Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Memberitahu Umik


__ADS_3

Pelan tapi pasti Hasan mengangkat tubuh Arum dan memindahkannya ke kamar Hasan yang dulu ada di rumah Umik, Hasan terlanjur memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah Umik jadi akan sangat sulit untuk membawanya ke rumah mereka sendiri.


"Arum kenapa, Nak?" sambut Umik yang baru saja keluar dari dapur, beliau begitu terkejut saat melihat Arum di bopong oleh Hasan.


Umik langsung berjalan cepat dan tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya mengambil minyak kayu putih mengira jika saat ini Arum sedang pingsan, ini pertama kalinya Umik melihat Arum di gendong dengan keadaan mata tertutup, Hasan juga tak menjawab pertanyaan Umik membuat rasa panik keluar dalam dirinya.


"Hasan, apa yang terjadi?" Umik langsung masuk ke dalam kamar berjalan mendekat ke arah Hasan yang baru saja selesai merebahkan tubuh Arum yang masih saja terlelap dalam mimpi tak terusik meski Hasan susah menggendong dan memindahkannya.


"Ssst, umik ikut aku sekarang!" ajak Hasan dengan satu tangan telunjuk di tempelkan di bibir sebagai tanda jika Umik tak boleh berisik karena takut mengganggu Arum yang sedang tidur.


Umik yang mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh Hasan hanya bisa ikut tanpa bisa mengeluarkan suara protes ataupun tanya lagi.


"Katakan ada apa sebenarnya Hasan!" desak Umik.


"Umik tunggu Hasan di ruang keluarga! ada sesuatu yang ingin Hasan tunjukkan pada Umik." Pinta Hasan yang di angguki Umik sebagai jawaban.


Setelah mendapat anggukan dari Umik Hasan berjalan keluar rumah menuju halaman untuk mengambil buku kehamilan yang tadi di berikan oleh dokter beserta tas selempang Arum yang tertinggal di mobil.


"Umik," lirih Hasan seraya memberikan buku kehamilan yang baru saja dia ambil.


"Apa ini Hasan?" tanya Umik dengan ekspresi bingung, pasalnya Hasan memberikan buku kehamilan tanpa menjelaskan apapun padanya.


"Ini buku milik Arum Umik," jawab Hasan.

__ADS_1


"Milik Arum? apa Arum sedang ~" suara Umik tak lagi terdengar karena saat ini dia sedang terkejut dengan apa yang di beritahukan oleh Hasan yang sedang mengangguk seolah mengerti kata apa yang akan di ucapkan selanjutnya oleh Umik.


"Alhamdulillah ya Allah," sedetik kemudian Umik langsung sujud syukur mengetahui jika dirinya sebentar lagi akan menjadi nenek dan memiliki seorang cucu, hatinya begitu bahagia dan wajahnya begitu berbinar.


"Hasan, sejak kapan Arum hamil? dan sudah berapa bulan usianya? apa bayinya sehat? laki-laki atau perempuan?" Umik sungguh membuat Hasan bingung dengan rentetan pertanyaan yang keluar dari bibir sang Umik.


"Umik, kalau nanya satu-satu dulu, Hasan bingung mau jawab yang mana? lagi pula laki-laki atau perempuan Hasan masih belum tahu karena usia kandungan Arum masih tiga minggu Umik," jawab Hasan menyadarkan Umik yang bertanya terlalu jauh.


"Astaghfirullah, maaf Umik lupa, saking senangnya Umik jadi nanya yang enggak-enggaj," ujar Umik.


"Umik tidak perlu sampai meminta maaf seperti itu, aku justru senang melihat respon Umik yang begitu bahagia mendengar Hasan akan memiliki anak," Hasan tersenyum manis ke arah Umik.


"Kamu ini bagaimana Hasan? orang tua mana yang tidak bahagia mendengar anaknya mau punya seorang anak yang artinya dia akan menjadi nenek, dan Umik begitu bahagia karenanya." Umik menepuk pelan lengan Hasan merasa jika puteranya ini berbicara yang aneh.


Dengan penuh semangat dan rasa bahagia Umik membuka buku yang ada di tangannya, melihat setiap laporan pemeriksaan sang dokter di sana, Umik tak lupa melihat foto hasil usg yang tertempel rapi di dalam buku.


"Kamu harus bisa menjaga Ibu dan anaknya baik-baik Hasan, ingatlah jangan sampai menyakiti mereka! perubahan apapun atau keinginan apapun yang Arum minta harua kamu penuhi dengan kesabaran yang tinggi, karena Arum saat hamil mungkin akan berbeda dengan Arum sebelum hamil." Umik mengingatkan Hasan dengan apa yang akan terjadi karena dulu dia juga mengalami hal yang aneh dan berbeda saat hamil.


"Hasan mengerti Umik, dan Hasan akan berusaha untuk tetap sabar menghadapi Arum apapun yang terjadi." Tegas Hasan.


"Bagus, kalau kamu sudah mengerti berarti kamu sudah siap menjafi seorang Ayah." Ujar Umik.


Saat keduanya tengah sibuk mengobrol tentang kehamilan Arum dan segala perubahan yang pernah Umik alami saat mengandung Hasan dan Husein terdengar suara Arum muntah dari kamar mandi, suara Arum terdengar sampai ke ruang keluarga karena pintu kamar Hasan sengaja tak di tutup rapat dengan tujuan Hasan bisa memantau Arum dari ruang keluarga yang kebetulan tak tetlalu jauh dari kamar Hasan.

__ADS_1


"Umik, Hasan pergi dulu. Sepertinya Arum bangun dan muntah-muntah di kamar," pamit Hasan berjalan cepat masuk ke salam kamar tanpa menunggu jawaban dari sang Umik.


"Syei', apa kamu baik-baik saja?" tanya Hasan masuk ke dalam kamar mandi dan betapa terkejutnya dia saat melihat Arum mengeluarkan semua yang tadi dia makan bersama Hasan.


"Abi, keluarlah! aku tidak apa-apa," pinta Arum yang khawatir jika Hasan jijik melihat apa yang ada di depannya. Bukannya keluar atau jijik Hasan justru mengambil gayung dan menyiram semua yang ada di depannya hingga bersih.


"Apa masih terasa mual?" tanya Hasan tak memperdulikan permintaan Arum yang memintanya pergi.


"Sudah lebih baik Bi, tapi badanku lemes," jawab Arum.


Mendengar Arum berkata jika badannya terasa lemas Hasan langsung mengambil inisiatif, dia mencuci wajah, tangan dan kaki Arum kemudian menggendong Arum dan membawanya ke atas tempat tidur di mana tadi dia berbaring, sedang Arum yang merasa lemas tak mampu lagimenolak, dia hanya bisa diam dan menerima setiap perlakuan Hasan yang semakin membuatnya jatuh hati.


"Terima kasih Bi," tutur Arum.


"Tidak usah berterima kasih, kamu istriku san apapun yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku," jawab Hasan lembut sembari mencium kening Arum.


"Hasan, apa yang terjadi pada Arum?" tanya Umik dengan ekspresi wajah yang panik.


"Arum baru saja mengeluarkan semua yang dia makan Umik," jawab Hasan.


"Kalau begitu tunggu sebentar! biar Umik suruh Hana beli susu. Arum suka susu rasa apa?" tanya Umik sebelum meninggalkan kamar.


"Arum terserah Umik saja, asal jangan susu sapi, Arum mual dengan baunya," jawab Arum.

__ADS_1


"Tapi tidak usah Umik, Arum baik-baik saja kok," sambung Arum merasa tak enak hati jika harus merepotkan Umik yang notabennya mertuanya sendiri.


"Sudahlah, kamu istirahat saja! Umim tinggal dulu dan Kamu Hasan cepat ke dapur ambilkan buah-buahan di sana untuk Arum." Titah Umik sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan keduanya menuju dapur di mana Hana berada.


__ADS_2