Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kakak Ipar Yang Baik


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ....


"Kak Arum!" suara Zahra terdengar memanggil Arum yang lima menit lalu sudah menunggu kedatangan Zahra.


Arum langsung berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya saat dia mendengar namanya di panggil.


"Akhirnya datang juga, yo masuk!" melihat kedatangan Zahra Arum langsung menarik tangannya dan berjalan masuk ke dalam kamar.


"Kak Arum sudah siap?" tanya Zahra saat melihat Arum sudah rapi.


"Sudah, tunggu sebentar! aku mau ambil tas dulu." Pamit Arum berjalan mengambil tas.


"Ayo berangkat!" ajak Arum menggandeng tangan Zahra keluar dari kamar menuju parkiran di mana Pak Marto yang sudah siap menunggunya.


Tadi pagi Hasan dan Husein sepakat untuk menyuruh Ifan mencarikan mobil sewaan untuk mereka gunakan, dan hebatnya sang asisten pribadi bisa mendapatkan mobil sewaan dengan cepat. Dan kini Pak Marto bertugas untuk menemani dan mengantar istri para majikannya itu untuk berjalan-jalan dan berbelanja.


"Apa kamu sudah pernah ke malioboro sebelumnya?" tanya Arum sesaat setelah berada di dalam mobil.


"Dulu pernah Kak, tapi pas ada tour SMP, setelah itu aku sibuk belajar dan gak ada waktu lagi buat ke sana." Jawab Zahra jujur.


"Kamu rajin juga ya," ujar Arum.


"Tidak juga Kak, cuma orang tuaku terlalu sibuk buat nemenin aku ke sini, kalau Kakak bagaimana? apa Kakak pernah pergi ke sini sebelumnya?" Zahra balik bertanya pada Arum.


"Belum pernah, ini pertama kalinya," jawab Arum dengan nada penuh semangat.


"Aku kira Kakak sudah pernah ke sini," Zahra yang melihat semangat Arum mengira jika dia pernah datang ke Jogja sebelumnya.


"Aku aja baru beberapa bulan balik ke indonesia Zahra, mana sempat aku jalan-jalan jauh kayak gini," jawab Arum.


"Loh memangnya Kakak sebelum ini ada di mana?" tanya Zahra.

__ADS_1


Arum yang memiliki sifat ramah memang mengakrabkan diri pada Zahra. Dan Zahra yang awalnya pendiam kini mulai terbuka.


"Sebenarnya aku udah lama tinggal di Australia, dan baru pindah beberapa bulan terakhir." Jawab Arum sambil melihat pemandangan sekitar yang begitu indah dan asri.


"Wahh Kakak tinggal di luar negeri, pasti sangat menyenangkan bisa tinggal di sana," seru Zahra.


"Tidak juga, justru aku lebih suka tinggal di sini, di negaraku sendiri." Jawaban Arum membuat Zahra terkejut di saat kebanyakan orang menginginkan pergi dan bahkan tinggal lebih lama di luar negeri, Kakak Iparnya ini malah lebih menyukai tinggal di indonesia.


"Kenapa Begitu Kak? bukankah lebih enak di sana, tapi itu kata orang sih," Zahra kembali bertanya.


"Seenak-enaknya hidup di negara orang jauh lebih enak hidup di negara sendiri, Dek," jawab Arum dengan senyum yang membuat siapapun merasa senang untuk terus mengobrol bersamanya.


"Di sini kita bisa menjadi diri sendiri, dan satu lagi kita makanan di sini jauh lebih cocok di lidah kita harganya juga murah, kalau kita tinggal di luar negeri kita harus bisa berbaur dengan tetangga yang ada di sana, padahal tradisi dan cara kita hidup jauh berbeda bahkan menu yang tersedia di sana jauh beda dengan menu yang ada di sini," Arum menjelaskan alasan dia lebih suka berada di negaranya dari pada berada di negara orang lain.


"Kakak bener juga sih," tanggap Zahra.


Arum yang belum pernah ke jogja sebelumnya kini mulai bingung mau mencari apa di malioboro.


"Iya, Kak, memangnya kenapa?" Zahra menjawab pertanyaan Arum dengan sebuah pertanyaan.


"Apa kamu masih inget tempat yang bagus untuk di kunjungi, dan apa aja yang bisa di beli di malioboro?" Arum mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi bergelayut di fikirannya.


"Masih kok Kak, nanti kita cari bareng-bareng." Jawab Zahra.


Keduanya terlihat begitu akrab berjalan berdua mengunjungi tempat-tempat yang menyenangkan di malioboro, mereka juga membeli berbagai makanan dan souvenir untuk di bawa pulang.


"Zahra!" panggil Arum.


"Iya, Kak," sahut Zahra berjalan mendekat ke arah Arum yang berdiri tak jauh darinya dengan dua abaya di tangan.


"Eh, kita kembaran yuk!" ajak Arum.

__ADS_1


"Emang Kakak mau kembaran sama aku?" sahut Zahra ragu.


"Kita sekarang sudah jadi saudara Zahra, jadi apa salahnya kalau kita pakai baju kembar?" seloroh Arum.


'Ternyata Kak Arum orangnya asyik dan baik, tidak seperti Kakak Ipar yang banyak di ceritakan di luar sana," batin Zahra.


"Lah, dia malah bengong," gumam Arum yang melihat Zahra malah diam menatapnya tanpa ada suara.


"Zahra! hey! kok jadi bengong gitu sih?" Arum berjalan lebih dekat ke arah Zahra kemudian menepuk bahunya mencoba menyadarkannya dari lamunannya.


"Eh, maaf Kak, aku malah bengong," sahut Zahra degan cengiran di bibirnya.


"Gak apa-apa, kalau kamu gak suka aku juga gak bakal maksa kok Zahra, slow aja gak usah di fikirin sampai bengong gity!" tutur Arum sambil tersenyum manis ke arah Zahra.


"Eh, siapa bilang aku gak suka? aku suka kok Kak, malah suka banget," Zahra segera berjalan cepat menyusul Arum yang hendak mengembalikan dua abaya yang tadi dia pegang.


"Beneran kamu gak keberatan atau terpaksa mau karena aku yang minta?" Arum kembali bertanya mencoba meyakinkan Zahra dengan apa yang di ucapkan barusan.


"Iya, Kak, aku malah seneng di ajak pakai baju kembar sama Kakak, berasa punya Kakak cewek beneran kalau kayak gini," ucap Zahra sambil mengambil alih satu abaya yang ada di tangan Arum.


"Syukurlah kalau gitu, bagaimana pilihanku apa kamu cocok? atau kita cari yang lain aja?" Arum meminta pendapat Zahra sebelum membayar abaya yang dia pilih.


"Ini sudah bagus kok Kak, aku suka, kita beli yang ini aja." Jawab Zahra hendak pergi ke kasir untuk membayar abaya yang di pilih Arum.


"Kamu mau ke mana?" cegah Arum sambik memegang tangan Zahra agar dia berhenti melangkah.


"Aku mau ke kasir buat bayar abaya ini Kak." Jawab Zahra.


"Sudah tidak usah! abaya ini biar aku yang belikan." Ujar Arum mengambil alih abaya yang ada di tangan Zahra dan melenggang pergi meninggalkan Zahra yang masih berdiri di tempat dengan ekspresi wajah heran.


Arum benar-benar jauh berbeda dengan Kakak ipar yang banyak di ceritakan oleh teman ataupun saudaranya, Arum begitu baik dan ramah padanya. Jalan-jalan bersama Arum jadi lebih menyenangkan dan Zahra merasa jika Arum bukanlah Kakak Ipar tapi Kakak kandungnya sendiri.

__ADS_1


'Ya Allah terima kasih atas anugerah cinta dan kasih juga orang-orang baik seperti Mas Husein dan keluarganya, aku benar-benar bersyukur telah di takdirkan bersamanya dan menjadi bagian dari keluarganya.' Batin Zahra sambil menatap Arum yang sedan berdiri di kasir membayar barang yang dia beli.


__ADS_2