Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Sebungkus Makanan Untuk Desy


__ADS_3

"Bukankah kita harus berterima kasih dan meminta maaf jika kita meminta bantuan dan merepotkan orang lain?" sambung Desy merasa jika apa yang di katakannya adalah hal wajar yang biasa di katakan orang saat meminta bantuan dan mendapatkan bantuan dari orang lain.


"Kamu benar, hanya saja tadi asistenku dan tugas dia memang menuruti perintahku karena aku membayarnya untuk itu," Huda menjelaskan siapa laki-laki yang tadi dia suruh.


"Mau asisten atau siapapun kita wajib mengatakan terima kasih saat mendapatkan bantuan dari mereka dan meminta maaf saat merepotkannya, karena bagaimanapun mereka juga manusia sama seperti kita dan memiliki hak yang sama seperti kita." Jelas Desy membuat Huda semakin tertarik dengan gadis yang saat ini duduk di jok belakang mobil yang di kemudikannya.


Suasana menjadi hening setelah penjelasan dari Desy, tak ada satu orangpun yang mengeluarkan kata-kata hingga mobil sampai di halaman ndalem rumah Umik.


Desy langsung turun setelah mobil berhenti, diikuti Shinta dan Huda yang ikut turun membantu Desy menurunkan barang yang tadi di beli oleh ketiganya.


"Lumayan banyak juga ya barangnya," ucap Shinta yang mengambil dua kantong plastik berukuran sedang.


"Namanya juga mau ngadain resepsi Shin, pasti ada banyak barang yang di butuhkan biar acaranya lancar." Jawab Desy.


Semua barang sudah masuk ke dalam ndalem Umik yang di bantu oleh beberapa santri lain yang kebetulan lewat.


"Desy!" panggil Huda saat semua sudah di bawa ke dapur.


Kini Huda dan Desy berada di dapur dengan jarak lumayan dekat, dengan nada pelan Huda memanggil Desy yang baru saja selesai menata barang belanjaannya.


"Ada apa Mas Huda?" sahut Desy berjalan semakin mendekat untuk mencari tahu alasan Huda memanggilnya.


"Ini untukumu, bawa ke asrama dulu! setelah itu lanjutkan pekerjaanmu di sini." Titah Huda sambil memberikan satu bungkus plastik berukuran kecil.


"Ini apa?" tanya Desy penasaran dengan isi kantong plastik yang di berikan padanya.


"Sudah kamu simpan dulu di asrama! nanti kamu juga bakal tahu apa isinya." Jawab Huda tanpa ada niat untuk memberitahu Desy apa isi kantong plastik itu.

__ADS_1


"Terima kasih ya," ujar Desy sebelum pergi meninggalkan Huda yang masih terdiam di tempat melihat kepergian Desy.


Dengan hati penuh rasa penasaran Desy berjalan menuju kamarnya dengan satu kantong plastik hitam pemberian Huda.


"Desy!" panggil Shinta yang baru keluar dari ndalem sedikit berlari menghampiri Desy yang lebih dulu berjalan keluar dari ndalem menuju kamar.


"Apa?" sahut Desy tanpa menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Tungguin! kamu main tinggal-tinggal aja," gerutu Shinta.


Tadi saat Huda memberikan kantong plastik hitam itu ke Desy posisi Shinta sedang di dalam ruang keluarga karena Umik memintanya untuk membawakan beberpa barang untuk di hias.


"Aku cuma ke kamar sebentar Shin, lagian kamu kenapa malah nyusul ke sini? bukankah seharusnya kamu bantuin Umik?" tanya Desy yang merasa aneh dengan Shinta yang seharusnya ada di ndalem malah keluar menyusulnya.


"Panggilan alam Desy, aku mau ke toilet sebentar habis ini balik lagi. Lah kamu sendiri kenapa keluar dari ndalem?" tanya Shinta yang baru sadar jika Desy juga pergi meninggalkan ndalem sama seperti dirinya.


"Bungkusan apa itu?" tanya Shinta.


"Entahlah, eh Shinta aku duluan ya, keburu di cariin Umik kalau kelamaan, lagian kamu mau ke kamar mandi Kan, jadi kita tidak searah." Pamit Desy sedikit berlari menghindari Shinta yang terlihat sudah siap dengan berjuta pertanyaan di benaknya.


"Dasar Desy, sukanya menghindar, padahal aku masih belum selesai nanya," gerutu Shinta berjalan ke arah yang berbeda dengan Desy.


"Syukurlah," ujar Desy yang merasa lega karena dia bisa menghindari Shinta dengan sejuta pertanyaan di benaknya.


Setelah sampai Desy langsung membuka isi dari kantong plastik yang di berikan padanya, betapa terkejutnya Desy melihat satu menu makanan yang sama persis seperti yang tadi dia makan di warung.


"Kenapa Aku juga di bungkusin makanan ini? " tanya Shinta heran saat melihat isi dari kantong pelastik yang beri oleh Huda.

__ADS_1


Satu porsi makanan yang tadi di makan ada dalam kantong pelastik yang di berikan oleh Huda membuat Desy bingung, apa maksud dari Huda membelikannya makanan lagi sedang dirinya sudah makan bersamanya sebelumnya.


Tanpa banyak berfikir lagi Desy melangkah menuju ndalem di mana Huda berada tadi setelah menyimpan makanan yang di belikan olehnya.


'Loh, Mas Huda ke mana?' batin Desy yang tak melihat Huda di dapur tempat tadi dia di beri kantong pelastik oleh Huda.


Keadaan dapur memang ramai dengan beberapa santri yang sedang membantu mempersiapkan acara pernikahan Hasan dan Arum besok, kini semua santri bahkan semua orang yang mengenal keluarga Hasan tahu jika Arum adalah calon menantu mereka.


Hampir seisi pesantren di buat sibuk olehnya, saat ini acara resepsi pertama yang Umik adakan segala sesuatunya harus sempurna.


"Mbak Desy!" panggil Umik.


"Iya, Umik," sahut Desy berjalan menghampiri Umik yang dia tahi sedang sibuk membantu para santri yang pintar menghias untuk membuat benda lamaran menjadi lebih indah.


"Sini Mbak! bantuin Umik menyusun bunga ini!" titah Umik.


Sebuah mukenah berhiaskan bunga-bunga telah di tata sedemikian rupa menjadi pelataran salju dengan beberapa replika bunga sakura di atasnya, sungguh hiasan yang begitu cantik nan indah.


"Masya Allah Umik, banyak sekali," spontan saja Desy berkomentar saat melihat begitu banyaknya benda lamaran yang akan di berikan kepada Arum.


Umik yang melihat ekspresi Desy dan ucapan spontannya hanya tersenyum manis ke arahnya.


"Sudah jangan terlalu di pandang! kelak kalau kamu menikah Umik yakin kamu pasti akan mendapatkan lamaran sebanyak dan sebagus ini, dan kamu akan mendapatkan laki-laki yang tepat untuk hidupmu," untaian do'a terucap dari bibir Umik yang di amini oleh Desy.


Desy yakin do'a seorang guru pasti akan di ijabah oleh yang maha kuasa, setelah mendapatkan do'a terbaik dari Umik yang notabennya gurunya sendiri, Desy langsung semangat membatu menghias barang lamaran yang akan di berikan pada Arum besok.


Seperti acara-acara sebelumnya resepsi hari pertama akan di adakan di mension milik Oma Arum baru hari kedua akan di adakan di pesantren. Rencana pernikahan yang sudah di rencanakan sejak keduanya masih kecil akhirnya terwujud, hal itu sukses membuat senyum sumringah penuh rasa bahagia terus terpancar di wajah Umik membuat aura di pesantren semakin membahagiakan.

__ADS_1


__ADS_2