Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kakak Ipar Yang Baik


__ADS_3

Hari ini telah berlalu memberikan semangat baru bagi kedua pasang pengantin baru yang akan segera pergi berbulan madu.


Meski hasrat yang semalam harus di tuntaskan sendiri oleh Husein tapi tak sedikitpun membuat semangatnya berangkat berbulan madu hari ini berkurang, sebelum subuh Husein sudah bangun menunaikan sholat malam duduk berdzikir hingga suar adzan subuh berkumandang.


"Dek, bangun! sudah subuh," Husein membangunkan Zahra yang masih terlelap dalam mimpinya.


"Emmm lima menit lagi Ma," gumam Zahra namun suaranya masih bisa di dengar oleh Husein.


"Syei'! ini aku Husein suamimu bukan Mama," tutur Husein, mulai gemas dengan sikap Zahra.


"Emmm," bukannya bangun Zahra malah kembali menggeliat dengan gumam yang tak jelas dan merapatkan selimutnya.


"Apa kamu mau mengulang yang semalam sekarang? hm?" kali ini Husein memilih untuk berbisik dengan suara sedikit lebih keras.


Mendengar bisikan Husein dengan suara sedikit keras membuat mata Zahra langsung melebar sempurna.


"Aku sudah bangun Mas." Spontan Zahra yang kini duduk di kasur.


Husein tersenyum lucu melihat sikap dan ekspresi yang di tunjukkan oleh Zahra, sungguh pagi yang indah juga menyenangkan bagi Husein yang biasanya hanya berhadapan dengan tumpukan kertas atau deretan email kiriman dari para pegawainya.


"Awww," keluh Zahra yang langsung terduduk di atas lantai saat dia mau melangkah.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Husein langsung berlari ke arah Zahra yang terduduk di lantai.


"Kok perih ya Mas?" lirih Zahra dengan ekspresi wajah polosnya menatap wajah Husein yang ada di atasnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Zahra, Husein langsung menggendong tubuh Zahra yang berbalut selimut dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Tunggu di sini!" titah Husein setelah itu dia berjalan menuju bak mandi untuk menyiapkan air hangat.


"Mas mau bawa aku ke mana?" celoteh Zahra saat Husein mendekat dan menggendongnya secara tiba-tiba.


"Kamu berendamlah dulu! seperempat jam lagi bersihkan badanmu sebelum waktu sholat subuh habis." Pesan Husein.


"Terima kasih, Mas," ucap Zahra sebelum Husein pergi meninggalkannya.


"Hmm," sahut Husein seraya mengangguk.

__ADS_1


Husein berjalan menuju tempat bilas mengambil air wudu' dan keluar dari kamar mandi untuk mengganti bajunya. Senyum bahagia kbali terlihat di wajah Husein saat melihat bercak darah di seprei putih yang tadi malam menjadi saksi penyatuan keduanya.


"Terima kasih sudah menjaganya untukku," lirih Husein.


"Pagi Pa, pagi Ma," sapa Zahra dan Husein dengan senyum yang terpancar dari wajah keduanya.


"Pagi Sayang, ayo duduk! kita sarapan bersama." Sahut Mama Zahra sedang sang Papa hanya berdehem sebagai jawaban.


"Kak Zein ke mana Ma? kok gak ada," tanya Zahra saat tak melihat sang Kakak duduk di kursi yang biasa di dudukinya.


"Kakakmu belum bangun, mungkin masih capek," jawab Mama Rina.


"Tumben amat jam segini belum bangun," lirih Zahra yang hanya dapat di dengar oleh telinganya sendiri.


"Mas, mau makan yang mana?" sambungZahra saat melihat sang suami hanya diam belum mengambil apapun dari atas meja.


"Apapun yang kamu ambil Mas makan Dek," jawaban Husein membuat Mama Zahra yang sejak tadi memperhatikan interaksi anak dan menantunya itu tersenyum bahagia.


Mendengar jawaban Husein yang baru saja terdengar membuat Zahra sejenak bingung memilihkan makanan untuknya, tapi melihat senyum yang tercetak di wajah Husein membuat Zahra yakin jika apapun yang dia ambilkan pasti akan di habiskan oleh Husein.


"Jadi Pa, setelah ini kuta mau langsung berangkat," jawab Husein.


"Kalau begitu hati-hati!" sahut Papa Zahra.


"Iya, Pa," jawab Zahra.


Pagi ini jadwal makan di keluarga Zahra di majukan, biasanya Zahra dan keluarganya akan makan jam Tujuh pagi tapi kali ini sarapan pagi di lakukan jam setengah enam karena Papa Zahra harus segera pergi meeting di luar kota dan Zahra juga Husein harus segera pergi ke rumah Hasan untuk pergi ke Jogja.


Zahra dan Husein juga ikut pergi setelah berpamitan pada sang Mama dan saat Papa sudah berangkat bekerja. Keduanya berangkat ke rumah Hasan dengan dua koper yang tersimpan rapi di jok bagian belakang mobil.


"Assalamualaikum, Kak aku datang! apa Kakak udah siap?" suara Husein terdengar menggelegar di depan pintu rumah Hasan di pagi buta.


"Astaghfirullah, anak ini beneran dateng pagi-pagi," gerutu Hasan sambil berjalan menuju ruang tamu membukakan pintu untuk Hasan dan sang istri.


"Loh Kakak kok belum siap sih?" protes Husein saat melihat sang Kakak masih memakai baju kokoh berdiri di hadapannya.


"Ini masih jam setengah tujuh Husein, lagian sopirnya juga baru aja datang." Jawab Hasan.

__ADS_1


"Benarkah? ku kira sudah jam delapan lebih," sahut Husein dengan senyum menyebalkannya, sedang Zahra hanya berdiri diam di samping Husein.


"Ngelantur kamu, sudah masuklah!" Hasan membuka lebar pintu ruang tamu mempersilahkan Husein dan Zahra masuk.


"Zahra dan Husein sudah datang Bi," celetuk Arum keluar dari dalam rumah berjalan menuju ruang tamu di mana Hasan dan Zahra duduk.


"Sudah," jawab Hasan singkat, dia berjalan masuk ke dalam rumah setelah melihat Arum duduk menemani Husein dan Zahra.


"Kak Arum sudah siap?" tanya Husein.


"Sudah, tinggal nunggu Abi sama sopir yang manasin mobil," jawab Arum.


"Bagaimana kalau kota pamit ke Umik sama Abi Ilzham dulu?" usul Arum.


"Boleh," jawab Husein.


"Zahra ayo ke rumah Umik dulu!" ajak Arum merangkul tangan Zahra yang berdiri hendak pergi keluar dari rumah.


"Loh, kok Kak Arum yang pegangan sama Zahra," protes Husein.


"Kalau aku pegang tangan Zahra memangnya kenapa? harusnya kamu seneng lihat Kakak Iparmu akrab dengan istrimu, benar Kan Zahra?" ujar Arum sambil melempar pertanyaan pada Zahra.


"Tapi harusnya aku yang gandeng tangan Zahra," debat Husein.


"Kalau mau pegang-pegangan tangan nanti aja kalau ada di pantai biar romantis, lagian kita gak mau nyebrang juga," Arum mendebat ucapan Husein.


"Terserah kamu ajalah Kak," menyerah sudah, percuma berdebat dengan Arum tak akan ada yang menang.


Arum tersenyum senang melihat Husein tak lagi menjaeab ucapannya dan memilih pergi mendahuluinya.


"Maaf ya Zahra, kalau sikap aku bikin kamu gak nyaman," ujar Arum merasa tak enak hati pada Zahra yang hanya diam tanpa berkomentar.


"Tidak apa-apa Kak, aku seneng kok bisa punya Kakak ipar baik kayak Kak Arum," jawab Zahra tersenyum ramah ke arah Arum.


"Aku juga seneng punya Adik ipar baik seperti kamu," Arum mengajak Zahra masuk ke rumah Umik untuk berpamitan sebelum pergi.


Arum memang pribadi yang ramah dan mudah akrab dengan anggota keluarga baru dan karena itulah Arum menjadi anghota keluarga yang sering di rindukan kehadirannya.

__ADS_1


__ADS_2