Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Persiapan Preweeding


__ADS_3

Suasana pegunungan terasa begitu sejuk, di tambah pemandangan indah yang tersaji membuat decak kagum siapapun yang melihatnya.


"Hmmm," Arum menghirup udara dalam-dalam menikmati udara sejuk yang terasa masih segar tanpa polusi.


"Apa kamu suka suasana di sini?" tanya Hasan yang baru saja ikut turun dari mobil dan langsung melihat Arum merentangkan tangan sambil menikmati udara di sekitar.


"Bukan hanya suasananya yang Aku suka, udara di sini terasa begitu segar tanpa polusi," sahut Arum sembari melihat pemandangan indah di sekelilingnya.


"Alhamdulillah kalian sudah sampai, sejak tadi Ummah sudah gelisah menunggu." Suara Ummah mengejutkan kedua sejoli yang sedang asyik menikmati pemandangan.


"Maaf Ummah kami telat, tadi mampir dulu ke danau." Jelas Hasan.


Saat di danau tadi keduanya terlalu asyik menikmati suasana dan obrolan yang semakin panjang hingga mereka tak menyadari jika waktu melanjutkan perjalanan telah tiba.


"Sudah tidak apa-apa, yang penting kalian sudah sampai dengan selamat." Ujar Ummah seraya menggandeng tangan Arum mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Ummah.


"Alhamdulillah baik Ummah," jawab Arum dengan senyum yang mengembang di pipinya.


"Hasan, sebelum melakukan foto kamu sarapan dulu sama Arum." titah Ummah pada Hasan.


"Baik Ummah," Hasan yang mengerti sifat Ummah hanya bisa menuruti semua perintah yang di berikan padanya tanpa bisa menolak.


"Apa Ummah sudah makan?" Arum yang melihat semua makanan di atas meja masih utuh tak tersentuh akhirnya bertanya.


"Ummah sejak tadi nunggu kalian, ayo makan!" Ummah mengambil tempat tepat di samping Arum mengulum senyum pada cucu menantu yang sejak lama dia tunggu.


Hati Ummah begitu lega dan bahagia mendengar Hasan yang sudah menemukan tambatan hatinya, sejak duli cucunya itu benar-benar tertutup tak pernah sekalipun Ummah mendengar jika Hasan memiliki teman dekat atau seseorang yang mampu menarik hatinya, hingga Uqi sang menantu menelfon dan memberitahukan jika Hasan telah jatuh hati dan meminta Umiknya meminang seorang gadis, sungguh hati Ummah begitu bahagia saat itu dan Ummah berharap jika keduanya memang berjodoh dunia akhirat.


"Ummah, Aku kok gak lihat Buya? memangnya Buya ke mana kok tumben gak ikut makan bareng di sini." Tanya Hasan yang sejak tadi celingukan mencari keberadaan Buya sang kakek.


"Buya kamu sedang pergi ke kebun teh, meriksa apa ada yang kurang dan melihat apa semuanya berjalan dengan lancar," jawab Ummah.


Dulu Hasan dan Husein sudah di ajari memanggil kakek dan Nenek kepada Ummah dan Buya, tapi karena kedua orang tuanya sudah terbiasa memanggil Buya dan Ummah Hasan juga Husein ikut memanggil Ummah dan Buya meski sudah beberapa kali do ingatkan tapo keduanya tak menghiraukan.

__ADS_1


"Bukankah ada asisten yang mengurus semuanya? kenapa Buya masih harus mengeceknya sendiri Ummah?" Hasan memang sempat mengirim Asisten untuk menghandle semua pekerjaan Buya agar beliau bisa beristirahat dan tak terlalu capek mengurus kebun teh.


"Buyamu tidak akan pernah puas sebelum dia melihat sendiri jika semua urusan di kebun benar-benar baik dan lancar." Jelas Ummah yang sebenarnya kurang setuju dengan keputusan yang di ambil oleh Buya.


"Biar nanti Hasan yang berbicara pada Buya," sahut Hasan sembari mengambil satu piring makanan yang sudah di ambilkan oleh Arum.


"Assalamualaikum Ummah, cucumu yang paling ganteng se-kabupaten udah dateng." Suaracempreng yang terdengar begitu familiar dan khas terdengar dan itu artinya Ummah harus segera menyambut cucu sengkleknya itu jika tidak dia akan mengomel atau marah dan tak akan menghiraukan Ummah sehari penuh.


"Waalaikum salam, cucu Ummah Sayang," sahut Ummah yang kini berdiri dan berjalan menuju asal suara menghampiri Husein yang sudah berjalan menghampiri sang Ummah.


"Bagaimana keadaan Ummah hari ini?" tanya Husein melingkarkan tangan di lengan Ummah.


"Alhamdulillah hari ini Ummah merasa begitu baik, kabar kamu bagaimana?" Ummah melempar pertanyaan yang tadi di lontarkan padanya.


"Alhamdulillah Aku selalu baik-baik saja Ummah," jawab Husein.


"Hay Kak Husein, apa kabar?" suara seseorang yang sudah lama dia hindari kini terdengar.


Sejenak langkah Husein terhenti setelah mendengar suara Arum, Husein langsung mendongak dan melihat asal suara dan benar saja di sana ada Hasan dan Arum yang sedang tersenyum manis duduk di kursi meja makan.


"Kak Hasan ada di sini, kapan datang?" tanya Husein mengambil tempat duduk agak jauh dari tempat Arum duduk.


"Aku baru aja nyampek, apa kamu lupa kalau hari ini ada jadwal foto preweeding persiapan pernikahan Aku dan Arum." Jelas Hasan.


"Sorry Kak, Aku lupa," Husein menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Tidak apa-apa, santai aja." Ujar Hasan.


Keempatnya makan bersama dengan tenang dan penuh hikmat, hanya dentingan sendok yang menggema di ruangan.


Setelah acara makan bersama telah selesai Arum dan Hasan berencana ingin langsung menuju tempat pemotretan sedang Husein tak mau ikut dengan alasan capek harus istirahat.


Hasan yang memang lebih menyukai waktu mereka berdua hanya bisa diam tanpa bisa memaksa Husein untuk ikut.


"Kak Hasan," lirih Arum saat mereka sedang berada di tengah-tengah kebun teh.

__ADS_1


"Iya ada apa Arum?" tanya Hasan menoleh ke arah Arum yang ada di belakangnya, Hasan menghentikan langkah dan menatap lekat ke arah Arum.


"Kak ada sesuatu yang ingin Aku bicarakan, tapi sebelumnya bolehkah Aku meminta satu hal pada Kakak?" ucap Arum dengan wajah penuh harap.


"Katakan saja! jangan sungkan ataupun takut! karena kita akan segera menjadi suami istri dan mulai sekarang kamu harus terbiasa membagi segala hal kepadaku termasuk masalahmu dan segala sesuatu yang mengusik hatimu!" Hasan menjelaskan apa yang seharusnya di lakukan Arum.


"Kak kita duduk di sana Yuk!" ajak Arum sambil menunjuk ke arah sebuah gardu yangterbuat dari bambu dan berada di bawah pohon Apel.


"Mas Hasan!" panggil salah seorang fotografer yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan keduanya.


"Iya, ada apa?" tanya Hasan.


"Mas silahkan ke sini, semua persiapan sudah di lakukan dan kami menunggu bapak datang." Jelas sang fotografer menunjuk ke arah yang tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


Ada beberapa orang sedang bersiap-siap mencari pemandangan yang paling bagus sembari menyiapkan baju yang akan di pakai oleh Arum.


"Arum," lirih Hasan yang merasa tak bisa lagi menunda jam pemotretan mengingat waktu terus berjalan dan pemandangan yang terlihat indah itu akan hilang di telan gelapnya malam.


"Iya, ada apa Kak Hasan?" sahut Arum.


"Jika bicaranya nanti saja, apa kamu tidak keberatan?" tanya Hasan sedikit ragu.


-


-


-


-


-


Kakak2ku yang baik nan paling lope2, author mau ngasih rekomendasi cerita yang menurut author bagus. Kalian bisa baca dengan judul "Cinta terlarang di pesantren" kisah cinta dua dunia yang entah bagaimana pada akhirnya. Itu cerita temen author.


Kalau ada waktu jangan lupa mampir ya teman2 😗😗😗😍😍😙😙

__ADS_1


__ADS_2