
Sepanjang perjalanan terlihat begitu sepi dan cukup mencekam bagi siapapun yang melewatinya, tapi hal itu sangat berbeda dengan apa yang Hasan rasakan, saat ini dia hanya berharap bisa menemukan penjual martabak daging di tepi jalan yang terlihat mulai sepi.
"Itu penjual martabak Syei'!" seru Hasan sambil menunjuk ke ujung jalan yang ada di persimpangan.
"Ayo buruan Bi! semoga aja masih ada," sahut Arum dengan penuh harap dan semangat yang terlihat jelas di wajahnya.
Hasan hanya tersenyum menanggapi sahutan Arum kemudian menepikan mobilnya di dekat penjual martabak.
"Kamu mau pesan berapa kotak Syei'?" tanya Hasan sebelum turun dari mobil.
"Tiga Abi," jawab Aeum mantap tanpa banyak berfikir.
"Baiklah, tunggu di sini! dan jangan ke mana-mana!" titah Hasan yang di angguki oleh Arum tanda jika dia menyanggupi perintah Hasan.
Dengan langkah pasti Hasan turun dari mobil menghampiri penjual martabak dan untung saja martabak yang di inginkan Arum masih ada, tanpa banyak bertanya Hasan langsung memesan tiga kotak sesuai dengan apa yang di minta oleh Arum, meski dalam hatinya ada sedikit rasa tanya, untuk apa martabak sebanyak ini? tapi Hasan tetap diam tak mengungkapkan pertanyaannya.
"Bagaimana Bi? apa martabak pesananku ada?" sergah Arum yang melihat Hasan baru saja masuk ke dalam mobil.
"Kamu tenang saja, tiga kotak martabak yang kamu inginkan sudah ada di dalam kantong," jawab Hasan dan Arum hanya tersenyum manis mendengarnya.
'Cup'
"Terima kasih, Bi," ucap Arum seraya mencium pipi kiri Hasan.
Sejak hamil dia sering sekali mencium pipi Hasan secara tiba-tiba, dan Hasan yang sudah terbiasa karena itu kini hanya tersenyum senang samnil menggelengkan kepala, tangannya mengusap kepala Arum sekilas.
Mobiil kembali melaju meninggalkan penjual martabak yang terlihat masih asyik memasak martabak untuk beberapa pembeli yang baru saja datang.
"Abi, di situ ada apa ya? kok rame banget?" tanya Arum dengan ekspresi penasaran melihat betapa banyaknya pemuda yang bergerombol di tepi jalan dengan berbagai jenis motor yang terparkir rapi di tepi jalan.
Suara bising mulai terdengar ketika tiga motor yang berada di tengah jalan di nyalakan dengan ketika pengendara yang terlihat masih muda.
__ADS_1
"Sepertinya ada balap liar Syei'," jawab Hasan sambil memperhatikan keadaan sekitar.
"Kenapa mereka seberisìk ini sih?" keluh Arum yang mendadak polos.
"Mereka memang sering melakukan balap liar di tengah malam, memanfaatkan jalanan sepi untuk arena balapan," jelas Hasan.
"Ishhh, apa gak membahayakan pengendara yang lain Bi?" tanya Arum.
"Kalau yang kayak gini jelas bahaya Syei', tapi lebuh bahaya lagi kalau kuta ikut campur," jawab Hasan membuat Arum diam dan tidak lagi bertanya.
Kini Arum mulai fokus menatap martabak yang tadi sudah di belikan oleh Hasan. "Bi," panggil Arum.
"Iyan kenapa, Syei'?" sahut Hasan tanpa mengubah posisi ataupun menoleh ke arah Arum.
"Martabatnya aku makan dulu ya." Pamit Arum yang tiba-tiba merasa tak enak hati jika langsung menghabiskan martanak yang baru saja di beli oleh Hasan sang suami.
"Makanlah!" jawab Hasan yang mengerti jika sebenarnya sejak tadi Arum sudah tak sabar untuk memakan martabak dagung yang sejak tadi tergeletak di dashboard mobil.
Tanpa panjang lebar lagi Arum langsung menyahut dan mengambil satu kotak martabak daging untuk dia makan. Kemudian menikmatinya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Hasan yang sebenarnya sejak tadi melirik apa yang di lakukan Arum.
"Maaf Bi, martabaknya enak banget, Abi mau?" sahut Arum sambil menawarkan martabak yang ada di tangannya.
"Kamu makan saja, Abi masih kenyang," jawab Hasan dengan ekspresi tidak datar tanpa minat.
Sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian, yang terlihat hanya beberapa pengendara saja yang lewat. Sekilas Hasan melirik jam yang melingkar di tangannya yang sudah menunjukkan Pukul dua dini hari.
'Pantas saja suasananya sudah sepi banget, ternyata sudah jam dua,' batin Hasan.
Rasa kantuk dan lelah mulai menelusup ke dalam diri Hasan, sekuat tenaga dia menahan segala rasa yang ada.
'Sabar Hasan, dua bulan lagi perjuanganmu ini pasti akan menemukan hasil dan kamu akan memetik buah dari apa yang telah kamu perjuangkan.' Batin Hasan kembali bersuara dalam hati.
__ADS_1
"Abi, aku tunggu di dalam rumah ya." Pesan Arum sesaat setelah turun dari mobil dan berjalan cepat menuju rumahnya.
"Syei'! jalannya pelan-pelan!" Hasan kembali mengingatkan Arum, tapi yang di ingatkan malah cuek dan terus saja melangkah tanpa menghiraukan peringatan Hasan.
"Dasar Bumil," gumam Hasan sambil geleng kepala melihat tingkah Arum yang semakin hari semakin aneh.
Hasan kembali menyalakan mobil dan memarkirkannya di dalam garasi kemudian berjalan menuju rumahnya untuk melihat apa lagi yang sekarang di lakukan oleh Arum.
"Bi, sini!" panggil Arum sambil melambaikan tangan memberi isyarat agar Hasan mendekat ke arahnya.
"Tumben duduk di bawah?" tanya Hasan.
Saat ini Arum sudah duduk di atas karpet tebal yang biasanya teronggok di pojok ruangan karena Arum jarang memakainya. Dia lebih suka duduk atau tiduran di atas sofa yanh menurutnya terasa begitu empuk.
"Lagi pengen duduk di bawah Bi," jawab Arum.
"Minum dulu Bi!" ujar Arum memberikan satu gelas teh berukuran sedang yang terlihat sedikit mengepul.
"Ini untuk Abi?" tanya Hasan heran dengan sikap Arum yang tiba-tiba manis.
"Iya, tadi Arum buat teh. Jadi sekalian saja Abi aku buatkan juga." Jawab Arum dengan senyum manis yang terlihat menghiasi wajahnya.
'Tumben banget,' batin Hasan merasa aneh dengan sikap Arum, sejak hamil Arum jarang sekali membuatkan Jasan minuman. Arum lebih sering mintadi masakin dari pada memasak, dia sering mengeluh mual saat mencium aroma bawang putih yang masih mentah, meski aneh Hasan tetap saja sabar menghadapinya. Bagi Hasan mendengar Arum hamil dan keduanya baik-baik saja sudah lebih dari cukup.
"Terima kasih Syei'," ucap Hasan dengan senyum tampannya, Hasan selalu berusaha melakukan yang terbaik agar Arum bisa terus merasa bahagia dan nyaman menjalani masa kehamilannya.
"Bi, ini untukmu, ayo kita makan bersama!" Ajak Arum memberikan satu kotak martabak yang ada di hadapannya.
"Kenapa di berikan padaku Syei'? bukankah tadi kamu yang pengen makan martabak itu?" sahut Hasan.
"Tadi aku sudah makan satu kotak Bi, dan sekarang tinggal dua kotak, aku sengaja pesan tiga agar bisa makan bersamamu saat berada di rumah," jelas Arum.
__ADS_1
Hasan tak lagi bisa berkutik, menolakpun percuma karena jika dia menolak Arum jelas akan marah dang ngambek hal yang paling malas untuk di hadapi oleh Hasan.
"Baiklah, ayo kita makan!" ajak Hasan masih dengan senyum palsunya, meski sebenarnya dia tak ingin makan tapi tetap dia paksa agar Arum merasa lega dan senang.