
Pertemuan pertama yang memberi kesan sangat baik membuat getaran rasa muncul di hati Husein, ada rasa tertarik yang tumbuh di hatinya dan juga niat yang semakin kuat untuk lebih mengenal Adik Zein dengan harapan jika dia adalah jodoh yang sudah di siapkan tuhan untuk Husein.
Setelah acara perkenalan kini Husein kembali pulang dengan sejuta harapan semoga apa yang menjadi keinginan dan niatnya segera terkabul.
"Kalau gitu gue pulang dulu." Pamit Husein pada Zein yang asyik memakan kue buatan sang Adik.
"Eh tunggu dulu," cegah Zein.
"Ada apa?" tanya Husein bingung melihat sikap Zein.
"Tadi nyokap gue pesen kalau ada titipan buat Umik lo, jadi tunggu di sini!" jawab Zein seraya berdiri melenggang pergi meninggalkan Husein yang masih setia duduk di sofa.
Zein berjalan masuk ke dalam rumah mengambil satu paperbag berisi kue yang sudah di buat oleh Ibunya.
Ibu Zein termasuk dari salah satu alumni santri di pesantren yang sekarang di kelola oleh Umik yang tak lain adalah Ibu Husein.
__ADS_1
"Ini buat Umik." Zein memberikan satu paperbag ke hadapan Husein.
"Thanks ya salam buat nyocap lo," ucap Husein
"Gue pulang dulu, assalamualaikum." Pamit Husein melenggang pergi meninggalkan Zein setelah mendapatkan sahutan dan persetujuan Zein untuk pergi.
Sungguh hari yang cukup menyenangkan, Husein senang bisa berkenalan dengan gadis secantik dan seimut Zahra.
"Zahra, nama yang cantik," lirih Husein sembari melajukan mobilnya menuju pesantren.
"Assalamualaikum, Umik!" panggil Husein setelah sampai di dalam rumah Umik, Husein berjalan masuk mencari sosok bijaksana yang penuh dengan kasih sayang itu.
"Ada apa Nak?" sahut Umik yang baru keluar dari kamar bersama sang Abi.
'Pantesan lama nyahutnya, ada Abi,' gerutu Husein dalam hati. Sudah bukan rahasia lagi bagi Hasan dan Husein jika sang Umik tidak akan bisa di ganggu atau lama sekali akan menyahuti panggilan mereka jika sedang berdua dengan Abi di dalam rumah.
__ADS_1
"Ada apa Nak?" Umik kembali bertanya karena Husein tak menjawab dia malah terdiam mematung di tempat.
"Eh, ini Umik ada titipan dari Ibu calon mertua," jawab Husein enteng se enteng kapas yang terbang di tiup angin.
"Terima kasih ya Nak,' sahut Umik sembari mengambil alih paper bag dari tangan Husein.
"Eh tunggu! dari siapa katamu tadi?" Umik yang baru menyadari ada perkataan Husein yang aneh langsung memegang tangan Husein dan mendesaknya untuk menjawab.
"Dari~" Husein tak meneruskan ucapannya malah melenggang pergi dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Dari calon Ibu mertua Umim." jawab Husein setelah berjalan menuju kamar mandi.
"Husein siapa orangnya?" tanya Umik tapi sayang pertanyaannya tak akan mendapat jawaban karena Husein surah masuk ke salam kamar mandi meninggalkan Umik yang masih berdiri di samping Abi dengan senyum yang terlihat merekah di bibirnya.
"Sudahlah, tidak usah teriak-teriak! nanti juga bakal di kasih tahu sendiri jika waktunya sudah tepat." Ucap Abi sambil berjalan keluar dari rumah.
__ADS_1
Umik yang mendengar ucapan Abi hanya bisa pasrah dan menunggu hingga Husein keluar dari kamar mandi dan Husein bisa memberi jawaban yang di tunggu Umik sejak tadi.
Husein yang tahu dengan pasti jika sang Umik pasti akan menunggunya hingga dia mendapat jawaban yang pasti ataspertanyaan yang tadi di minta.