Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Cerita Tentang Pengalaman Husein


__ADS_3

"Mas Husein kenapa harus melakukan hal seperti ini untuk tahu tentang gadis yang ingin Mas Husein jadikan istri?" tanya Ifan yang penasaran dengan alasan Husein memberi tes pada Zahra.


"Kau tahu Fan, di dunia ini ada banyak gadis yang bermuka dua dan Aku tak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya." jawab Zahra.


"Maksudnya Mas Husein apa ya? maaf Aku jadi tanya terus," ujar Ifan yang kini merasa sungkan untuk terus bertanya.


"Dulu, Aku pernah punya seseorang yang spesial. Cukup lama Aku menjalani hubungan yang serius, awalnya Aku berencana untuk menikahinya tapi niatku terhalang oleh restu." Husein sejenak terdiam menatap lurus ke depan mengingat semua kejadian yang telah berlalu.


"Aku yang merasa jika dia memang yang terbaik untukku terus berjuang agar restu Umik dan Abi bisa ku dapatkan, tapi apa yang Aku dapat dari perjuangan yang ku lakukan? dia berkhianat dan ternyata apa yang ku lihat juga ku ketahui tentangnya salama itu hanya sebuah topeng yang dia pakai saat bersamaku," sambung Husein sambil menatap lurus ke depan mengingat kembali masa kelam yang pernah di laluinya.


"Topeng, maksudnya gimana ya Mas?" tanya Ifan yang mulai kambuh dengan sifat keponya.


"Dia bukanlah gadis lembut nan baik seperti yang ku kenal, waktu itu Aku tak sengaja melihatnya sedang berdiri di tepi jalan sepertinya dia menunggu taxi. Saat itu Aku melihat seorang pengemis sedang meminta padanya dan betapa terkejutnya Aku ketika melihat reaksi yang di tunjukkan, bukannya memberi bantuan dia malah membentak dan menghina pengemis itu sungguh sikap yang tak pernah ku duga." Husein menceritakan kembali apa yang di alaminya.


"Dan kau tahu Fan, ternyata dia tak menunggu taxi melainkan sedang menunggu seorang pria dan betapa hancur perasaanku saat itu, seseorang yang ku yakini begitu sempurna itu langsung mencium pipi laki-laki itu tanpa ada rasa canggung kemudiam memeluknya sebelum masuk ke dalam mobil, mereka terlihat begitu mesra dan ternyata kerudung juga wajah polos tak menjadi jaminan seseorang itu memang baik." Husein kembali bercerita semua yang pernah di alaminya yang menjadi alasan Husein harus memberi test dulu pada dia yang ingin dia jadikan teman hidup.


Susana sejenak menjadi hening tak ada satu kata yang terucap dari mulut keduanya hanya keheningan yang tercipta, Husein masih saja memandang pintu butik yang terbuka dengan beberapa orang yang masuk dan keluar dari sana.


"Sebentar lagi test kedua akan ku lakukan." Ucap Husein dengan senyum yang merekah di bibirnya.


Ifan yang mendengar ucapan Husein hanya tersenyum sambil mengikuti arah pandang Husein yang terus menatap butik tanpa ada jeda.


Tak butuh waktu lama seorang laki-laki datang dengan mobil lamborgini, dia terlihat begitu tampan dan mapan gayanya begitu kekinian dengan wajah yang sungguh bisa membuat siapa saja terpesona dan terpikat olehnya.


"Test kedua di mulai." Lirih Husein yang masih bisa di dengar oleh Ifan.


Laki-laki tampan itu berjalan dengan gaya coolnya masuk ke dalam butik. Senyum menawan kini terlihat jelas di wajahnya sungguh saat ini dia tengah tebar pesona.

__ADS_1


"Permisi," ucap laki-laki itu.


"Iya ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga butik dengan senyum yang begitu menawan.


"Saya ingin bertemu pemilik butik ini," jawab laki-laki itu dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Jika Mas mau membeli baju atau gamis bisa langsung di pilih dan saya yang akan menemani." Ujar Penjaga butik yang tahu jika saat ini pemilik butik sedang sibuk.


"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan pemilik butik ini." Ujar laki-laki itu dengan senyum yang masih melekat di wajahnya.


"Baiklah, Mas silahkan tunggu di sini dulu." Sang penjaga tokoh memilih mengalah pada pelanggan yang satu ini padahal dalam hatinya dia begitu berharap bisa menemani Laki-laki tampan bak pangeran itu memilih baju.


Tok, tok, tok ....


"Permisi Mbak Zahra," ucap sang penjaga tokoh masuk ke dalam ruangan Zahra yang sibuk melukis desain baju.


"Mbak ada yang ingin bertemu dengan Mbak," ucap Penjaga butik yang ternyata bernama Mita.


"Siapa Mit?" tanya Zahra.


"Saya gak kenal Mbak, tadi orangnya sudah saya tawari supaya saya saja yang menemani tapi orangnya tidak mau," jawab Mita.


"Baiklah, Ayo kita temui orangnya." Zahra berdiri menghampiri Mita.


Keduanya berjalan beriringan menghampiri laki-laki yang sudah menunggu di kursi ruang tunggu.


"Permisi Mas," ucap Mita menegur pelanggan yang tadi meminta bertemu dengan Zahra.

__ADS_1


"Eh iya," sahut laki-laki itu berdiri dan menyimpan ponselnya di saku celana.


"Saya pemilik butik ini, ada yang bisa saya bantu?" tanya Zahra dengan senyum rama khas yang selalu terlihat di wajahnya.


"Kebetulan sekali, perkenalkan nama Saya Zidan dan saya ingin memesan satu set baju khusus untuk pernikahan saudara saya." jawab laki-laki itu yang ternyata bernama Zidan.


"Oh, silahkan ikut saya!"Zahra yang memang selalu profesional dalam mengurus butiknya mengajak Zidan untuk ikut ke ruangannya.


"Silahkan masuk!" sambung Zahra membuka pintu dan mempersilahkan Zidan masuk ke dalam ruangannya.


"Anda ingin pesan baju seperti apa?" tanya Zahra to the poin pada intinya.


"Saya ingin pesan baju seragam untuk Ibu, Adik dan saya sendiri di pakai untuk hari pernikahan sepupu saya." Jawab Zidan tegas.


"Anda ingin desain baju seperti apa? ini ada beberapa contoh baju yang di pakai untuk resepsi pernikahan," Zahra menunjukkan beberapa model baju untuk di pilih Zidan.


Zidan mengambil alih gambar desain baju yang di sodorkan oleh Zahra, dan melihat dengan teliti satu persatu desain yang terlihat begitu indah.


"Aku ingin desain yang seperti ini." Zidan menunjuk satu desain baju yang ada di gambar, baju yang terlihat begitu indah.


"Baiklah, anda bisa mengajak anggota keluarga yang lain untuk datang ke sini dan mulai mengukur baju di sini." Ucap Zahra.


"Hari minggu kita akan datang ke sini untuk mengukur ukuran bajunya. Tapi bisakah saya meminta nomor ponsel anda?" Zidan mulai menjalankan rencana yang sudah di susun olehnya dan tentunya Husein.


"Maaf, Untuk apa nomer ponsel saya?" tanya Zahra yang bingung dengan ucapan Zidan yang tiba-tiba meminta nomor ponselnya.


"Jika saya butuh perubahan atau ada halangan yang membuat saya tidak bisa datang minggu besok, saya bisa menghubungi anda." Jawaban yang sungguh tepat di ucapkan oleh Zidan.

__ADS_1


Zahra yang merasa jika alasan Zidan cukup masuk akalpun memberikan nomor ponselnya, dan apa yang di lakukan itu juga termasuk sikap profesional yang selalu dia terapkan.


__ADS_2