Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Hasan Alergi Obat


__ADS_3

"Masakan Mbak Hana memang enak tapi yang bikin lebih enak dan lezat itu karena kamu yang nyuapin Syei'." Tutur Hasan.


Arum yang mendengar bait gombalan yang biasa keluar dati bibir Hasan kini mencoba memeriksa suhu tubuhnya, berharap Hasan telah sembuh karena kebiasaannya mulai kembali.


"Masih panas," gumam Arum seraya menempelkan telapak tangannya ke dahi. Suhu tubuh Hasan memang masih panas meski tak sepanas sebelumnya tapi tetap saja suhu tubuhnya belum normal.


"Abi, jika besok pagi suhu tubuhnya belum turun juga kita ke dokter ya." Ajak Arum dengan ekspresi wajah cemasnya.


"Tidak usah, Abi akan sehat besok jika kamu terus nemenin Abi." Jawaban yang tak di harapkan muncul dari bibir Hasan yang sukses membuat Arum sedikit jengkel.


"Kenapa Abi tidak mau ke dokter? apa Abi suka sakit seperti ini atau Abi emang mau sakit gini terus biar resepsinya batal?" sergah Arum dengan emosi yang sedikit meletup-meletup.


Selain cemas dengan kondisi Hasan, Arum juga merasa bingung dengan keadaan Hasan yang sakit, pasalnya resepsi pernikahan mereka tinggal menunggu hari, sebenarnya besok pagi Arum berencana untuk pulang dan kembali ke pesantren lusa sebagai pengantin Hasan, tapi apa yang di rencanakan tak sesuai dengan apa yang terjadi.


Arum harus tetap di pesantren karena Hasan yang tiba-tiba sakit, malam tadi adalah malam perpisahannya bersama Desy dan Shinta, karena setelah resepsi Arum harus tinggal di rumah Hasan, meski jarak rumah Hasan dan asrama tak terlalu jauh tetap saja akan terasa berbeda karena Arum tak lagi tidur di kamar yang biasa dia tempati bersama Desy dan Shinta.


"Jangan bilang sepeti itu! Abi adalah orang yang paling menunggu hari resepsi itu datang, dan Abi juga orang yang paling bersemangat untuk menyiapkan segalanya. Tapi Abi punya satu kekurangan yang belum Abi ceritakan padamu." Hasan yang awalnya ingin merahasiakan kekurangan yang dia miliki sejak kecil mengurungkan niatnya, melihat emosi dan pemikiran buruk Arum tentang dirinya membuat Hasan mengubah niatnya itu.


"Kekurangan apa Abi?" tanya Arum dengan ekspresi penasaran yang membuat Hasan semakin yakin untuk menceritakannya.


Hasan perlahan berdiri meski terlihat masih lemah tapi Arum tak bisa mencegahnya, dia hanya ikut berdiri dan membimbing langkah Hasan menuju sebuah laci kecil di meja tempat biasa Hasan menyelesaikan sebagian pekerjaannya.

__ADS_1


Hasan mengambil selembar kertas foto copy yang ada di dalam map kemudian kembali berjalan ke atas ranjang dan memberikan kertas yang tadi di ambilnya kepada Arum.


"Lihat dan bacalah! Abi punya satu kelemahan yang juga menjadi kekurangan. Dan hal itu tak bisa di obati ataupun di lengkapi." Ujar Hasan menundukkan kepala tanda jika dirinya sedang merasa tak berguna dengan kekurangan yang dia miliki.


"Alergi semua jenis obat," lirih Arum seraya membaca keterangan yang di tulis oleh dokter di atas kertas yang sekarang dia pegang.


"Abi ini serius?" Arum yang masih belum percaya dengan apa yang dia lihat kembali bertanya.


"Kertas itu di berikan bukan tanpa alasan Syei' dan semua yang kalu lihat memang benar adanya. Saat ini kamu sudah tahu semua tentangku juga termasuk kekurangan yang Aku miliki, bagaimana Syei'? apa kamu masih mau menerimaku atau tidak?" kini giliran Hasan yang bertanya.


"Aku menerimamu apa adanya Bi, baik dan buruknya ku terima semuanya. Begitupun dengan kekurangan dan kelebihanmu, bagaimanapun Abi hanya manusia biasa begitu juga denganku, mungkin saat ini kekurangan yang ku miliki tak bisa terlihat, tapi percayalah Bi! jika aku juga sama sepertimu. Aku juga memiliki kekurangan yang kelak pasti akan kamu ketahui." Panjang lebar Arum menjelaskan apa yang di rasakan oleh dirinya dan Hasan hanya bisa menerima semua yang di katakan Arum dengan seutas senyum yang membuat Arum lega, karena senyum itu sudah memberi tanda jika Hasan bisa menerima segalanya.


"Mari saling melengkapi dan menjaga, menjalin sebuah hubungan yang berdasarkan ikatan suci sebuah pernikahan." Ujar Hasan merentangkan tangan memberi tanda jika Arum bisa memeluknya.


"Aku masih awwam dalam agama Bi, maka tuntun dan bimbing aku menuju syurganya. Mari kita sama-sama melangkah menuju ridho yang akan membawa kita menuju kebahagiaan yang abadi." Seru Arum yang berada dalam pelukan Hasan.


"Aku akan menuntunmu Syei'. Tapi ingat satu hal aku tetaplah manusia biasa yang pasti akan melakukan sejuta kesalahan yang mungkin ku sengaja atau tidak. Maka ingatkan aku jika kesalahan itu ku perbuat, jadilah orang pertama yang akan menegurku saat aku melakukan kesalahan." Sahut Hasan.


Malam ini bukan hanya malam yang penuh kesedihan karena Hasan yang sakit dan kenyataan jika Hasan tak bisa minum obat. Apapun jenis obatnya karena alergi yang dia miliki tergolong alergi berat yang bisa mengancam nyawa, tapi malam ini adalah malam penuh janji di mana keduanya telah berjanji untuk saling menerima dan mengingatkan satu sama lain.


"Aku mencintaimu Syei'." Ungkapan perasaan Hasan yang baru saja terdengar di telinga Arum cukup membuatnya terkejut dan bingung, Arum terkejut karena apa yang dia dengar itu pernyataan cinta yang pertama kali di dengar oleh Arum dan sekarang Arum juga bingung harus menanggapinya seperti apa, haruskah dia diam atau membalas pernyataan cinta Hasan.

__ADS_1


"Syei'! kenapa kamu diam?" Hasan yang merasa tak mendapat respon kembali bertanya.


"Emm, iya Abi," sahut Arum.


"Iya apa? kenapa gak balas ucapan Abi barusan?" Hasan terus saja mendesak Arum agar mau menjawab pernyataan cinta yang dia ajukan.


"Aku masih bingung harus jawab apa Bi, maaf," Arum memang merasa begitu bingung dengan perasaannya sendiri, semua bukan karena Arum memiliki tambatan hati lain atau masih mencintai Huda, dia hanya bingung mengartikan apa yang dia rasakan saat ini.


"Kenapa bingung? apa kamu masih memiliki rasa pada sepupuku?" Hasan mencoba menelisik ke dalam hati Arum.


"Enggaklah Bi, aku sudah tak memiliki rasa apapun padanya. Hanya saja saat ini Aku masih bingung dengan apa yang aku rasakan, dan ku harap Abi bisa bersabar menungguku hingga aku benar-benar jatuh hati padamu." Tegas Arum.


Hasan sangat mengerti dengan posisi dan apa yang di rasakan olrh Arum, meski sebenarnya terbesit secuil rasa kecewa dalam hatinya tapi Hasan berusaha memperbesar sabarnya, mencoba memahami setiap hal yangArum rasakan.


"Aku akan menunggumu hingga kamu benar-benar jatuh ke dalam pesonaku. Tapi apa boleh aku meminta satu hal padamu?" tanya Hasan.


"Abi mau minta apa?" Arum mengurai pelukannya dan duduk tepat di hadapan Hasan dengan kaki yang maaih menggelantung dan berpijak di lantai.


"Abi minta kamu belajar menerimaku dan menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri seutuhnya," jawab Hasan.


Permintaan yang terdengar simple dan sederhana, tapi percayalah permintaan itu memiliki banyak makna yang bercabang-cabang.

__ADS_1


"Insya Allah Bi, Arum akan berusaha memenuhi semua kewajibanku. Dan aku harap Abi juga bisa memenuhi kewajiban Abi sebagai seorang imam," Jawaban Aeum membuat senyum Hasan semakin merekah.


"Pasti Syei', aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu." Hasan perlahan mendekat ke arah Arum.


__ADS_2