
Usai membantu sang Umik membungkus rapi semua souvenir yang akan di bagikan besok Zahra langsung berpamitan masuk ke dalam kamar.
Zahra terdiam mematung di depan jendela kamar yang mengarah ke samping mushollah, terlihat beberapa santri berjalan masuk ke salam mushollah. Tapi bukan hal itu yang sedang di pandang oleh Zahra, dia menatap kosong dengan tatapan hampa, gurat kesedihan tergambar jelas di wajahnya membuat siapapun yang melihat mengerti jika saat ini Zahra tengah bersedih.
Tanpa terasa sebutir air bening yang sejak tadi menggenang di mata Zahra kini mulai luruh tanpa di hentikan ataupun di perintah, air bening yang menjadi bukti juga saksi bisu betapa sedih sang pemiliknya.
Zahra terus saja larut dalam kesedihan yang terasa semakin menyesakkan jiwa, mengingat setiap pertanyaan dan ucapan irang yang di tujukan padanya tentang hadirnya seorang malaikat kecil di tengah-tengah rumah tangga yang dia jalani.
"Dek!" panggil Husein saat melihat Zahra hanya diam mematung menatap ke arah jendela tanpa bergerak sedikitpun, bahkan Zahra tak menyadari kehadiran Husein yang cukup keras menutup pintu.
"Dek!" Husein kembali memanggil tapi panggilannya sama sekali tak di dengar oleh Zahra, dia tetap saja diam mematung tanpa bergerak dan sikap Zahra sukses membuat Husein khawatir bercampur panik melihat sang istri tak kunjung merespon panggilannya.
Husein yang semakin khawatir tak lagi memanggil Zahra melainkan langsung berjalan mendekat menghampiri Zahra sambil melingkarkan kedua tangannya ke perut Zahra, menempelkan dagu di pundak Zahra dan melihat wajah sang istri yang ternyata tengah menangis.
"Kamu kenapa, Dek?" spontan Husein melepas pelukannya membalik tubuh Zahra agar menghadap ke arahnya kemudian mengusap lembut lelehan air mata yang masih jatuh tanpa suara.
Zahra masih saja diam tanpa suara, bahkan sir matanya semakin deras mengalir membuat Husein kebingungan.
__ADS_1
"Hey, kamu kenapa?" Husein hanya bisa terus bertanya sambil mengusap lembut rambut Zahra yang tergerai indah, karena saat ini dia tidak memakai kerudung. Zahra yang sejak tadi diam kini malah sesenggukan di dalam pelukan Husein. Tangisnya semakin pecah ketika Husein datang dan memeluk tubuhnya sari belakang.
"Sudah, jangan menangis terus! coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! kamu kenapa, Dek?" Husein masih berusaha bertanya pada Zahra.
Zahra hanya menggeleng tanpa ada kata yang terucap, saat ini dia hanya ingin meluapkan segala rasa yang sudah lama dia pendam, Zahra terus menangis sambil memper erat pelukannya.
"Dek, jangan bikin Mas khawtir!" ujar Husein yang sudah kehabisan akal, entah bagaimana lagi dia harus bertanya agar Zahra mau bercerita tentang apa yang dia rasakan hingga air matanya tak berhenti mengalir sejak tadi.
"Maaf," hanya satu kata yang terucap setelah sekian banyak pertanyaan yang di ajukan oleh Husein.
Jawaban Zahra tak mampu melegakan hati Husein, dia justru semakin penasaran dan khawatir dengan jawaban yang muncul dari bibir manis Zahra.
Husein yang kini mengerti memilih untuk membiarkan Zahra menangis sepuasnya di pelukannya, tanpa mengatakan sepatah katapun, Husein akan menunggu Zahra puas meluapkan segala rasa sakit yang mungkin dia rasakan dan akan kembali bertanya saat dia mulai tenang.
"Sudah?" tanya Husein saat melihat Zahra jauh lebih tenang dari sebelumnya, dan Zahra hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Wudhu'lah dulu! setelah itu ceritakan semuanya padaku apa yang sebenarnya terjadi." Titah Husein.
__ADS_1
Meski saat ini Husein begitu penasaran bercampur khawatir, tapi sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak langsung bertanya pada Zahra, Husein lebih memilih untuk tetap tenang dan menyuruh Zahra mencuci muka mengambil air wudhu' agar dirinya semakin tenang.
"Duduklah, Dek!" titah Husein saat melihat Zahra keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Zahra yang mendengar perintah sang suami langsung duduk tepat di sampingnya dan menghadap ke arah Husein yang sedang tersenyum lembut sambil mengusap kepala Zahra.
"Ceritakan apa yang menyebabkan kamu menangis!biar Mas tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, Sayang?" Husein mengatakannya dengan nada begitu lembut penuh dengan kasih sayang dan sikap Husein yang seperti ini mampu membuat hati Zahra yang awalnya keras jadi luluh.
"Maaf, Mas," lagi-lagi Zahra hanya meminta maaf tanpa mengatakan alasan apa yang mendasari kata maaf itu.
"Maaf untuk apa, Dek? coba jelaskan padaku!" titah Husein, namun Zahra masih saja diam, dia masih berusaha menguatkan hati dan diri untuk mengatakan segala yang mengganjal di hatinya.
"Dek, ketahuilah setiap kata maaf yang terucap itu memiliki banyak arti, karena kesalahan manusia itu bukan pada satu hal saja, ada berjuta-juta macam kesalahan yang bisa di lakukan oleh manusia dan aku sebagai suami bisa saja berfikiran buruk tentang maaf yang kamu ucapkan jika kamu tidak menjelaskan atas dasar apa kata maaf itu kamu ucapkan." Husein mencoba menjelaskan pada Zahra jika dia tidak menjelaskan kata maaf itu akan berdampak buruk pada pemikiran yang akan timbul di benak Husein.
"Maaf, Mas, aku tidak pernah bermaksud seperti itu, saat ini aku hanya merasa sedih karena masih belum bisa memberimu keturunan, aku belum hamil Mas, dan hal itulah yang membuatku bersedih." Akhirnya Zahra mengatakan apa yanf sebenarnya terjadi dan membuat dia menangis tersedu-sedu sejak tadi.
Husein menarik nafas sebanyak-banyaknya kemudian mengeluarkannya perlahan menikmati perasaan lega yang kini dia rasakan, ternyata Zahra menangis dan meminta maaf berkali-kali hanya karena masalah kehamilan.
__ADS_1
"Ketahuilah, Dek! jika memiliki seorang bayi adalah takdir yang tak bisa kita prediksi maupun kita ketahui, sama halnya seperti kematian, jika sampai saat ini kamu belum mengandung bukan berarti kamu yang salah, hanya saja takdir belum berpihak pada kita, lagi pula di luar sana masih ada banyak sekali pasangan suami istri yang belum memiliki seorang anak meski sudah bertahun-tahun menikah, kita baru menikah beberapa bulan, masih ada banyak waktu untuk kita habiskan berdua, mungkin kuta belum di beri keturunan karena kita masih di beri kesempatan untuk menikmati masa-masa indah berdua." Husein yang kini mengerti dengan apa yang di rasakan oleh sang istri berusaha membuatnya tenang dan tak lagi memikirkan soal keturunan yang bukanlah kehendak keduanya.
"Tapi, bagaimana jika aku bukanlah wanita sempurna? dan ternyata aku mandul, Mas?" pertanyaan yang sukses membuat Husein terkejut hingga dia membelalakkan mata saking terkejutnya mendengar pertanyaan Zahra.