
"Arum mengerti Bunda," ujar Arum.
"Sudah sekarang buatkan kopi untuk Suamimu. Setelah itu bantu Bunda menyiapkan makanan." Titah Bunda yang langsung melenggang pergi meninggalkan Arum di dapur setelah memberi wejangan di pagi hari.
Arum yang kini sendirian di dapur juga melakukan hal yang sama setelah membuat kopi untuk Hasan sang suami, dia kembali masuk ke dalam kamar mencari suaminya yang tadi berada di sana saat Arum pergi.
"Abi!" panggil Arum.
"Iya, Syei'," sahut Hasan yang duduk di balkon kamar dengan laptop di hadapannya.
"Ini kopinya Bi." Arum memberikan satu cangkir kopi yang tadi telah dia buat.
"Wah perhatian sekali istriku ini, Abi jadi makin Sayang," celetuk Hasan sembari mengerlingkan sebelah mata menggoda Arum.
"Ishhh Abi pagi-pagi udah gombal aja," seru Arum menutupi rasa senangnya, entah mengapa dia merasa senang saat Hasan memuji atau menggombal padanya, padahal sebelum menikah Arum sangat benci dengan laki-laki yang suka menggombal.
"Gombalin istri sendiri gak apa-apa kan?" ujar Hasan sembari menaik turunkan alisnya.
"Sudah jangan gombal terus! mendingan Abi cobain kopi buatanku." Arum yang tak ingin Hasan sampai tahu jika dirinya tengah salah tingkah, karena gombalan yang di lontarkan oleh Hasan mencoba mengalihkan pembicaraan dan meminta Hasan untuk meminum kopi yang telah dia buatkan.
"emmmmm," gumam Hasan sembari menyeruput kopi yang di bawa oleh Arum.
"Gimana rasanya Bi? enak gak?" tanya Arum dengan wajah antusias menunggu jawaban.
Bukannya menjawab Hasan malah menatap lekat ke arah Arum sambil meminum kopi yang di bawa oleh istrinya tadi secara perlahan.
"Bi, kok diem sih?" Arum yang merasa jika Hasan tak memberi respon hanya diam menatapnya mulai merasa sedikit jengkel.
"Manis," ucap Hasan.
__ADS_1
"Abi serius itu manis?" Arum yang tahu ukuran kopi yang telah dia buat dan mengira-ngira bagaimana rasanya kembali bertanya.
"Serius!" sahut Hasan.
"Memangnya kapan Abi pernah bohong sama kamu?" sambung Hasan yang masih saja menatap Arum tanpa berpaling.
"Tapi ukuran kopi sama gulanya gak imbang Bi," ujar Arum.
"Kamu tahu kenapa kopi ini terasa begitu manis?" Hasan kembali memberi pertanyaan pada Arum.
"Enggak, memangnya kenapa Bi?" Arum yang terlalu polos terus saja bertanya tanpa tahu arah pembicaraan Hasan.
"Kopi ini terasa begitu manis karena kamu yang buat. Dan terasa semakin manis saat Aku minum sambil melihat wajahmu." Ucapan Hasan sungguh membuat Arum salah tingkah, entah mengapa sejak Hasan telah sah menjadi suaminya, Hasan menjadi sosok laki-laki yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Arum yang mendapat gombalan di pagi buta langsung berdiri hendak pergi karena Arum tak ingin Hasan tahu jika dirinya sedang salah tingkah.
"Aaaahhhkhh," teriak Arum saat kakinya tak sengaja tersandung oleh kaki kursi, untung saja Hasan yang sigap langsung menangkap Arum yang hampir terjatuh ke lantai.
"Ada apa? kenapa teriak?" suara Bunda Fia mengejutkan Arum dan Hasan yang masih berada di posisi yang tak seharusnya di lihat oleh Bunda Fia.
Hasan dan Arum yang masih saling menatap satu sama lain langsung menjauhkan diri dan salah tingkah ketika mendengar teriakan Bunda Fia yang menerobos masuk ke dalam kamar.
"Eh, i~ini Arum terpeleset dan mau jatuh, jadi Hasan nolongin dia." Jawab Hasan dengan nada gugup karena Bunda Fia sedang melihatnya dalam posisi yang cukup memalukan untuk di lihat.
"Maaf Bunda jadi ganggu, tadi Bunda fikir ada apa? dengar teriakan Arum Bunda langsung ke sini jadi lupa kalau sekarang ada kamu yang jagain Arum. Kalau gitu Bunda pergi dulu." Ujar Bunda Fia yang juga salah tingkah karena masuk ke dalam kamar Arum di waktu yang tidak tepat. Dengan langkah lebar Bunda Fia pergi meninggalkan kamar Arum dan menutup kembali pintu kamarnya.
Arum hanya terdiam menunduk malu setelah kepergian sang Bunda, sedang Hasan merasa sedikit jengkel karena tak berhasil merasakan bibir indah merah alami milik istrinya, Husein kembali menahan hasratnya demi cinta yang dia sendiri tak tahu sudah ia dapatkan atau belum.
"Kamu mau ke mana?" tanya Hasan saat melihat Arum berjalan mendekat ke arah pintu.
__ADS_1
"A~Aku mau bantu Bunda masak Bi, apa ada sesuatu yang bisa ku bantu?" jawab Arum sambil menunduk malu.
"Tidak, pergilah!" Hasan yang melihat wajah merah merona sang istri karena malu akhirnya tersenyum menyisihkan rasa jengkel yang tadi sempat singgah.
Arum yang mendengar jawaban Hasan bergegas pergi menuju dapur meninggalkan Hasan sendiri dengan laptop di hadapannya.
"Hampir saja," lirih Hasan sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya perlahan sembari menatap langit yang cukup cerah dengan udara sejuk menerpa tubuhnya.
Hasan harus mengumpulkan lebih banyak kesabaran untuk menghadapi Arum dan meraih Cinta di hatinya, jika Hasan sedang mengumpulkan kesabaran maka Arum sedang berjuang belajar memasak untuk menyenangkan Hasan.
"Kita masak apa sekarang Bun?" tanya Arum sesaat setelah sampai di dapur.
"Kita masak Cumi asem manis, tempe goreng, oseng kangkung dan Ayam bakar." Jawab Bunda Fia.
"Kenapa Bunda sendirian? Bibik ke mana?" Arum celingukan mencari Bibik yang biasa memasak di dapur.
"Bibik nemenin Oma pergi ke rumah Oma Asri," jawab Bunda Fia. Oma Asri adalah Adik kandung Omanya Arum.
"Oh," Arum yang mendengar jawaban Bunda Fia hanya bisa ber 'O' riya.
"Sudah jangan tanya terus! lebih baik kamu bantu Bunda masak." Ujar Bunda Fia memberikan dua ikat sayur kangkung dan memberikannya pada Arum.
"Idihh yang udah nikah, pagi-pagi udah ada di dapur." Goda Steve yang baru saja masuk ke dalam dapur hendak mengambil air minum di lemari es.
"Emang kenapa kalau pagi-pagi sudah ada di dapur?" sahut Arum sambil meneruskan memotong sayur.
"Gak apa-apa, malah bagus kalau kamu di dapur Dek, biar besok gak usah memperkerjakan Bibik. Jadi hemat pengeluaran," Jawab Steve dengan kekehan yang terdengar menjengkelkan di telinga Arum.
"Isshh Kakak fikir Aku pembantu apa? Aku bantuin masak bukan berarti harus mecat Bibik kali,"Protes Arum sambil melempar satu potong sayur kangkung yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Yang kau lempar itu makanan Dek, mubazir tahu di buang-buang." Ujar Steve yang langsung pergi meninggalkan Arum yang terlihat masih jengkel sebelum Arum akan semakin marah jika dia terus menggodanya.