
Keadaan di dalam pesantren ....
Arum berjalan bersama kedua temannya menuju kantin untuk meminta izin memasak bersama di dapur kantin.
Di pesantren memang di izinkan untuk memakai dapur pesantren saat libur sekolah untuk para santri yang ingin memasak atau memanaskan makanan yang di kirim orang tua mereka.
"Assalamualaikum, Mbok," ucap Fifi yang masuk lebih dulu ke dalam dapur pondok mengintip ke dalam mencari Mbok Bat yang bertanggung jawab di kantin.
"Iya, Mbak," sahut Mbok Bat yang keluar dari tempat istirahat, di dalam dapur kantin ada satu ruangan tempat Mbok Bat beristirahat, ruangan itu di lengkapi dengan kasur dan televisi kecil yang biasa di gunakan Mbok Bat saat menginap di pesantren.
Mbok Bat adalah abdi pesantren, dia seorang janda dengan dua anak. Anak pertamanya sedang kerja di luar kota dan akan pulang seminggu sekali sedang anak keduanya juga berada di luar kota tapi untuk kuliah. Jadi Mbok Bat akan menginap di pesantren selama beberapa hari dan akan pulang sehari sebelum anaknya pulang.
"Mbok kami mau numpang masak mie instan," ujar Desy.
"Waduh Mbak, maaf ya LPG nya habis ini nunggu kiriman. Kalau Mbak mau nunggu silahkan!" jawab Mbok Bat.
"Memangnya kapan LPG nya datang Mbok?" tanya Arum yang merasa sedikit kecewa, pasalnya dia sudah sangat ingin tahu rasa mie instan yang dia pegang. Mengingat perjuangan penuh emosi yang sia lewati hanya demi bisa membeli mie instan.
"Mungkin nanti ba'da dzuhur," jawab Mbok Bat.
"Apa kami masih bisa masak nanti Mbok?" tanya Desy ragu pasalnya habis dzuhur itu jam khusus untuk Mbok Bat memasak persiapan makan sore.
"Sepertinya tidak Mbak, kalau malam mungkin bisa," jawab Mbok Bat.
Arum dan ketiga temannya terdiam saling menatap satu sama lain.
"Kalau malem Aku gak berani masak di sini." Bisik Desy.
"Sama," sahut Sinta.
"Kalian fikir Aku berani?" celetuk Fifi yang membuat ketiga teman yang lain menoleh menatapnya penuh tanya.
"Emang kamu berani?" tanya Sinta spontan.
"Enggak," jawab Fifi bersamaan dengan gelengan kepala.
Hari ini adalah hari jum'at di mana Mbok Bat akan pergi pulang ke rumahnya dan dapur akan sepi tanpa penghuni, ketiga teman Arum yang sudah lumayan lama di pesantren sering mendengar cerita-cerita horor tentang hantu yang suka absen di dapur.
__ADS_1
"Gak jadi Mbok, lain kali aja masaknya." Ucap Desy yang di angguki oleh Sinta dan Fifi. Sedangkan Arum yang tak pernah tahu penyebab ketiga temannya memutuskan untuk membatalkan niat memasak hari ini hanya bisa diam mematung tanpa bisa berkomentar.
"Loh kenapa gak jadi?" tanya Arum menghentikan langkah karena keempatnya kini sedang berjalan menuju Asrama.
"Arum, hari ini adalah hari jum'at yang artinya Mbok Bat akan pulang, karena besok anaknya akan pulang." Jelas Desy.
"Loh memangnya kalau Mbok Bat pulang kenapa?" Arum kembali bertanya karena dia memang masih belum mengerti hubungan antara pulangnya Mbok Bat dengan acara memasak mereka.
"Arum Zeyenk, Aku kasih tahu ya. Di dapur itu banyak penghuni ghaib yang suka muncul tiba-tiba saat suasana sepi. Dan kalau Mbok Bat pulang otomatis dapur akan sepi, mana mau kita masak sambil di temani penghuni ghaib itu." Sinta menjelaskan lebih detail.
"Emang kalau Mbok Bat gak ada penghuni ghaib yang muncul?" Arum masih saja belum lega dengan penjelasan yang di berikan kedua temannya itu.
"Mbok Bat itu juru kunci dapur, jadi tak akan ada yang ganggubjika Mbok Bat ada di sana." Ujar Fifi.
"Ohh, gitu," ucap Arum sambil manggut-manggutkan kepala tanda mengerti.
"Permisi Mbak," seorang santri datang menghampiri keempat gadis yang sedang berdiri di tengah jalan, Arum dan teman-temannya berdiri di tengah jalan membicarakan tentang acara memasak yang tak jadi.
"Iya, ada apa Mbak?" tanya Sinta.
"Iya, kenapa cari saya?" tanya Arum.
"Mbak Arum di panggil Mas Hasan di ndalem," ujar Sang Santri.
"Memangnya ada apa nyari Aku?" tanya Arum yang bingung mendengar jika Hasan sedang memanggilnya.
"Maaf Mbak, saya gak tahu," jawab Sang Santri.
"Baiklah, terima kasih Mbak." Arum yang mendengar jawaban Sang santri yang tak mengerti akhirnya memilih untuk pergi menemui Hasan dari pada harus terus merasa bingung, meski sebenarnya dia masih jengkel dan emosi karena kejadian yang membuat emosinya naik beberapa waktu yang lalu.
"Aku pergi dulu ya." Pamit Arum yang di jawab dengan anggukan oleh ketiga temannya.
Arum berjalan meninggalkan ketiga temannya menuju rumah Hasan.
"Assalamualaikum," ucap Arum berdiri di depan pintu rumah Hasan.
"Waalaikum salam," sahut Hasan berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya.
__ADS_1
"Kak Hasan mencariku ada apa?" tanya Arum tho the point.
"Masuklah dulu!" jawab Hasan, berjalan masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di sofa.
Arum yang melihat Hasan duduk di sofa akhirnya hanya bisa mengikuti langkahnya tanpa bisa melayangkan protes.
"Kak Hasan ada apa manggil Aku?" tanya Arum to the point dengan ekspresi yang masih jengkel.
"Apa kamu masih marah?" bukannya menjawab Hasan malah melempar sebuah pertanyaan.
"Marah karena apa?" Arum yang memang ingin mendengar pengakuan kesalahan dari Hasan sengaja tak menjawab malah kembali bertanya.
"Apa kamu masih marah karena kejadian tadi di koperasi?" tanya Hasan yang membuat Arum tak mengerti karena Hasan menyebut supermarket yang tadi di tujuh Arum dengan sebutan koperasi.
"Koperasi? maksudnya?" tanya Arum lagi.
"Tokoh yang tadi kamu kunjungi itu namanya koperasi Arum," jawab Hasan.
"Ohh," jawab Arum acuh.
"Apa kamu masih marah?" Hasan yang merasa masih belum menjawab pertanyaannya kembali melontarkan pertanyaan.
"Jika Kak Hasan berada di posisiku apa Jak Hasan akan marah?" tanya Arum.
Hasan yang mendapatkan jawaban sebuah pertanyaan yang justru menyulitkannya untuk menjawab.
"Permisi Mas Hasan, ini minumannya." Hana yang sebelumnya sudah di mintai tolong untuk membuat minum dan camilan datang dengan dua gelas teh hangat dan beberapa tempe goreng tepung.
"Terima kasih Mbak," jawab Hasan, sedang Arum masih saja diam tak menggubris kehadiran Hana.
"Silahkan di minum dan di makan!" ujar Hana sebagai tanda jika dia juga akan pergi dari ruang tamu.
"Mbak Hana jangan pergi dari rumah saya dulu, saya gak mau berdua dengan wanita yang belum sah jadi muhrim saya. Khawatir Fitnah Mbak," ucap Hasan.
"Baik Mas Hasan," jawab Hana dengan senyum yang mengembang di pipinya.
Keadaan seketika menjadi Hening saat Hana sudah pergi meninggalkan kedua insan yang sedang memiliki perasaan yang berbeda, Hasan dengan sejuta rasa yang ada di hatinya sedang Arum dengan rasa jengkel yang masih belum bisa hilang secara sempurna.
__ADS_1