Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kebijaksanaan Hasan


__ADS_3

Ucapan Arum sungguh membuat semua orang yang ada di ruangan itu bernafas lega, ketegangan yang sejak tadi tercipta kini berubah jadi senyum bahagia, begitupun ekspresi wajah Hasan yang sejak tadi sudah kusut seperti baju belum di setrika kini mulai terlihat lega juga bahagia.


"Alhamdulillah," ungkapan rasa syukur yang keluar dari mulut Hasan membuat senyum terbit di bibir semua anggota keluarga.


"Apa Umik bersedia memasangkan cincin ini di jemari Arum sebagai tanda jika dia sudah terikat denganku?" Hasan yang sudah mengerti alasan Arum menyembunyikan tangannya langsung meminta Umik untuk memasangkan cincin di jari manis Arum.


"Tentu saja Umik bersedia,"jawaban yang sungguh membuat Hasan merasa semakin bahagia.


"Arum, apa kamu bersedia menjadi istri Hasan dan menantu Umik?" pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu di tanyakan keluar dari bibir manis Umik.


"Arum bersedia Umik," jawaban yang sejak tadi di tunggu-tunggu akhirnya terdengar juga, dengan perlahan Umik memasangkan cincin di jari manis Arum membuat kebahagiaan Hasan semakin membuncah.


'Selamat ya Kak, kamu sudah berhasil mendapatkan cinta pertamamu, semoga kamu bahagia,' Husein membatin, ingatannya kembali pada kejadian masa lalu yang membekas dalam hati.


Flashback Off ....


Waktu itu Hasan masih berusia remaja, dia yang gemar menyendiri tengah asyik menatap sebuah foto yang terbingkai indah di tangannya.


Foto seorang gadis kecil yang membelakangi kamera, Hasan terus saja menatap lekat ke arah foto tersebut.


"Kamu lagi ngapain Kak?" tegur Husein yang melihat sang kakak terdiam menatap foto yang menurutnya tak jelas, karena foto yang sedang di pandang oleh Hasan sama sekali tak terlihat wajahnya, yang tampak hanya punggung dan rambutnya yang tergerai indah seperti tertiup angin.


"Kamu ganggu aja, ada apa?" Hasan yang mendengar teguran Husein langsung menyembunyikan bingkai foto yang dia pandang.


"Aku mau ngajak main, tapi Kakak jawab dulu itu foto siapa?" Husein yang memang memiliki sifat pemaksa tak bisa diam sebelum rasa penasaran dan pertanyaannya mendapat sebuah jawaban.


Hasan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan, mengingat sifat sang Adik Hasan tak bisa mengelak dan mencari topik lain selain menjawab pertanyaan Husein.

__ADS_1


"Dia gadis yanh sejak dulu mengisi hatiku, meski umurku masih terlalu kecil untuk membahas soal cinta tapi entah mengapa hatiku selalu merasakan hal yang berbeda saat berada di dekatnya," Hasan menceritakan semua yang dia rasakan tapi dia masih tetap merahasiakan siapa gadis yang dia maksud.


Semuanya hanya menjadi misteri yang tak terpecahkan hingga suatu hari Husein mengetahui siapa gadis yang telah lama menguasai hati sang Kakak.


Pagi itu Husein tengah asyik menikmati indahnya senja di balkon kamar sang kakak, Husein memang memiliki kebebasan untuk keluar masuk kamar sang Kakak sejak dulu begitupun sebaliknya.


Tapi kehadiran Husein tak di ketahui oleh Hasan yang baru saja masuk oe dalam kamar. Dia duduk di atas ranjang menatap intens sebuah foto.


"Arum, Aku tidak menyangka jika kamu kembali ke sini dan kita telah di jodohkan sejak kecil. Kau tahu Aku begitu bahagia mengetahui rencana perjodohan orang tua kita, tapi apa kau tahu Arum? saat ini Aku tengah bingung. Husein adikku juga memiliki perasaan yang sama padamu, sungguh Aku tak ingin menyakitinya tapi Aku juga tak bisa merelakanmu begitu saja. Berada di dekatmu membuatku merasakan sesuatu yang tak pernah Aku rasakan sebelumnya. Semoga saja perasaan ini akan segera hilang seiring berjalannya waktu karena Aku tidak akan sanggup bersaing dengan Adikku sendiri." Hasan terus mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya tanpa dia sadari jika ada Husein yang sedang menatap pilu ke arahnya.


Husein yang sangat mengerti dengan sifat Kakaknya itu hanya bisa menatap sendu.


'Maaf Kakak, maafkan Aku yang tak mengerti dirimu dengan baik. Meski akan terasa sulit Aku akan mengalah untukmu, Aku pasti akan menemukan Arum yang lain untuk hidupku dan Aku tidak akan berebut lagi denganmu.' Batin Husein yang kini kembali menuju balkon dan duduk di kursi tidur yang tersedia di sana.


Sejak saat itu Husein bertekad melupakan Arum dan menata hatinya, bagi Husein cinta bukan segalanya dan cinta tidak akan merusak persaudaraannya. Husein merasa jika dirinya masih bisa mencari pengganti Arum sedangkan bagi Kakaknya pasti akan sulit mencari pengganti Arum, mengingat sifat Hasan yang tertutup.


"Umik," panggil Husein.


"Iya Nak, ada apa?" sahut Umik berjalan menghampiri Husein yang sedang duduk di depan layar televisi.


"Umik ada yang ingin Aku bicarakan," jawab Husein.


"Katakanlah! ada apa?" sahut Umik.


"Umik, Aku ingin mengatakan jika Aku akan mengalah dan membiarkan Kak Hasan bersanding dengan Arum," ucapan Husein benar-benar melegakan hati Umik yang tengah bimbang.


"Apa kamu serius Nak?" Umik yang tak percaya dengan ucapan Husein menanyakan keseriusannya.

__ADS_1


"Aku serius Umik," jawab Husein begitu mantap.


"Jika Kamu merelakan Arum dengan Kakakmu terus bagaimana dengan perasaanmu Nak?" Umik kembali bertanya tentang perasaan Husein.


"Umik tenang saja, Ada banyak gadis yang mengantri untuk Aku pilih jadi, Umik tak perlu khawatir," Husein yang memang memiliki sifat sengklek kini berbicara seolah-olah dia tak merasakan sakit di hatinya.


"Alhamdulillah jika kamu bisa bersikap bijak dan dewasa, Umik sungguh bangga padamu Nak," senyum Umik langsung merekah setelah mendengar ucapan Husein.


"Umik tidak usah khawatir, Aku bukan pria lemah yang akan buta hanya karena cinta," sungguh Husein sangat pintar berakting menyembunyikan segala luka yang ada di hatinya dengan senyum bahagia.


Sejak saat itu Umik memutuskan untuk menjodohkan Hasan dengan Arum dan selalu membesarkan hati Husein yang sudah mengalah pada kakaknya.


Flashback off ....


"Om, ayo makan Aly lapar!" ajak Aly sembari menarik tangan Husein agar mau ikut dengannya.


"Mas Aly makannya sama Mbak Desy aja!" titah Syafa.


"No Mom, Aly mau sama Om Husein." Jawab Aly tanpa bisa di bantah.


Syafa hanya bisa menghembuskan nafas kasar mengingat jika anaknya memang memiliki sifat keras kepala dan tak bisa di debat.


"Mbak Desy tolong temani Aly." Pinta Syafa.


"Baik Neng," jawab Desy yang ikut ke acara pertunangan Arum di ajak oleh Syafa untuk membantu menemani Aly yang super aktif.


"Ayo kita makan sampai kenyang!" Husein yang merasa punya hiburan untuknya mengalihkan perasaan yang masih belum bisa melupakan Arum sepenuhnya.

__ADS_1


Aly yang mendengar ajakan dati Husein langsung berjalan dengan semangatnya mengikuti langkah Husein menuju tempat makan yang sudah di sediakan oleh keluarga Arum.


__ADS_2