
"Mas Husein, kita belum jenguk Kak Arum, bukankah dia sedang hamil muda dan cukup rewel? bagaimana kalau kita jenguk mereka sekarang?" Zahra mencari alasan agar pagi ini dia bisa terhindar dari Husein, bukan Zahra tak mau atau bosan dengan Husein, hanya saja Zahra merasa lelah dan ingin sedikit beristirahat. Semalaman Husein mengajaknya olahraga ranjang dan pagi ini Zahra ingin sejenak beristirahat.
"Jenguknya nanti saja, lebih baik kamu masakin aku dulu. Laper ...." keluh Husein sambil menunjukkan wajah melasnya.
"Mas Husein mau di masakin apa?" tawar Zahra.
"Apapun yang akan kamu masak pasti aku makan." Jawaban yang sungguh membuat Zahra bingung, ini hari pertama mereka berada di rumah baru, dan Zahra cukup bingung ingin memasak apa.
"Ayolah Mas, bilang aja mau di masakin apa? jangan jawab kayak gitu! aku bingung tau mau masak apa," keluh Zahra.
"Kalau bingung pegangan sama Mas aja, biar gak jatuh," Husein benar-benar membuat Zahra sedikit naik darah karena pertanyaan yang dia lontarkan malah di jawab dengan gurauan.
"Ishhh, aku serius, Mas," seru Zahra dengan ekspresi wajah cemberutnya.
"Dek, jangan cemberut gitu!" Husein mengingatkan Zahra.
"Habis, Mas Hasan di tanya serius jawabannya ngelantur gitu, aku jadi sebel tau," sahut Zahra dengan bibir yang masih manyun.
"Kalau kamu terus cemberut gitu bisa bikin Mas khilaf," tutur Husein.
"Khilaf bagaimana maksudnya, Mas?" tanya Zahra bingung.
"Kau tahu, Dek? tiap kali aku lihat bibir manyunmu itu membuat gejolak dalam hatiku semakin menggebu dan rasanya ingin sekali aku melu***tnya," jujur Husein sambil mengerlingkan mata menggoda Zahra.
Zahra yang mendengar pengakuan Husein langsung berjalan menjauh meninggalkan Husein menuju dapur dan mencari bahan apapun yang bisa di masak.
"Nyonya mau ngapain?" tanya Bik Sumik yang baru saja datang ke dapur.
"Ini Bik, Mas Hasan minta di masakin sesuatu, tapi aku bingung mau masak apa?" jawab Zahra.
"Biasanya kalau pagi Tuan Husein suka di masakin sop ayam dan penyet tempe Nyonya," Bik Sumik memberitahukan makanan yang biasa di makan oleh Husein di pagi hari.
"Terima kasih sudah di beritahu Bik, tapi boleh tidak aku minta tolong satu hal sama Bibik?" ujar Zahra membuat Bik Sumik terlihat bingung dengan permintaan yang akan di utarakan oleh Zahra.
"Nyonya mau minta apa?" sahut Bik Sumik.
__ADS_1
"Bibik jangan panggil aku nyonya! apa bisa?" jawab Zahra.
"Memangnya kenapa dengan panggilan nyonya?" Bik Sumik terlihat semakin bingung mendengar permintaan Zahra yang menurutnya langka, biasanya kebanyakan orang akan sangat suka dan bangga jika di panggil Nyonya, karena status mereka akan terlihat tinggi karenanya.
"Aku kurang nyaman aja dengernya Bik," jujur Zahra.
"Kalau tidak mau di panggil Nyonya, Bibik harus panggil apa?" tanya Bik Sumik yang semakin bingung karenanya.
"Bagaimana kalau Bibik panggil aku Zahra saja?" usul Zahra.
"Mana bisa seperti itu, Emmm ...." Bik Sumik terlihat sedang berfikir keras.
"Bagaimana kalau aku panggil Neng Zahra saja?" usul Bik Sumik.
"Boleh juga, panggilan Neng terdengar lebih bersahabat." Ujar Zahra dengan senyum yang mengembang.
"Baiklah, Apa Neng Zahra mau di bantuin masaknya?" Bik Sumik menawarkan diri untuk membantu Zahra memasak.
"Tidak usah Bik, biar Zahra sendiri yang memasak." Dengan nada lembut Zahra menolak tawaran Bik Sumik karena hari ini dia ingin memasak khusus untuk suaminya itu.
Husein memang melarang Bik Sumik untuk memasak, sejak Husein dan Zahra pindah tugas Bik Sumik hanya bersih-bersih, Husein ingin memakan masakan sang istri setiap hari oleh sebab itu dia tak mengizinkan Bik Sumik masak kecuali dalam keadaan darurat.
Zahra yang sebelumnya memang sering membantu sang Mama di dapur kini sudah lihai memasak, apalagi yang di masak hanya sop ayam dan tempe penyet, menu makanan sederhana yang mudah di buat.
Sarapan pagi yang terasa begitu berbeda dan masakan Zahra benar-benar terasa enak juga pas di lidah Husein.
"Terima kasih untuk pagi ini, masakanmu sangat lezat, Dek," puji Husein setelah menikmati sarapan pagi.
"Bagaimana dengan rencana menjenguk Kak Arum, Mas?" tanya Zahra seraya duduk di samping Husein yang sedang bersandar di sofa sambil menikmati siaran televisi.
"Kita ke sana nanti sore saja, aku masih lelah dan ingin beristirahat sekarang," jawab Husein sambil merubah posisinya yang tadi duduk bersandar kini tiduran di ujung sofa.
Zahra hanya bisa tersenyum ke arah Husein kemudian membenarkan posisi duduk tegak melihat saluran televisi.
~
__ADS_1
"Dek, bangun!" Imah mencoba membangunkan Umik yang sedang tertidur pulas di sampingnya, setelah melihat keadaan Arum keduanya kembali ke rumah Umik untuk sejenak beristirahat menunggu waktu memasak bersama calon mantunya tiba.
Umik yang dulu suka susah di bangunin kini telah berubah, hanya mendengar namanya di sebut dia sudah bangun.
"ini sudah jam berapa Kak?" tanya Umik sambil mengumpulkan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna.
"Jam tiga lebih seperempat, Dek," jawab Imah.
"Astaghfirullah, aku ketiduran, ayo Kak!" Umik yang biasanya selalu on time saat menjadi imam sholat ashar kini tak bisa menjadi imam karena kesorean.
"Mbak Hana!" panggil Umik saat bertemu Hana di dapur.
"Iya, Umik," sahut Hana menoleh ke arah Umik.
"Mbak, tolong katakan pada ustadzah untuk menggantikanku sebagai imam," ujar Umik.
"Baik, Umik," jawab Hana berjalan keluar dari dapur untuk menemui Ustadzah dan memberitahu pesan Umik padanya.
Umik dan Imah menjalankan ibadah sholat ashar bersama kemudian berjalan menuju dapur yang ternyata sudah ada Hana dan Desy duduk di di kursi meja makan dengan beberapa bahan makanan yang tergeletak di atas meja.
"Loh, Desy sudah ada di sini?" celetuk Umik saat melihat Desy sudah duduk manis di kursi dengan Hana yang juga ikut duduk di sampingnya.
"Iya, Umik," sahut Desy.
"Kamu lagi bersihin apa?" sahut Imah ikut duduk di samping Desy di sisi yang lain.
"Ini lagi bersihin sayur Neng," jawab Desy, dengan tangan yang masih sibuk mengupas kacang panjang dan memotong jagung manis dengan potongan kecil.
Tangan Desy begitu terampil memotong sayur yang akan di masak.
"Apa Kamu bisa masak Desy?" tanya Imah seraya membantu membersihkan bumbu.
"Alhamdulillah bisa Neng, tapi masakan sederhana saja yang bisa saya masak." Jawab Desy dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Imah tersenyum senang mendengar jawaban Desy.
"Umik, Neng Imah, saya permisi dulu. Ada yang harus saya selesaikan di rumah." Pamit Hana.
__ADS_1
Sebelumnya Umik, Imah dan Hana sudah sepakat jika hari ini Desy yang akan memasak sedang Umik dan Imah hanya membantu. Dan Hana di suruh pergi sebelumnya oleh keduanya karena Imah ingin tahu bagaimana rasa masakan sang calon menantu.