
"Menurut Mama Kak Husein itu orangnya seperti apa?" Zahra masih mengumpulkan keberanian untuk memberitahukan niat baik Husein.
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya Mas Husein? apa kamu tertarik atau punya masalah sama dia?" tanya Mama Rina yang merasa aneh dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Zahra.
"Mama jawab dulu baru Aku akan ceritakan semuanya," jawab Zahra yang tak ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dahulu sebelum sang Mama menjawab pertanyaannya.
"Baiklah, Husein anaknya baik dan mengerti tentang agama Mama yakin dia pasti bisa jadi pemimpin yang baik untuk istrinya kelak, di tambah lagi dia putera seorang Kiyai pasti akan sangat beruntung jika bisa berjodoh ataupun memiliki mantu seperti dia," jawaban Mama Zahra sukses membuat jantung Zahra berdetak hebat, jantung Zahra berdetak bukan karena cinta melainkan karena Zahra bingung.
"Kenapa kamu jadi diem, Nak?" tanya Mama Rina.
"Mama, sebenarnya tadi Kak Husein mengirim Zahra chat dan dia bilang jum'at depan akan ke rumah kita untuk meminta Zahra sebagai teman hidupnya, menurut Mama Zahra harus bagaimana menolak atau menerimanya?" Zahra memang sangat terbuka pada sang Mama, apapun masalahnya dia selalu meminta pendapat pada sang Mama dan meminta masukan langkah apa yang harus di ambilnya.
Mendengar penuturan sang putri sukses membuat Mama Rina terkejut. Mama Rina masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dia tak memberi respon apa pun hanya bisa diam membisu seperti patung ysng baru saja lering.
"Mama!" lirih Arum seraya menggoyangkan badan Mama Rina.
Ekspresi wajah bingung terlihat begitu jelas di wajah Mama Rina, membuat Zahra bingung harus melakukan apa sekarang.
"Mama baik-baik saja, kan?" tanya Zahra dengan nada dan ekspresi khawatir.
"Ap~apa kamu serius, Nak?"bukannya menjawab Mama Rina malah balik bertanya.
"Aku serius Mama, apa ada yang salah atau tak berkenan di hatimu?" Zahra sudah berniat untuk membatalkan segalanya dan akan memberitahu Husein agar tak ke rumahnya.
"Tidak ada yang salah dengan semua ucapanmu, Mama hanya terkejut mendengarnya," jawab Mama Rina.
Sebelumnya tak pernah terfikir oleh Mama Rina jika dia akan berbesan ataupun anaknya akan menjadi istri seorang Husein yang notabennya putera pemilik pesantren yang pernah dia tinggali sebelumnya.
__ADS_1
"Mama kenapa diem lagi?" Zahra meraa begitu aneh dengan sikap sang Mama yang lebih banyak diam dari pada menjawab pertanyaan darinya.
"Mama hanya terkejut dan tak menyangka Nak, kamu putri Mama satu-satunya dan Kakakmu juga putera Mama satu-satunya, kalian berteman dengan Husein putera seorang pemilik pesantren yang pernah Mama tinggali dulu, sungguh Mama tak pernah menyangka akan hal itu, apa lagi jika Mama sampai berbesan dengan Umik dan Abi Ilzham yang saat ini menjadi pengasuh di sana," Mama Rina memberitahukan semua perasaan yang dia rasakan.
"Apa itu artinya Mama akan menerima Kak Husein sebagai calon menantu Mama?" Zahra ingin memastikan lagi apa hawaban sang Mama.
"Tentu saja, Nak, kamu harus tahu jika Husein laki-laki yang baik dan memiliki silsilah keluarga yang baik pula, maka tak ada alasan bagi Mama ataupun dirimu untuk menolaknya, percayalah pada Mama!" jawaban Sang Mama sedikit memberi keyakinan pada diri Zahra yang tengah bingung.
"Kenapa? apa kamu tak menyukai Mas Husein? atau kamu telah memiliki pilihan yang lain?" tanya Mama Rina yang melihat Zahra hanya diam membisu.
"Tidak Mama, aku tidak pernah berpacaran karena aku selalu mengingat dan menuruti pesan Mama untuk menjaga diri dari hal-hal yang menjurus pada Zina, hanya saja~" Zahra tak meneruskan kalimatnya.
"Hanya saja kenapa, Nak? katakan saja semua hal yang membuat hati dan fikiranmu resah!" Mama Rina mencoba membantu Zahra yang terlihat gamang.
"Entahlah Ma, Zahra masih bingung mau menerima atau menolaknya?" ungkap Zahra.
"Jangan pernah berhenti untuk berdo'a dan meminta petunjuk pada Allah! tapi jika Mama jadi kamu makan Mama akan menerima Mas Husein." Mama Rina mencium pelan kening Zahra mencoba meyakinkan sang Putri dengan pilihan yang harusnya di ambil.
"Baiklah Ma, aku pasrahkan semuanya pada Mama dan Papa. Jika menurut kalian Kak Husein baik untukku maka aku akan menerima semua keputusan yang akan kalian ambil." Zahra yang memiliki sifat penurut sejak kecil lebih memilih untuk memasrahkan segala pilihan pada kedua orang tuanya, karena Zahra yakin jika pilihan kedua orang tuanya tak pernah salah.
"Sudah jangan terlalu di fikirkan! lebih baik sekarang kamu istirahat dan jangan lupa nanti sholat istighoro minta petunjuknya." Ujar Mama Rina sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Zahra yang kini bersiap untuk beristirahat.
Zahra kini telah tertidur dan larut dalam dunia mimpi yang penuh dengan keindahan yang fana sedang di belahan dunia yang lain seorang gadis sedang duduk termenung di teras mushollah, mengingat semua yang telah dia lewati.
Kejadian demi kejadian yang telah berlalu kini mulai terbingkai seperti potongan puzzle yang tersusun mejadi sebuah cerita.
"Ngapain kamu ngelamun di sini Desy?" tegur Shinta yang baru saja datang setelah menyimpan buku setelah belajar.
__ADS_1
"Terkadang kita butuh kesunyian untuk menemukan sebuah ketenangan," sahut Desy yang kini merebahkan diri menatap langit yang terlihat cerah karena bulan bersinar dengan terangnya di temani sang bintang yang juga memperlengkap pemandangan malam ini.
"Jangan sok puitis di depanku! kalau punya masalah tinggal cerita aja gak perlu sok misterius gitu." Ucap Shinta.
"Entahlah Shin, aku bingung," keluh Desy.
"Kalau bingung tinggal pegangan ke pagar gitu aja bingung." Sahut Shinta.
"Apa sih kamu Shin? gak jelas banget," Desy merasa ucapan Shinta tidak nyambung.
"Udah cerita aja! kamu kenapa?" desak Shinta.
"Menurutmu apa aku pantas jika saat ini diam-diam aku memiliki perasaan lebih pada Mas Huda?" tanya Desy.
Saat ini Desy merasakan sesuatu yang berbeda terjadi pada dirinya, ada rasa yang tak biasa menerobos masuk ke dalam hatinya membuatnya gelisah tak tentu arah.
"Oh, jadi ini masalah Mas Huda, kamu tenang aja gak ada yang salah dengan perasaanmu ataupun keadaan yang terjadi, semuanya wajar kok." Jawaban Shinta membuat Desy tertarik untuk terus bercerita dengannya.
"Kok wajar Shin? bukankah aku terlalu percaya diri jika punya perasaan yang lebih pada Mas Huda?" Desy kembali bertanya.
"Tidak! kata siapa kamu terlalu percaya diri? cinta itu datang tanpa bisa kita cegah ataupun kita atur kepada siapa cinta itu akan berlabuh, jadi dalam hal jatuh cinta kita gak bisa nyalahin orang, karena cinta itu datang dengan sendirinya tanpa bisa kita cegah bahkan terkadang kita juga tidak menyadari kedatangannya." Shinta yang mengerti perasaan yang di rasakan oleh Desy mulai mencoba memberi ketenangan pada sahabatnya itu.
"Desy, ingatlah satu hal cinta itu anugerah terindah yang di beri tuhan untuk hambanya, jadi kamu cukup nikmati dan jalani saja. tapi jangan lupa untuk berdo'a agar cinta yang kamu rasakan tak menjadi cinta buta yang akhirnya akan merugikan dirimu sendiri." Tutur Shinta.
Kedua gadis yang kini duduk di teras memang memiliki sifat yang cukup bijaksana, sehingga mereka selalu bisa saling mengingatkan satu sama lain, sungguh persahabatan indah yang terjalin di pesantren.
"Terima kasih Shin, kamu memang sahabat ternaikku," ucap Desy.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan terlalu di fikirkan lagi! pasrahkan saja semuanya pada sang pencipta." Sahut Shinta yang langsung berdiri melenggang pergi menuju kamar untuk beristirahat dan Desy hanya mengikutinya dari belakang.