Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Mendiamkan Zahra


__ADS_3

"Sayang, jangan berfikir tentang sesuatu yang belum pasti, kita baru menikah beberapa bulan, satu tahun saja belum, kamu jangan berfikir negatif seperti itu!" Husein lanhsung memeluk Zahra setelah mengatakan kata-kata yang dia harap bisa menenangkan hati sang istri.


"Tapi bagaimana jika apa yang aku katakan tadi memang benar, Mas?" Zahra masih saja bersikeras menanyakan hal yang sebenarnya tidak baik untuk di tanyakan.


"Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan tetap mendampingimu!" jawaban yang Husein harap bisa menghilangkan fikiran buruk Zahra.


"Jika benar, apa Mas akan meninggalkanku? atau Mas akan menikah lagi demi mendapat keturunan?" pertanyaan Zajra benar-benar membuat Husein terkejut, dia langsung melepas pelukannya dan menatap lekat mata Zahra yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.


"Dengar aku baik-baik! sampai kapanpun aku tidak akan pernah menduakan ataupun meninggalkanmu, bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap bersama dan mendampingimu. Setitik pun tak ada niat untukku melakukan apa yang kamu katakan tadi, jadi jangan pernah katakan itu di hadapanku! bagiku kamu satu-satunya dan itu untuk selamanya." Dengan tegas Husein mengatakan apa yang ada di hatinya.


Husein hanya ingin menikah satu kali seumur hidupnya dan tak ingin menikah lagi, baginya Zahra adalah gadis pertama dan terakhir yang akan menemaninya hingga akhir hidup. Sejak awal menikah Husein sudah memutuskan untuk menerima apa adanya Zahra baik itu kekurangan ataupun kelebihan yang Zahra miliki.


"Mas marah sama aku?" lirih Zahra saat melihat Husein berdiri membelakanginya menatap ke arah jendela dengan posisi yang sama seperti yang dia lakukan sebelumnya.


Husein tak merespon ucapan Zahra, dia masih saja menatap lurus ke arah jendela mengingat semua yang di katakan Zahra membuat sudut hatinya sakit, ucapan Zahra seolah tak percaya padanya dan terkesan meragukan kebesaran cinta juga sayang yang di miliki oleh Husein untuknya.


"Maaf, Mas," Zahra masih saja berusaha mendapat perhatian Husein yang tiba-tiba berpaling dan tak menghiraukannya.

__ADS_1


Husein tetap saja diam meski Zahra sudah meminta maaf padanya, sikap Husein membuat Zahra semakin kelimpungan dan bingung.


"Mas," lirih Zahra berjalan mendekat ke arah Husein yang sedang berdiri tegak di depan jendela, perlahan Zahra memegang pundak Husein berharap dia mau merespon ucapannya.


"Maaf, jika aku mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu, sungguh aku tak pernah punya niat seperti itu," Zahra kembali berucap dengan nada lirih sambil menundukkan kepala tanda jika dirinya begitu menyesal dengan apa yang telah dia ucapkan.


"Sudahlah, aku lelah," bukannya menjawab ataupun menenangkan Zahra yang sedang menangis Husein malah berlalu merebahkan diri di atas kasur seraya memejamkan mata tanpa memperdulikan keberadaan Zahra lagi.


Saat ini hanya ada penyesalan yang Zahra rasakan, apa yang dia ucapkan dan dia fikirkan selama ini ternyata dapat membuat seorang Husein yang selalu lembut juga ramah terdiam seribu bahasa, sungguh Zahra merasa begitu kalut saat ini, baginya lebih baik melihat Husein marah dari pada harus melihatnya hanya diam dan acuh seperti saat ini.


Suasana kamar yang biasanya hangat kini terasa begitu dingin dan sunyi, entah bagaimana Zahra bisa kembali meluluhkan hati Husein yang terlihat sedang membeku.


Perlahan Husein merubah posisi yang tadinya tidur membelakangi Zahra kini menghadap ke arahnya tanpa di sadari oleh Zahra, karena saat ini dia tengah lelap berkelana dalam dunia mimpi yang entah indah atau malah sebaliknya.


"Aku mencintai dan menyayangimu sepenuh hati, bukan hanya dirimu tapi semua yang kamu miliki termasuk kekurangan yang mungkin suatu saat nanti aku temukan dalam dirimu, jujur saja, aku tak tega melihatmu seperti ini, tapi aku juga tak bisa melakukan apapun selain mendiamkanmu agar kamu sadar atas apa yang kamu ucapkan, sungguh Zahra, tak sedikitpun terbesit dalam benakku untuk menduakan ataupun meninggalkanmu, aku ingin bersamamu hingga maut memisahkan kita, dengan atau tanpa anak sekalipun," lirih Husein sembari menatap lekat ke arah Zahra kemudian mencium lama kening Zahra mencoba menyalurkan segala rasa yang dia punya, berharap esok akan jadi lebih baik dan Zahra tak lagi membahas ataupun mengatakan apa yang tadi dia katakan.


"Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu," sambung Husein dengan nada sangat lirih hampir tak terdengar kemudian dia ikut terlelap dalam dunia mimpi sambil memeluk Zahra yang terlihat begitu nyaman di pelukannya.

__ADS_1


Malam panjang kini telah berlalu berganti mentari pagi yang masih malu-malu menampakkan cahayanya, hawa dingin di pagi hari terasa menusuk ke dalam tulang karena saat ini tengah kemarau membuat hawa dingin di pagi hari terasa begitu menyengat berbeda dengan hari-hari biasanya.


"Mas Husein sepertinya masih marah," gumam Zahra saat melihat tempat tidur Husein kosong.


Husein biasanya akan membangunkan Zahra untuk menjalankan ibadah sholat subuh bersama, tapi saat ini dia sudah tak ada di kamar padahal adzan subuh baru saja berkumandang.


"Kira-kira kemana ya Mas Husein?" sambung Zahra sambil duduk di tepi ranjang setelah melaksanakan sholat sendirian.


Zahra yang merasa bersalah kini memutuskan untuk mencari keberadaan sang suami agar dia bisa meminta maaf kembali dan mencoba meluluhkan hatinya. Zahra terus berjalan mencari Husein di setiap sudut ruangan hingga sampailahdia di halaman belakang yang memiliki taman kecil. Biasanya Husein menghabiskan pagi hari di sana untuk menikmati hangatnya mentari.


"Mas Husein!" panggil Zahra berjalan mendekat ke arah Husein yang duduk di kursi panjang yang sengaja di sediakan di sana.


Husein tak menjawab panggilan Zahra, dia hanya menoleh sekilas kemudian kembali menatap lurus ke depan, sepertinya mode marah Husein masih belum hilang.


"Mas ngapain di sini? ini masih terlalu pagi untuk berada di sini, udaranya dingin Mas, ayo masuk!" Zahra berucap dengan nada begitu lembut berharap Husein bisa luluh.


"Untuk apa kamu pedulikan aku Zahra?" jawaban yang mampu membuat Zahra merasa sakit hati.

__ADS_1


"Aku peduli karena aku menyayangimu Mas, aku ini istrimu, maka dari itu aku begitu peduli padamu," jawab Zahra sambil memegang tangan Husein mencoba menyalurkan segenap perasaan sayang yang dia miliki.


"Jika kamu menyayangiku kenapa kamu meragukan perasaan yang aku miliki untukmu?" pertanyaan yang cukup membuat Zahra semakin sadar akan kesalahannya, tapi di sisi lain Zahra bersyukur karena Husein mau mengatakan apa yang dia rasakan dan sudah mulai merespon apa yang Zahra katakan.


__ADS_2