Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Tes Kehamilan


__ADS_3

Pagi ini masih terasa sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Desy masih saja merasa hampa meski ada banyak teman ataupun sahabat yang menemani setiap detik kehidupannya, ada ruangan yang terasa kosong dalam sudut hatinya.


Desy menatap langit yang terlihat begitu cerah, tapi suasana hatinya masih saja mendung penuh awan hitam, genap satu bulan sudah Huda pergi meninggalkan Desy yang tak tahu kapan dia akan kembali.


"Kenapa aku merasa hampa ya?" lirih Desy.


"Woiii, masih pagi sudah melamun, kesambet baru tahu rasa kamu!" tegur Shinta duduk tepat di samping Desy.


"Shinta, pagi-pagi udah ganggu orang aja," gerutu Desy yang merasa terganggu dengan kehadiran Shinta.


"Lagi kangen Babang Huda ya?" goda Shinta menoel lengan Desy sambil mengedipkan mata.


"Sok tahu kamu Shin," elak Desy.


"Kalau iya juga gak apa-apa kali Desy," ucap Shinta seolah tak percaya dengan ucapan Desy.


Desy tak lagi menjawab ucapan Shinta dia kembali diam menatap langit, Tanpa menghiraukan Shinta.


"Eh kamu udah makan belum?" tanya Shinta.


"Belum, masih males," jawab Desy.


"Makan yuk! aku laper," ajak Shinta.


"Lah, yang lapar itu kamu kenapa jadi aku yang kau ajak makan?" tanya Desy.


"Aku gak ada temennya Desy, kamu kenapa sih kok sensi amat pagi ini? perasaan kamu gak lagi PMS deh," heran Shinta yang merasa aneh dengan sikap Desy.


Desy hanya menghirup udara dalam dan membuangnya perlahan mencoba menenangkan hati dan fikirannya yang selalu kalut setiap kali mengingat Huda.


"Maaf Shin, mungkin aku sedang capek, ayo ke kantin!" Desy berdiri menarik tangan Shinta mengajaknya berjalan menuju kantin setelah meredam gejolak yang ada di hatinya.


Berbeda dengan Desy yang sering merasa hampa karena kepergian Huda, hal lain justru sedang di rasakan oleh Huda, saat ini dia sedang berjuang mati-matian agar bisa segera lulus dengan nilai terbaik dan menghalalkan gadis pujaan hatinya.


"Kirimkan semua yang sudah saya catat ke rumah Desy!" titah Huda pada asisten pribadinya yang saat ini sedang berkunjung untuk memberikan laporan keuangan yang harus di tanda tangani langsung oleh Huda.


Meski sibuk menyelesaikan kuliahnya, Huda masih mengontrol dan menjalankan bisnisnya yang ada di indonesia.

__ADS_1


"Baik, Tuan, tapi saya tidak bisa mengirimnya sekarang. Dua hari lagi saya baru bisa mengirimnya." Jawab Asisten Huda.


"Baiklah, setelah pulang dari sini langsung belikan semua yang sudah aku catat! dan kirim ke rumah Desy!" titah Huda.


"Baik, Tuan," Sang asisten hanya bisa mengiyakan apa yang di perintahkan oleh Huda tanpa bisa bernegoisasi meskipun Sang asisten tidak akan bisa beristirahat saat sampai di indonesia nanti.


Begitulah kehidupan Huda dan Desy untuk saat ini, Huda yang terus berjuang dan Dezy yang terus menunggu tanpa kepastian karena dia tak mengerti jika Huda telah memikatnya.


~


"Abi," rengek Arum.


"Ada apa Syei'?" sahut Hasan.


"Aku pengen makan ubi ungu," tutur Arum.


"Ubi ungu, kok tumben kamu pengen makan ubi?" bukannya mengiyakan permintaan sang istri Hasan malah bertanya dengan dahi mengkerut karena heran.


"Gak tahu Bi, yang aku tahu saat ini aku ingin makan ubi ungu," tegas Arum.


"Aku gak mau tahu ya Bi, pokoknya aku pengen makan ubi ungu SEKARANG, kalau gak ada ubi ungu maka gak akan ada jatah untuk nanti malam." Ancam Arum yang mulai kesal karena Hasan tak langsung menuruti keinginannya malah bertanya di mana ubi dia harus mencari ubi ungu di pagi hari.


"Kok gitu Syei'? dosa loh kalau sampai nolak suami apalagi sampai gak ngasih jatah gitu," Hasan mengingatkan Arum.


"Aku pengen ubi ungu sekarang Bi, titik gak pakai koma dan gak pakai debat." Arum masih bersikeras meminta ubi ungu pada sang suami.


"Baiklah, aku akan mencarikan ubi ungu untukmu, tapi Abi punya keinginan yang juga harus kamu turuti." Hasan merasa ini adalah kesempatan paling bagus untuknya membujuk Arum, sudah beberapa hari ini sikap sang istri menjadi aneh, dia juga sering muntah karena hal-hal yang seharusnya tak menjadi masalah.


"Keinginan apa Bi?" tanya Arum dengan ekspresi antusias menatap ke arah Hasan.


"Kamu harus mau mengetes apakah kamu hamil atau tidak. Dan setelah itu kita pergi ke dokter!" jawab Hasan.


"Baiklah, ayo ke apotek!" ajak Arum.


Sebenarnya sejak beberapa hari ini Arum juga merasa ada yang aneh dengan dirinya, dia juga belum kedatangan ţamu bulanan yang seharusnya datang dua minggu yang lalu.


"Mau ngapain ke apotek?" tanya Hasan.

__ADS_1


"Beli test pack Bi, bagaimana mau tes kalau belum ada alatnya?" jawab Arum.


Mendengar jawaban Arum Hasan tersenyum manis ke arahnya, kemudian berjalan menuju lemari mengambil satu kantong plastik yang dia simpan di sana.


"Tidak usah repot-repot beli ke apotek! Abi sudah membelinya untukmu!" Hasan memberikan kantong plastik yang dia simpan ke arah Arum.


"Kapan Abi membelinya?" tanya Arum heran.


"Sudah jangan banyak tanya! lebih baik kamu masuk ke dalam kamar mandi dan kamu pakai semua alat tes itu!" titah Hasan.


"Astaghfirullah Bi, apa gak kurang banyak?" spontan Arum saat melihat ada banyak alat tes kehamilan di dalam kantong plastik.


"Harus banyak Syei' supaya kita semakin yakin kalau kamu benar-benar hamil." Jawab Hasan dengan senyum yang sumringah.


Arum hanya bisa menghela nafas kasar mencoba menuruti apa yang di minta oleh suaminya. Arum melenggang pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk menuruti permintaan Hasan.


"Garis dua, tapi yang satu kok samar," gumam Arum.


"Bagaimana hasilnya, Syei'?" sergah Hasan saat melihat Arum keluar dari kamar mandi.


"Garisnya dua Bi, tapi yang satu kok samar ya," jawab Arum.


"Kalau begitu kamu langsung siap-siap kita ke dokter!" titah Hasa.


"Bi, tunggu!" cegah Arum saat melihat Hasan hendak pergi keluar dari kamar.


"Ada apa?" tanya Hasan menghentikan langkahnya menoleh ke arah belakang di mana Arum berada.


"Ubi ungunya gimana?" tanya Arum dengan wajah memelas.


"Jangan khawatir! tadi Abi sudah nyuruh sekertaris Abi nyari." Jawab Hasan santai.


"Aku pengennya Abi sendiri yang beli." Tegas Arum dengan wajah cemberut.


"Yasssalam, istriku Sayang nanti biar Abi sendiri yang belikan. Sekarang kamu siap-siap ke dokter dulu, setelah ke dokter kita beli ubi ungunya bareng-bareng," jelas Hasan.


"Baiklah, kalau gitu aku siap-siap dulu." Ujar Arum berjalan mendekat ke arah almari untuk mengganti baju dan bersiap-siap. Sedang Hasan melangkah pergi menuju halaman untuk menyiapkan mobil yang akan mereka gunakan.

__ADS_1


__ADS_2