
'Tring'
Satu notif pesan masuk terdengar, mengusik ketenangan Zahra yang sedang duduk di balkon kamar di temani secangkir kopi susu hangat di meja bundar yang ada di hadapannya.
Senyum Zahra langsung melengkung ketika melihat siapa yang mengirim pesan padanya, seseorang yang kini perlahan mengisi relung hatinya, seseorang yang Zahra harap bisa menjadi teman, imam dan kekasih juga pelindung dalam hidupnya.
"Pagi, masa depanku,"
Kalimat manis tertulis jelas di layar ponsel Zahra yang sedang menyala, membuat senyuman muncul di bibirnya.
"Kak Husein," lirih Zahra saat melihat siapa pengirim pesan kata manis di pagi hari untuknya.
"Pagi juga,"
Balas Zahra dengan senyum yang masih setia melekat di bibirnya, aura positif yang dulu memancar kini semakin bersinar setelah melihat pesan yang di kirimkan oleh Hasan.
"Kamu lagi apa Sayang?"
Panggilan Husein kini berubah sejak mereka resmi bertunangan.
"Lagi nyantai sambil ngelihat pemandangan di pagi hari Kak,"
Balas Zahra cepat, secepat kilat Zahra membalas pesan Hasan yang menjadi penyemangatnya di pagi hari.
"Lagi nyantai di mana?"
Balas Husein membuat Zahra semakin bahagia karena perhatian dan panggilan manis sang calon suami.
"Aku lagi nyantai di balkon kamar Kak, kalau Kak Husein lagi ngapain?"
Membaca balasan Zahra yang menanyakan apa yang sedang di lakukan oleh Husein membuat Husein yang sejak tadi rebahan di atas kasur langsung duduk dengan wajah yang bahagia juga berseri-seri.
"Aku sedang mikirin kamu,"
__ADS_1
Jawaban Husein sungguh membuat Zahra heran tapi bahagia, meski terlihat jelas jika balasan dari Husein seperti seorang ABG yang sedang ngegombal pada pacarnya tetap saja Zahra merasa bahagia saat membaca pesan balasan dari Husein.
"Hari ini kamu ada acara gak?"
Husein kembali mengirim pesan untuk Zahra.
"Kebetulan tidak Kak, ada apa?"
Balas Arum.
"Bagaimana kalau kita jalan?"
Husein mengajak Zahra untuk jalan keluar rumah agar mereka bisa lebih mengenal satu sama lain.
"Boleh, asal Mama ngasih izin,"
Jawab Zahra yang sebenarnya tak pernah keluar rumah tanpa seizin orang tuanya.
Husein langsung beranjak dari tempat tidur setelah membalas pesan dari Zahra, dengan secepat kilat Husein mengambil handuk yang tergantung di pintu kamar mandi setelah membersihkan badannya.
"Akhirnya aku bisa jalan sama Zahra," gumam Husein sambil merapikan rambut dan memakai parfum favoritnya.
Tut ... tut ... tut ....
Suara nada tersambung terdengar, tapi masih belum ada yang menyahut ataupun mengangkat panggilan dari Husein hingga nada terakhir terdengar akhirnya ada sahutan dari sebrang.
"Assalamualaikum, ada apa Mas Husein?" sahut Ifan yang baru saja bangun dari tidur nyenyaknya, semalam Ifan pergi mengunjungi orang tuanya di rumah Ifan sendiri yang cukup jauh dari pesantren tempatnya tinggal.
Husein memang menyediakan kamr sendiri di pesantren putera yang di khusus kan untuk Ifan dengan harapan agar Husein mudah memanggilnya saat dia membutuhkan kehadiran Ifan.
Dan Ifan yang semula seorang santri di tempat Husein merasa bahagia dan bangga dengan karena kini sudah berbubah status menjadi asisten pribadi Husein yang notabennya pemilik pesantren.
"Kamu ada di mana?" tanya Husein.
__ADS_1
"Saya di asrama Mas Husein, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ifan yang kini sudah duduk di ranjang setelah mendapat telfon dari Husein sang majikan.
"Siapkan mobil dan antar aku!" titah Husein.
Husein yang sudah mendapat pesan dari sang bunda untuk menjaga diri dari segala hal yang bisa menimbulkan dosa ataupun zina memilih untuk pergi bertiga bersama Ifan dan Zahra agar keduanya bisa lebih menjaga diri dari hal-hal yang tidak di inginkan.
"Baik, Mas Husein," jawab Ifan singkat padat dan jelas, tanpa bertanya lagi Ifan langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi yang alhamdulillahnya juga di sediakan di dalam kamar oleh Husein.
Husein yang begitu mengerti keadaan di pesantren tak ingin Ifan terlambat atau tidak bisa gerak cepat hanya karena masalah antri untuk mandi ataupun makan, tak jarang juga Husein mengirim makanan lewat santri putera untuk di berikan pada Ifan, sungguh keadaan yang bisa membuat Ifan merasa begitu senang karenanya.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Umik saat melihat sang putera sudah bersiap pergi keluar rumah dengan dandanan yang berbeda, biasanya Husein akan memakai sarung beserta peci saat akan ke pesantren. Dan berganti dengan setelan jas saat mau mengecek keadaan bisnisnya. Husein juga biasa memakai celana jens yang di padukan dengan kaos panjang atau longgar berlengan pendek saat berpamitan ingin pergi bersama teman atau sahabatnya. Tapi penampilan Husein saat ini berbeda dari biasanya, dia memakai celana jeans yang di padukan dengan hem berlengan panjang dan di gulung lengannya sampai siku, rambutnya juga terlihay keren seperti tatanan rambut anak muda zaman sekarang di tambah sepatu snikers putih yang ada di tangannya membuat Umik penasaran dengan tujuan kepergian Husein.
"Em, anu aku mau~" Husein merasa begitu bingung dengan pertanyaan sederhana dan simple yang di ajukan oleh Umik.
"Mau ke mana?" desak Umik.
"Aku mau ke rumah Zahra Umik." Husein memang tak pernah bohong pada Umik karena dia tak biasa berbohong padanya.
"Kamu mau ngapaim ke rumah Zahra?" Umik yang tak ingin anaknya melakukan hal yang tidak baik kini mulai mengintrogasinya.
"Husein mau mengajak Zahra jalan Umik." Jawab Husein. dengan kepala tertunduk karena takut pada sang Umik.
"Jalan ke mana?" Umik terus mengintrogasi Husein.
"Rencananya Husein mau ngajak Zahra ke danau." Jujur Husein yang memang berniat untuk mengajak Zahra pergi ke danau dan mengobrol santai di sana sambil menikmati mentari pagi yang baru saja muncul.
"Jangan bawa anak orang sembarangan sebelum janur kuning melengkung! ingat Husein Umik dan Abi itu pemilik pesantren ini yang artinya kamu harus bisa menjaga sikap dan menahan diri sebelum janur kuning melengkung menghiasi rumah kita." Umik mencoba mengingatkan kembali status Husein sebagai putera pemilik pesantren yang cukup besar dan tersohor di sana.
"Aku selalu ingat itu Umik, lagi pula aku ke danau tidak cuma berdua Zahra, aku di temani Ifan yang saat ini sedang menyiapkan mobil di halaman depan." Hasan menjelaskan jika dia tidak hanya datang dan pergi berdua saja dengan Zahra.
"Sekalipun kamu hanya datang berdua. Jangan sampai tetangga Zahra berfikir yang tidak-tidak terhadap kamu dan Zahra. Hanya karena kamu dan dia sering jalan keluar bersama." Umik memberitahukan efek terburuk yang akan terjadi jika Husein terlalu sering keluar bersama Zahra.
"Aku mengerti Umik, lain kali aku gk akan ngajak Zahra jalan lagi sebelum janur kuningnya melengkung Umik."Jawab Husein kemudian mencium punggung tangan sang Umik melenggang pergi menyusul Ifan yang sudah siap di halaman.
__ADS_1