
"Mas Huda serius kita makan seperti ini?" tanya Desy dengan ekspresi wajah tak percaya melihat Huda yang menyatukan dua bungkus nasi di atas meja.
"Bukankah makan seperti ini akan terasa jauh lebih nikmat?" jawab Huda.
'Bener sih, tapi kalau makannya bareng temen sekamar sudah biasa lah ini makannya bareng Mas Huda, mana bisa aku makan dengan nikmat yang ada grogi,' batin Desy
"Sudah jangan bengong! lebih baik kita makan sekarang. Mumpung nasinya masih hangat," ajak Huda saat melihat Desy tak kunjung makan malah terdiam membisu.
Mendengar ajakan Huda membuat Desy tak bisa berkutik, dan akhirnya memilih untuk menemani Huda makan bersama. Keduanya makan bersama dalam satu tempat yang sama juga meski rasanya sedikit canggung tapi Desy tetap saja berusaha terlihat tenang dan mencoba menikmati makanannya.
"Hek, hek, hek," suara cekukan Huda terdengar begitu nyaring membuat Desy bingung dan segera membuka teh hangat yang masih ada di dalam plastik.
"Minum dulu Mas Huda." Desy memberikan satu platik teh hangat yang ada di depannya.
Huda yang mendapatkan tawaran teh hangat langsung meminumnya tanpa banyak berkomentar.
"Terima kasih," ucap Huda setelah meminum satu plastik teh yang di berikan oleh Desy.
"Hm," sahut Desy.
Meski sedikit canggung Desy masih terus makan dalam satu tempat yang sama, hingga makanan yang ada di atas meja habis tak tersisa.
"Alhamdulillah," lirih Desy setelah meneguk teh manis hangat yang sudah di belikan oleh Huda.
"Manis," celetuk Huda.
"Apanya yang manis Mas Huda?" tanya Desy yang bingung dengan ungkapan kata manis dari bibir Huda.
"Kamu," jawab Huda gamblang.
Desy hanya bisa menunduk malu mendengar penuturan Huda yang mengatakan jika Desy manis.
"Sekarang kamu malah terlihat cantik," Huda kembali menggombal sambil terus menatap ke arah Desy.
"Mas Huda bisa tidak berhenti memujiku?" sahut Desy yang sudah tidak tahan mendengar pujian-pujian yang keluar dari bibir Huda.
__ADS_1
"Tidak," jawab Huda ringan seringan kapas.
Desy hanya terdiam sambil menundukkan kepala mendengar jawaban santai Huda yang membuat Desy semakin malu karenanya.
"Mas Huda aku permisi dulu ya," pamit Desy yang melihat matahari semakin meninggi.
"Belajar yang giat dan cepat lulus!" pesan Huda sebelum Desy pergi meninggalkan halaman belakang.
"Siap," sahut Desy melenggang pergi meninggalkan Huda yang masih setia duduk di kursi yang sejak tadi menjadi saksi pendekatan yang mereka lakukan.
Pagi ini terasa begitu indah bagi Huda yang sedang menikmati masa-masa pendekatan dengan Desy, dan mencoba melupakan Arum yang sudah seutuhnya menjadi milik Hasan yang notabennya adik sepupunya sendiri.
"Huft, ternyata melupakan seorang gadis dengan mencoba mencintai gadis lain jauh lebih menyenangkan dari pada menyendiri," gumam Huda sambil menatap lurus ke atas langit menikmati keindahan langit yang sedang berwarna jingga.
Jika Huda sedang menikmati indahnya langit jingga sangat berbeda denga dua sejoli yang baru saja selesai berolahraga ranjang di pagi hari.
"Bi, tolong lepasin aku mau mandi dulu." Rengek Desy yang ingin segera membersihkan diri karena badannya yang sudah lengket.
"Lima menit lagi Syei'," sahut Hasan masih memejamkan mata.
"Lengket Bi, aku pengen mandi," Arum kembali mengeluh.
"Apa Bi?" sahut Arum dengan wajah lelahnya setelah menuruti keinginan Hasan.
"Bagaimana kalau aku minta lagi?" tanya Hasan dengan hati-hati.
"Abi kita baru melakukannya, kenapa sekarang Abi minta lagi?" tanya Arum masih merasa lelah untuk melayani Hasan yang terlihat tak pernah lelah.
"Abi masih ingin lagi," rengek Hasan yang tampak seperti seorang anak kecil yang meminta jajan pada Ibunya.
Arum hanya terdiam merasa bingung dengan apa yang harus dia jawab, menuruti permintaan Hasan atau tidak menurutinya. Jika menolak Arum takut dosa tapi jika menuruti keinginan Hasan, Arum masih merasa sangat lelah.
Melihat Arum yang hanya diam tanpa suara ataupun jawaban membuat Hasan mengambil inisiatif untuk membangkitkan gairahnya.
Pelan tapi pasti Hasan terus mendekat ke arah Arum dan menjelajah di tempat paling dia sukai, menyentuh titik-titik bagian tubuh Arum yang paling sensitif milik Arum.
__ADS_1
"Abi," lenguh Arum yang mulai merasakan sengatan listrik yang terasa menggodanya.
"Apa Syei?" sahut Hasan tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Sudah Bi, jangan di terusin!" keluh Arum yang merasa sudah tidak tahan dengan perlakuan Hasan yang terus saja menyentuh bagian sesitifnya.
"Syei'! kamu benar-benar membuatku kecanduan, kita melakukannya lagi ya," Hasan mulai merayu Arum yang terlihat sudah hanyut dalam permainannya.
"Ahhh, Abi," Arum tak lagi bisa berkonsentrasi, jangankan menjawab pertanyaan Hasan untuk berkata tidak pun Arum sudah tak mampu.
Melihat Arum sudah tak berdaya berada di bawahnya, Hasan langsung melancarkan niatnya menanam kembali bibit unggul yang dia miliki, berharap bisa tumbuh dan berkembang menjadi Hasan junior.
'Akhirnya aku berhasil juga,' batin Hasan bersorak karena berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
Dan terjadilah olahraga ranjang untuk yang ke sekian kalinya, membuat Arum merasa kelelahan tapi hal itu berbeda jauh dengan apa yang terlihat di wajah Hasan, dia masih saja terlihat segar dan bugar meski peluh memenuhi dahinya, sungguh pagi yang melelahkan bagi kedua insan yang sedang di mabuk asmara.
Satu jam telah berlalu dan kini olahraga yang mereka lakukan baru saja selesai meski lelah tapi senyum tak bisa lagi di sembunyikan. Hasan kembali terlelap setelah aktifitasnya selesai sedangkan Arum yang sebenarnya lelah justru tak bisa memejamkan mata merasakan lengket badannya karena berbaur dengan keringat.
Arum melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian bergegas ke dapur untuk memasak.
"Mbak Hana!" panggil Arum saat melihat Hana sedang duduk di meja makan sambil memotong sayur sop.
"Neng Arum sudah bangun," sahut Hana berdiri dari duduknya berjalan mendekat ke arah Arum.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Hana yang melihat wajah letih Arum.
"Mbak Hana sedang masak apa?" tanya Arum sambil duduk di kursi meja makan samping tempat Hana tadi duduk.
"Saya mau masak sop ayam Neng," jawab Hana dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Biar aku bantu," ujar Arum mengambil alih pisau yang ada di samping sayur sop.
"Tidak usah Neng, biar saya saja," Hana mengambil alih pisau dan sayur yang akan di potong oleh Arum.
"Tidak apa-apa Mbak, biar aku bantu," Arum bersi keras membantu Hana yang sedang memasak.
__ADS_1
"Arum!" panggil Hasan yang baru saja bangun dari tidur lelapnya.
Mendengar namanya di panggil Arum yang semula sedang asyik memasak kini beralih melihat ke arah asal suara. Terlihat Hasan baru saja keluar dari kamar dengan wajah yang lebih segar dan berseri tanpa ada gurat lelah yang terlihat.