Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Jalan-jalan Berdua


__ADS_3

"Tidak, Abi hanya mau ganti baju saja." Jawab Hasan santai sembari melepas baju kokoh yang tadi melekat di badannya.


Hasan yang terlalu senang sampai tak sadar jika saat ini dia hanya memakai baju kokoh dan peci, sejak tadi sore setelah mandi dan menunaikan sholat Hasan sama sekali belum ganti baju, dan dia baru sadar itu ketika dia baru sampai di mobil dan memanasi mesin mobilnya.


Bibir Arum sungguh membuatnya lupa segalanya, Hasan hanya tersenyum mengingat apa yang telah terjadi.


"Loh kok ganti baju Bi?" tanya Arum yang melihat suaminya mengambil kaos.


"Bukankah kita akan berkencan?" Hasan menjawab pertanyaan istrinya dengan sebuah pertanyaan.


"Kencan? maksudnya?" Arum yang tak mengerti maksud dari ucapan Hasan kembali bertanya.


"Iya, ini pertama kalinya kita jalan berdua sebagai sepasang kekasih yang sudah halal, jadi namanya apalagi kalau bukan kencan." Jelas Hasan yang membuat Arum geleng kepala, dia hanya ingin jalan-jalan keluar rumah setelah berbulan-bulan berada di pesantren tapi Hasan malah menganggapnya sebuah kencan.


"Baiklah terserah Abi, Arum tunggu di bawah ya Bi." Arum segera berpamitan keluar kamar sebelum Hasan membuka baju di depannya dan menampakkan roti sobek yang dia miliki dan membuat Arum tergoda karenanya, bagaimanapun Arum juga gadis biasa memiliki perasaan yang sama dengan gadis lainnya.


"Baiklah tunggu di bawah saja!" sahut Hasan.


"Tumben malem gini kamu rapi banget Dek?" tanya Steve.


"Aku mau jalan-jalan Kak." Jawab Arum.


"Emang kamu mau ke mana?" Steve yang merasa jenuh sendirian di ruang keluarga sejak tadi kembali bertanya.


"Mau ke taman kota." Jawab Arum.


"Kamu tunggu di sini! Aku ikut Dek!" ucap Steve.


"Boleh Kak, tapi cepetan ya!" Arum yang tak memikirkan apapun langsung menyetujui permintaan sang Kakak, sedang Hasan yang mendengar dan melihat interaksi Arum dengan kakaknya merasa sedikit kecewa karena dia membayangkan acara kencan yang akan di lakukan akan terganggu dengan keberadaan Steve di tengah-tengah mereka.


"Syei'!" panggil Hasan.


"Ab~Abi!" sahut Arum sambil terperangah melihat perubahan penampilan Hasan yang jauh berbeda dengan biasanya, kini Hasan memakai celana jeans yang di padukan dengan kaos dan jaket hoddie yang membuatnya terlihat santai tapi semakin tampan.

__ADS_1


"Kamu kenapa Syei'?" tanya Hasan bingung saat melihat Arum hanya diam mematung sambil menatap dirinya.


"Arum!" Hasan kembali memanggil Arum sembari berjalan mendekat, tapu tetap saja Arum tak merespon ucapan Hasan.


"Hey, are you okey honey?" Hasan mengguncang pelan pundak Arum yang masih diam mematung menatapnya yang sudah ada di sebelahnya.


"Eh, iya kenapa Bi?" sahut Arum yang masih memanggilnya Abi meski sudah ada di ruang keluarga. Arum biasanya akan memanggil Hasan dnegan sebutan Abi saat berada di dalam kamar dan hanya berdu dengan Hasan, tapi saat ini Arum tetap memanggilnya Abi meski mereka berada di ruang keluarga.


"Sudah romantis-romantisannya di lanjut nanti saja. Lebih baik kuta berangkat sebelum hari semakin malam." Sela Steve yang baru datang dan melihat sang Adik sedang bersama suaminya.


"Kakak apaan sih, siapa juga yang romantis-romantisan?" elak Arum yang merasa dirinya tak melakukan apa yang di katakan oleh Steve.


"Iya juga gak apa-apa kalu Dek, Hasan kan suamimu gak ada yang ngelarang kok, Kakak justru mendukung kamu biar Kakak cepet dapet keponakan yang lucu." Ucapan Steve membuat Hasan tersenyum senang karena merasa memiliki pendukung, dia mengacungkan dua jempol ke arah Steve sedan Arum langsung pergi meninggalkan keduanya sambil menggelengkan kepala melihat tingkah kedua laki-laki tampan di depannya itu.


"Ayo berangkat!" seru Arum karena dia melihat Hasan dan Steve tak bergerak malah diam di tempat.


Ketiganya berangkat menuju taman kota menikmati indahnya pemandangan dan ramainya suasana.


"Rasanya sudah lama kita gak ke sini ya Kak," ucap Arum.


"Khem," Hasan yang merasa terabaikan berdehem agar kedua manusia yang bersama dengannya menyadari keberadaannya.


"Abi kita beli itu yuk!" ajak Arum yang tahu jika saat ini suaminya merasa terabaikan, entah mengapa sejak hati pernikahan itu Arum bisa mengerti suasana hati Hasan yang kadang berubah-ubah.


"Kakak jalan sendiri ya, Aku mau jalan sama suamiku dulu." Ujar Arum.


"Iya, udah sana pergi!" Steve yang mengerti jika Hasan dan Arum memang membutuhkan waktu untuk berdua mulai menjauh mencari tempat yang enak untuknya menikmati suasana taman kota.


"Kamu suka martabak?" tanya Hasan.


"Lumayan Bi," jawab Arum.


Sepertinya saat ini Arum sudah mulai terbiasa memanggil Hasan dengan sebutan Abi tanpa ada rasa canggung, meski mereka baru menikah tapi keakraban yang terjadi mengalir begitu saja.

__ADS_1


"Kalau Abi suka apa?" Arum balik bertanya, keduanya memang belum mengenal sepenuhnya karena mereka memang baru bertemu setelah lama terpisah.


"Aku suka kamu." Jawaban Hasan sukses membuat Arum malu.


"Ishhh maksud Aku Abi suka makanan apa?" Arum yang mendapat jawaban tak sama dengan apa yang dia harapkan kembali bertanya.


"Makan kamu." Jawaban Hasan lagi-lagi membuat Arum malu.


"Sudahlah, percuma juga tanya sama Abi," Arum yang mendapat jawaban tak seirama dengan pertanyaan yang dia ajukan merasa malas untuk bertanya lagi.


"Jangan ngambek! orang yang suka ngambek itu cepet tua." Goda Hasan yang merasakan sesuatu yang berbeda saat menggoda Arum yang langsung memerah pipinya.


"Aku suka makan apa aja, yang penting halal dan enak apalagi kalau makanannya kamu yang buat." Cicit Hasan.


Semua jawaban dan ucapan Hasan benar-benar membuat Arum merasa malu bercampur bahagia, Hasan selalu punya seribu cara agar bisa membuat Arum semakin tertarik dan bisa mencintainya.


"Kita makan di sana yuk Bi!" ajak Arum sembari berjalan menuju sebuah kursi panjang yang di sediakan untuk para pengunjung.


"Tunggu! lebih baik kita cari minum dulu setelah itu baru duduk." Usul Hasan yang berjalan menuju stand penjual es yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Ini minumlah!" Hasan menyerahkan satu cup es coklat ke arah Arum.


"Abi kok pilih rasa coklat?" tanya Arum.


"Bukankah kamu suka semua makanan rasa coklat?" tebak Hasan.


"Kok Abi tahu?" tanya Arum lagi dengan ekspresi wajah terkejutnya.


"Apa sih yang gak Abi tahu tentang kamu? Abi hampir mengetahui semua tentangmu." Jawab Hasan.


"Abi tahu dari mana?" Arum terus bertanya.


"Sudahlah jangan tanya itu terus, gak penting juga Abi tahu dari mana yang penting sekarang lebih baik kita makan martabak spesial yang udah kita beli sebelum dingin.

__ADS_1


Arum hanya bisa pasrah mendengar jawaban Hasan yang sebenarnya belum bisa memuaskan hatinya, tapi Arum juga tak bisa memaksa Hasan untuk menjawab semua yang dia tanyakan dengan sejelas-jelasnya.


__ADS_2