Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Rencana Memgajak Zahra jalan


__ADS_3

"Ayo jalan Fan!" ajak Husein setelah sampai di halaman. Terlihat Ifan sedang duduk di depan mobil Husein yang masih menyala, sepertinya Ifan masih memanasi mesin mobil.


"Kita mau ke mana Mas Husein?" tanua Ifan saat keduanya sudah masuk dan duduk di dalam mobil.


"Kita pergi ke rumah Zahra!" titah Husein dengan wajaj yang terlihat berseri menatap lurus ke arah depan.


~


Zahra yang baru saja selesai mendapat pesan jika Husein yang kini sudah menjadi calon suaminya akan datang langsung beranjak masuk ke dalam kamar mandi setelah meraih handuk yang tergantung cantik di dalam lemari.


Hati Zahra begitu senang karena hari ini dia akan pergi jalan-jalan dengan seseorang yang cukup spesial di hatinya, dan hal ini adalah pengalaman pertama Zahra. Sebelumnya Zahra tidak pernah memiliki hubungan lebih dengan lawan jenisnya meski tak di pungkiri dia sempat menyukai seorang laki-laki yang satu sekolah dengannya tapi Zahra selalu menolak untuk berpacaran karena dia takut berdosa dan melanggar janjinya pada kedua orang tuanya untuk tidak berpacaran.


Zahra memilih baju yang menurutnya paling baik dan bagus untuk di pakai bertemu dengan Husein agar terlihat cantik dan anggun saat nanti bertemu dengan Husein. Zahra berputar-putar di depan cermin besar seukuran dengan tubuhnya melihat penampilannya sudah sempurna atau belum, Zahra masih saja betah berdiri di depan cermin hingga suara deru mobil mengalihkan perhatiannya.


"Mungkin Mas Husein sudah datang," gumam Zahra yang sekali lagi merapikan kerudungnya kemudian berjalan keluar kamar berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu.


"Wahh anak Mama cantik sekali mau ke mana?" sapa Rina saat melihat anak gadisnya sudah cantik dan rapi baru turun dari tangga.


"Gak mau ke mana-mana kok Ma, cuma pengen tampil rapi aja," jawab Zahra yang tak berniat untuk berbohong tapi dia masih belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Tumben amat, biasanya juga suka pakai daster kebesaran kayak emak-emak komplek," sahut Rina yang begitu mengerti dengan style putrinya saat berada di rumah.


Zahra memang selalu berpenampilan rapi, modis dan anggun saat keluar rumah atau berpergian bersama teman-temannya, tapi Zahra sangat menyukai daster yang biasa di pakai emak-emak komplek saat berada di rumah, dia selalu merasa jika daster adalah baju ternyaman yang pernah dia pakai.


"Harusnya Mama seneng donk kalau anaknya tampil cantik kayak gini, biar selalu stylish," ujar Zahra.


"Halah ngapain stylish kalau ujung-ujungnya cuma ke main ke dapur," sahut Rina.

__ADS_1


"Isshh Mama, nyebelin deh," keluh Zahra yang langsung melenggang pergi meninggalkan Rina masuk ke dalam dapur bersamaan dengan bel yang berbunyi di ruang tamu.


"Bik!" panggil Rina.


"Iya, Nyonya," secepat kilat Asisten rumah tangga Rina menghampirinya dengan senyum ramah yang selalu nampak di wajahnya.


"Ada tamu, tolong bukain pintu!" pinta Rina yang kini melangkah menuju ruang keluarga untuk mengambil ponselnya yang sejak tadi di tinggal di sana.


"Baik, Nyonya," jawab sang Asisten rumah tangga yang langsung berjalan menuju ruang tamu melihat siapa yang datang.


'Ceklek'


"Den Husein," seru sang asisten rumah tangga saat melihat Husein sudah berdiri di depan pintu dengan Ifan yang juga ikut berdiri di sampingnya.


"Zahranya ada Bik?" tanya Husein.


"Terima kasih Bik," ujar Husein melangkah masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di kursi yang sudah ada di sana.


"Siapa Bik?" tanya Rina yang baru saja sampai di ruang tamu setelah mengambil ponselnya di ruang keluarga.


"Den Husein Nyonya," jawab sang Asisten rumah tangga seraya berjalan menghampiri sang majikan yang berdiri di pembatas ruangan.


"Oh, panggilkan Zahra! biar sekarang aku yang menemaninya," titah Rina berjalan mendekat ke arah ruang tamu di mana Husein dan Ifan sudah duduk dengan manisnya.


'Pantas saja Zahra berdandan cantik, rupanya ada Husein yang mau datang,' batin Rina merasa heran dengan puterinya yang tak mau berbicara yang sebenarnya saja tadi saat dia bertanya.


"Mama," lirih Husein langsung berdiri meraih tangan Rina dan mencium punggung tangannya dan di ikuti oleh Ifan yang melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Tumben main ke rumah ada acara apa, Nak?" pertanyaan pertama yang muncul dari bibir Rina membuat Husein bingung, padahal pertanyaan yang di ajukan adalah pertanyaan simple yang seharusnya mudah untuk di jawab.


"Tidak ada acara apa-apa Ma, saya hanya mau mengajak Zahra jalan-jalan bersama Ifan." Jawab Husein jujur, meski dia tahu jika jawabannya bisa saja membuat Rina tak mengizinkan dirinya untuk pergi karena tak ada hal penting yang mendesak mereka untuk pergi Husein tetap saja berkata jujur pada Rina, karena bagi Husein kejujuran adalah hal paling terkuat untuk di pegang.


"Memangnya kalian mau jalan ke mana?" Mama Rina yang sejak kecil tak pernah mengizinkan Zahra pergi untuk bermain dengan sembarang orang apalagi dengan seorang laki-laki kecuali jika Zahra perginya bersama Zein kini mulai mengintrogasi Husein.


"Rencananya saya mau mengajak Zahra ke danau Ma." Husein kembali menjawab pertanyaan Rina dengan jujur.


"Kenapa perginya tidak sekalian bareng Zein?" senjata paling ampuh yang selalu di gunakan Rina setiap kali ada teman Zajra yang mau mengajaknya pergi.


"Apa Zein ada di rumah Ma?" tanya Husein merasa heran karena sebelumnya dia sudah menghubungi Zein untuk ikut serta tapi ponsel sahabatnya itu malah tak aktif.


"Ada, dia sedang tidur di kamarnya." Jawab Rina dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Sebenarnya tadi saya juga mau mengajak Zein, tapi ponselnya gak aktif, jadi saya urungkan niat itu." Husein kembali mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Saat keduanya terlibat obrolan sengit mirip dengan polisi yang mengintrogasi seseorang yang terkena razia.


"Di minum dulu kopinya." Ucap Zahra yang baru saja masuk dengan satu nampan yang di isi dengan dua gelas kopi dan dua toples makanan ringan lengkap dengan teh hangat yang sengaja dia buat untuk Rina yang juga ikut duduk di sana.


"Zahra, sini Sayang!" panggil Rina sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya


"Iya, Ma," sahut Zahra berjalan mendekat dan duduk tepat di samping Rina setelah mendapat perintah darinya.


"Apa kamu sudah tahu jika Husein akan datang dan mengajakmu pergi?" kini giliran Zahra yang mendapat berbagai pertanyaan yang mungkin aka membuatnya berada dalam hal yang sudah pasti bisa menyulitkannya.


"Maaf Ma, Zahra sudah mengetahuinya tadi," jawab Zahra sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


"Pantas saja kamu sudah rapi seperti ini, Bibik!" sahut Rina sambil memanggil sang asisten rumah tangga agar segera datang menemuinya.


__ADS_2