
Makan pagi bersama pasangan di balkon kamar dengan pemandangan indah pegunungan di tambah cuaca dingin yang membuat makan terasa begitu nikmat.
"Abi, buburnya siapa yang buat?" tanya Arum.
"Aku tadi buat khusus untuk kamu." Jawab Hasan.
"Abi serius?" tanya Arum seolah tak percaya jika bubur lezat yang dia makan saat ini masakan sang suami.
"Aku serius Syei', bagaimana rasanya?" Hasan mencoba meyakinkan Arum jika bubur yang mereka nikmati saat ini adalah bubur masakannya, Hasan juga menanyakan rasa dari bubur yang sudah dia buat.
"Enak Bi, enak banget malah, sejak kapan Abi bisa masak?" tanya Arum.
"Sejak dulu, cuma Abi gak punya kesempatan untuk masak di rumah." Jawab Hasan dengan senyum yang terlihat semakin mengembang karena mendapat pujian dari sang istri.
Sarapan pagi yang penuh kebahagiaan itu tiba-tiba terusik dengan suara ketukan pintu yang membuat suasana indah jadi terganggu.
"Den Hasan!" panggil seorang asisten rumah tangga dengan suara keras dan ketukan yang di lakukannya seperti seorang penagih hutang.
"Iya, tunggu!" sahut Hasan beranjak dari tempat duduk berjalan cepat menuju pintu di ikuti oleh Arum yang berjalan di belakangnya.
"Ada apa Bik?" tanya Hasan yang tadinya ingin marah karena Sang Bibik mengetuk pintu begitu kerasnya, tapi kini perasaan marahnya berubah menjadi khawatir saat melihat sang Bibik yang sedang berdiri dengan wajah cemasnya.
"Den Hasan di panggil Umik!" jawab Bibik.
"Di mana?" sahut Hasan.
__ADS_1
"Di kamar Ummah Den, kata Umik di suruh cepat!" jawab Bibik.
"Emangnya ada apa dengan Ummah Bik?" Hasan bertanya sambil berjalan menuju kamar Ummah.
"Saya tidak tahu Den, tapi sepertinya Ummah ngedrop, Den," jawaban sang Bibik semakin mempercepat langkah Arum dan Hasan hingga mereka sampai di depan pintu kamar Ummah yang tak tertutup, di sana terlihat Umik dan anggota keluarga yang lain sudah berkumpul, begitu juga Husein yang sedang mengaji di samping sang Ummah yang terlihat lemah.
"Hasan, Arum, kemarilah Nak!" titah Buya dengan wajah penuh kesedihan dan air mata yang mulai menetes.
"Buya, ada apa ini? bukankah kemarin Ummah baik-baik saja?" cerocos Hasan seolah tak percaya melihat Ummah yang kemarin sempat tersenyum dan terlihat sehat kini terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Semua yang ada di dunia ini bukan milik kita Hasan, tapi milik Allah maka jika Allah sudah menghendaki hambanya harus kembali padanya, maka kita sebagai sesama hamba hanya bisa sabar menerimanya." Jawaban yang begitu menyayat hati, melihat Ummah terbaring lemah tak berdaya membuat Hasan merasa begitu sedih hingga dia tak bisa menahan air mata yang sudah menganak sungai.
"Bi, yang sabar," bahkan suara lembut sang istri tercinta seolah tak terdengar, semuanya terasa sesak bagi Hasan, Ummah yang begitu dia sayangi kini tengah menjalani fase akhir dalam hidupnya di dunia.
"Ummah ikuti Hasan! Laaaailaaahaiillallah," hanya kalimat itu yang bisa Hasan bekalkan untuk sang Ummah saat ini.
Hingga hembusan nafas terakhir Ummah berhasil menyebutkan kalimat tahlil secara sempurna, Hasan merasa bahagia karenanya meski kebahagiaan itu di temani oleh kepedihan yang menyayat hati tapi setidaknya Hasan tahu jika sang Ummah pergi dengan membawa iman.
Umur manusia memang tak pernah ada yang tahu, entah esok atau nanti kita tak pernah mengetahuinya hanya sebuah harapan dan usaha yang bisa kita lalukan. Berharap pergi dengan khusnul khotimah dengan melakukan berbagai kebaikan.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun," lirih Hasan yang masih bisa di dengar oleh anggota keluarga yang lain.
Abi Ilzham yang mendengar sang putra mengucapkan kalimat penuh duka langsung luruh ke lantai, kakinya terasa begitu lemah tak mampu menompang tubuhnya.
"Abi yang sabar, semua ini sudah menjadi takdir kita dan kita harus bisa ikhlas juga menerimanya dengan ikhlas," Umik Uqi langsung ikut duduk saat melihat sang suami sudah terduduk di lantai dengan air mata yang mengalir, meski tanpa suara tapi Umik tahu dengan pasti betapa berat ujian yang harus di hadapi Abi Ilzham kali ini.
__ADS_1
Hari ini adalah hari paling kelam dalam sejarah kehidupan Abi Ilzham, kehilangan seorang Ibu adalah hal terberat dalam hidupnya.
"Ummaaahhh!" jerit Syafa sesaat setelah masuk ke dalam rumah.
Sejak seminggu yang lalu Syafa harus pergi ke luar kota untuk menjenguk mertuanya, saat itu keadaan Ummah sudah membaik, tapi tadi malam Ilzham sempat memberi kabar jika kondisi Ummah tiba-tiba drop dan Syafa tak pernah menyangka jika Ummah harus pergi secepat itu.
"Sabar, Tante," ucap Husein seraya mengusap pelan punggung Syafa mencoba memberi kekuatan agar Syafa bisa menerima dengan ikhlas apa yang telah terjadi.
Tak ada sahutan dari Syafa, dia hanya menangis menumpahkan segala rasa sakit yang muncul di hatinya, bagi Syafa Ummah adalah Ibu sekaligus teman terbaik yang pernah dia kenal dan Syafa merasa sangat bersalah karena dia tak bisa berada di sisi Ummah di saat-saat terakhirnya.
"Mama!" panggil Aly yang merasa heran dengan sang Mama dan keluarga yang lain sedang menangis.
Tanpa menyahuti ucapan Aly sang pangeran kecilnya, Syafa langsung mengangkat tubuh Aly dan menggendongnya, memeluk Aly memberi sedikit kekuatan untuk Syafa menerima ujian yang sedang dia lewati, sungguh saat ini suasana kamar Ummah di penuhi tangis air mata.
"Sabar Sayang," ucap Firman memeluk sang istri dari samping setelah Husein sedikit menjauh dari Syafa.
Ummah di makamkan di pemakaman keluarga yang berada tak jauh dari rumah yang di tempati Ummah dan Buya. Meski terasa begitu berat tapi Hasan dan keluarga mencoba menerima semua yang telah terjadi, karena apa yang sudah di takdirkan tak bisa lagi di ubah.
Ada banyak keluarga dan para alumni yang datang untuk melayat. Begitu pula dengan Zahra dan keluarganya yang ikut datang melayat juga mengantar jenazah sang guru ke peristirahatan terakhir.
Zahra dengan khusus datang untuk menghibur Husein yang terlihat begitu terpukul dengan kepergian Ummah, dengan langkah pasti Zahra mendekat menghampiri Husein yang sedang duduk sendiri di halam belakang yang terlihat sepi, karena semua pelayat dan tamu berada di halaman depan dan ruang tamu, Zahra yang sempat bertemu Umik langsung mendapat perintah dari Umik untuk menghampiri Husein dan menghiburnya.
"Umik," sapa Zahra seraya meraih tangan Umik dan mencium punggung tangannya.
"Nak Zahra, masuklah! temui Husein di halaman belakang, dia sedang sendirian di sana." Umik yang masih bingung dan syok dengan apa yang terjadi langsung menyuruh Zahra menemui Husein di halaman belakang tanpa berfikir panjang, saat ini dia hanya tak ingin terjadi sesuatu pada puteranya itu, karena tadi Umik sempat melihat Husein duduk termenung menatap langit sendirian.
__ADS_1