arum langsung berdiri berjalan menghampiri Arum.
"Ada apa Syei'?" tanya Hasan setelah sampai di dekat Arum.
"Masakannya sudah siap. Abi bisa ajak Buya dan Abi Ilzham untuk pergi ke ruang makan. Kita sarapan bersama." Jawab Arum.
"Baiklah kamu tunggu kami di ruang makan!" titah Hasan melenggang pergi meninggalkan Arum yang juga pergi kembali ke dapur.
"Abi, Buya, Arum sudah memasak untuk kita. Ayo kuta sarapan bersama." ajak Hasan pada kedua laki-laki paling berjasa dalam hidupnya.
Abi Ilzhan dan Buya hanya bisa mengikuti langkah Hasan tanpa menyahuti ucapannya, saat ini keduanya memang lapar karena belum ada yang makan.
"Kamu masak apa, Nak?" tanya Buya sambil duduk di kursi yang biasa dia duduki.
"Arum masak sayur sop, ayam sama tempe goreng, maaf Buya hanya menu ini yang tersisa di kulkas," jawab Arum dengan perasaan khawatir jika Buya tak menyukai menu yanh dia masak.
__ADS_1
"Ini sudah cukup Nak," sahut Buya sambil mengambil makanan yang sudah ada di meja.