Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Ngemil Di Malam Hari


__ADS_3

"Arum!" panggil Desy yang kini sedang duduk bersama Shinta dan Arum di halaman asrama beralaskan kardus lemari es yang mereka temukan di sudut kantin.


"Apa Desy?" sahut Arum sembari menghentikan aktifitasnya.


"Bagaimana rasanya menikah dengan Mas Hasan?" tanya Desy gamblang tanpa filter.


"Sssttttt!" Arum yang tak ingin semua orang tahu jika dia telah menikah dengan Mas Hasan meletakkan jari telunjuknya di bibir sebagai tanda jika Desy tak boleh membicarakan apapun tentang pernikahan rahasia yang telah terjadi.


"Why?" tanya Desy dengan ekspresi wajah bingung melihat ekspresi dan tanggapan Arum tentang pertanyaan yang baru saja dia ajukan.


"Gak apa-apa cuma males aja ngadepin para wartawan pesantren plus heaters yang pasti akan muncul nanti," jawab Arum jujur.


"Tapi setahuku sebagian besar santri udah tahu tentang kabar ini," sahut Shinta yang sejak tadi asyik menikmati kripik pisang yang dia bawa lengkap dwngan minumannya dan juga beberap makanan ringan lainnya.


"Benarkah?" tanya Arum yang menyangka jika saat ini pernikahannya masih belum di ketahui oleh banyak orang.


"Astaga, jadi selama ini kamu beneran gak tahu kalau pernikahanmu itu sudah jadi rahasia umum, dan sebagian besar santri sudah tahu jika kamu sekarang istri dari Hasan putera dari pemilik pesantren ini." Shinta tak menyangka jika sahabatnya ini benar-benar polos, padahal selama dia kembali ada banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda, ada yang menatap dengan tatapan kagum hingga tatapan penuh kebencian.


"Aku kok gak tahu ya?" lirih Arum sembari menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Sudah Shin, jangan di teruskan!" Desy yang khawatir Arum akan memikirkan apa yang di katakan oleh Shinta, kini memilih untuk bersuara dan mencegah Shinta agar tak lagi bercerita tentang keadaan sebenarnya di pesantren.


"Gak apa-apa Desy, aku juga harus tahu apa yang sebenarnya terjadi? biar aku bisa lebih hati-hati dalam bertindak." Ujar Arum yang masih saja penasaran dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Sudah tidak usah di bahas! bikin pusing, lebih baik sekarang kita makan dan habiskan kripik pisang dan camilan ini. Bukankah hal ini jauh lebih menyenangkan?" sela Shinta yang mengerti apa maksud dari sikap Desy.


"Bener itu, ngemil di malam hari di temani sahabat jauh lebih nikmat dari pada kita harus ngomongin apalagi mikirin tanggapan orang tentang apa yang kita lakukan." Sahut Shinta.


Malam ini terasa begitu ramai sebagian besar santri menghabiskan waktu luang untuk menikmati indahnya cahaya malam, di musim kemarau seperti ini memang sangat pas jika bersantai di halaman asrama yang sudah di paving. Apalagi di hari kamis seperti ini sungguh terasa begitu sempurna.


Arum, Desy dan Shinta begitu menikmati waktu santai mereka hingga dari kejauhan nampak seseorang yang tak asing bagi mereka terlihat berjalan mendekat, siapa lagi yang datang juga bukan Hana?


Arum sudah kembali dua hari yang lalu, setelah acara tunangan Husein yang kini sudah menjadi adik iparnya. Sejak pertama kali kembali ke pesantren Arum sama sekali tak menjenguk atau bahkan tak bertemu Hasan, Arum berfikir jika Hasan masih sibuk dengan urusan kantor dan pesantren karena dia harus tinggal di rumah Oma dulu sebelum akhirnya kembali ke pesantren.


Dan Arum juga tahu betapa repotnya Hasan karena dia juga harus mengurusi acara resepsi yang aka di adakan tiga hari ke depan.


"Kok tumben Mbak Hana ke sini malasm-mlam?" lirih Arum tapi masih terdengar oleh Shinta san Desy.


Hana memang jarang sekali ke pesantren apalagi jika hari sudah malam seperti saat ini, biasanya Hana akan berada si rumahnya bersama Pak Marto sang suami jika malam telah tiba, tapi saat ini Arum merasa. bingung melihat Hana yang tergesa-gesa dan sedikit berlari menuju ke arahnya.


"Mungkin dia ada perlu denganmu Arum," tebak Shinta.


"Itu pasti Shin, untuk apa Mbak Hana nyari kita? tapi masalahnya kenapa Mbak Hana ke sininya malem-malem? sikapnya juga kayak orang yang sedang terburu-buru," Desy menyerukan keanehan yang ada di hadapannya.


"Kamu bener Desy, mungkin telah terjadi sesuatu sampai Mbak Hana berjalan dengan buru-buru seperti itu." Arum yang merasa sepemikiran dengan Desy membenarkan ucapan sahabatnya itu.


"Semoga semuanya baik-baik saja tak ada hal gawat yang terjadi." Arum yang tak ingin lagi berdebat memilih untuk menengahinya dari pada terus mereka berdebat sampai Mbak Hana benar-benar telah sampai di hadapan ketiganya.

__ADS_1


"Neng Arum!" panggil Hana, sejak haripernikahan itu semua sopir dan haddam yang tahu status Arum saat ini mengubah panggilannya, dari Mbak Arum menjadi Neng Arum, sekalipun Arum sudah berusaha keras untuk melarang mereka memanggilnya seperti itu tapi mereka tetap saja memanggilnya dengan sebutan Neng.


"Ishhh kenapa panggil Neng lagi sih Mbak?" keluh Arum yang kurang menyukai panggilan yang di sematkan oleh Hana.


"Maaf Neng, panggilan ini sudah jadi ketetapan bagi kami untuk keluarga ndalem." Jawaban Hana seolah memberitahukan jika dia tidak bisa lagi berdebat masalah panggilan.


"Baiklah terserah Mbak Hana mau manggil apa," ujar Arum setelah mendengar jawaban Hana yang tak bisa lagi di bantah.


"Oh ya, Mbak Hana mencariku ada apa? apa ada masalah?" sambung Arum yang baru ingat jika Hana datang pasti memiliki tujuan khusus.


"Mas Hasan sakit Neng, dia nyariin Neng Arum," jawaban Hana cukup membuat ketiga gadis yang sedang duduk santai di bawah pohon mangga beralaskan tikar begitu terkejut mendengar jawaban Hana.


"Sakit? Kak Hasan sakit apa?" bukannya langsung berdiri dan berjalan menghampiri Hasan yangs edang beristirahatdi rumahnya Arum malah kembali melempar pertanyaan pada Hana.


"Sepertinya demam Neng, saya kurang mengerti Mas Hasan sakit apa? cuma sejak tadi pagi dia sama sekali tidak keluar kamar hanya berbaring di atas tempat tidur saja," jelas Hana.


"Kenapa tidakmengabariku sejak tadi bagi Mbak?" Arum yang mendengar penjelasan Hana langsung berdiri menghampiri Hana.


"Maaf tadi Mas Hasan melarang saya untuk memberitahu Neng Arum, karena menurut Mas Hasan jika di beritahukan tadi pasti akan mengganggu aktifitas Neng Arum," Hana kembali menjelaskan alasannya yang tak memberi kabar sejak pagi.


"Ya sudah ayo ke rumah Kak Hasan!" Arum menarik tangan Mbak Hana.


"Shinta, Desy aku pergi dulu ya. Maaf gak bisa bantuin bersihiin ini semua." Ujar Arum sebelum benar-benar pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


"Udah sana temui Mas Hasn kasihan mungkin dia kelelahan. Urusan di sini biar kita yang mengerjakannya." Jawab Desy yang di angguki oleh Shinta.


Di pesantren ini aturannya semua santri boleh menghabiskan waktu di halaman, asalkan Mereka mau membereskan bekas makanan yang biasanya akan tercecer setelah mereka meninggalkan halaman untuk istirahat di kamarnya.


__ADS_2