
Dengan hati-hati Zahra membuka koper. Ini pertama kalinya dia membuka barang milik laki-laki dengan sedikit gemetar Zahra mengambil sepasang baju hingga matanya tanpa sengaja melihat benda keramat berbentuk segitiga terlipat rapi di antara tumpukan baju yang dia ambil.
Meski sedikit gemetar Zahra tetap berusaha mengambilnya dan menata rapi di atas kasur, kemudian duduk tenang di samping baju yang tadi dia bawa.
Tok ... tok ... tok ....
"Mas Husein, makanannya sudah siap," suara Bibik terdengar dari balik pintu menyadarkan Zahra yang sedang berkelana dengan fikirannya.
"Bibik," lirih Zahra berdiri dan segera membuka pintu sebelum Bibik kembali mengetuk atau memanggilnya.
"Ada apa Bik?" sebuah kalimat tanya langsung terlontar dari bibir Zahra sesaat setelah membuka pintu.
"Eh, Non Zahra, ini Non Bibik mau nganterin makanan dan minuman pesenan Mas Husein." Jawab Bibik sambil memberikan satu nampan berisi dua piring makanan lengkap dengan dua gelas es teh dan satu botol air mineral yang dis bawa.
"Terima kasih ya Bik," ucap Zahra mengambil alih nampan yang sejak tadi di bawa oleh Bibik.
"Apa Non Zahra tidak butuh sesuatu lagi?" tawar Bibik sebelum pergi.
"Tidak Bik, terima kasih," jawab Zahra sopan dengan senyum manis yang kini terlihat di wajahnya.
"Baiklah Non, kalau begitu Bibik pergi dulu. Permisi." Pamit Bibik melenggang pergi meninggalkan Zahra yang kini berjalan masuk ke dalam rumah.
Zahra langsung menyimpan makanan yang tadi di bawa oleh Bibik di atas meja rias yang berada tak jauh dari tempat dia duduk tadi, kemudian kembali duduk di tempat semula senelum Bibik datang.
"Baju ganti Mas di taruh mana, Dek?" tanya Husein yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang cukup membuat Zahra sport jantung.
__ADS_1
"Astaghfirullah!!" jerit Zahra sambil menutup mata saat melihat Husein keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya dan hanya menutupi area inti tapi menampakkan area yang lainnya.
"Kenapa tutup mata, Dek?" tanya Husein heran.
"Mas Husein kok gak pakek baju sih," keluh Zahra dengan tangan yang masih menempel indah di wajahnya.
Husein yang menyadari jika istrinya itu tengah malu dan bersemu karena dia tak memakai sehelai benangpun memiliki sebuah ide dalam otaknya.
"Kenapa kalau gak pakai baju? apa kamu lupa kalau kita sudah Sah jadi suami istri? bukankah semua yang kau lihat ini sudah halal dan resmi menjadi milikmu, dan apa yang ada pada dirimu juga sidah halal bagiku, terus kenapa kamu haris tutup mata, Dek?" ujar Husein dengan senyum yang sulit untuk di artikan.
"Buka, Dek!" titah Husein berjalan semakin memdekat ke arah Zahra yang masih saja menutup matanya.
Husein semakin mendekat hingga dia berada tepat di depan Zahra," Dek, buka matamu!" Husein kembali memberi perintah.
Pelan tapi pasti Zahra membuka mata hingga matanya membulat seempurna saat dia melihat Husein sudah berdiri di depannya dan mulai membungkukkan badan mendekat ke arahnya.
Melihat Zahra terdiam membuat Husein tersenyum seolah dia memiliki kesempatan untuk mencicipi bibir ranum yang saat ini menjadi sumber perhatiannya.
Pelan tapi pasti Husein terus memdekat hingga wajahnya berjarak sangat dekat dengan wajah Zahra, semakin Huda mendekatkan wajahnya Zahra semakin menjauhkannya, perlahan tapi hal itu bukannya membuat Husein marah malah mebuat dia tersenyum bahagia karena semakin Zahra mundur maka posisi mereka semakin syahdu, kini Husein sudah berhasil mengungkung Zahra yang tak menyadari jika saat ini dia sedang terlentang karena ingin menjauh dari Husein.
Husein tak lagi mau menyia-nyiakan waktu dengan segera dia menempelkan bibirnya, menikmati bibir ranum yang sejak tadi menggodanya, meski Zahra hanya diam tapi Husein tak mempermasalahkannya karena dia yakin jika sebelum ini Zahra tidak pernah berciuman sebelumnya.
Husein benar-benar menikmati cium**n yang dia lakukan, sungguh rasanya sangat manis dan membuatnya mabuk kepayang, saat ini juga ci***an pertama Husein tapi dia sudah cukup lihai bermain karena sering melihat video sebagai tempatnya belajar berciu**n.
"Ehhh," lenguh Zahra membuat Husein semakin hilang kendali, hasrat yang di milikinya semakin menggebu tatkala mendengar lenguhan dari bibir Zahra sedang sang empu sudah terlena dengan permainan yang di lakukan oleh Husein, luma**n, hisapan dan gigitan kecil yang di lakukan Husein benar-benar membuat Zahra terlena hingga Husein melepas ciu**nnya setelah meraa oksigen dalam paru-parunya menipis.
__ADS_1
"Nafas, Dek!" titah Husein membuat Zahra malu setengah mati di la langsung menundukkan kepala setelah Husein berdiri. Pipinya kini memerah seperti buah cerry yang siap untuk di petik.
"Bibirmu manis, Dek, tapi sayang kita gak hisa lanjutin karena sebentar lagi pihak MUA akan datang. Kita lanjut nanti ya," ujar Husein ringan seringan kapas sambil mengedipkan sebelah mata menggoda Zahra yang kini mulai mendongak.
"Mas Husein apaan sih," keluh Zahra, dia terlihat salah tingkah dengan pipi yang memerah, sedang Husein tak lagi menjawab dia malah dengan santainya melepas handuk yang melilit tubuhnya.
"Mas Husein!" protes Zahra yang langsung balik badan melihat suaminya itu tak memakai apapun karena handuk yang tadi dia pakai sudah luruh ke lantai.
"Jangan takut! mulai hari ini biasakan diri untuk lihat apa yang ada padaku, karena mulai nanti malam kamu akan sering melihat bahkan merasakannya." Sahut Husein santai.
Zahra hanya dia mematung tanpa bisa bergerak dia sangat khawatir jika bergerak ataupun berbalik badan dan melihat belalai panjang yang kini tengah menegak itu lagi.
"Aku masih belum terbiasa, Mas," ujar Zahra tanpa merubah posisinya.
"Mulai nanti kamu harus biasakan." tegas Husein.
'Grepp'
Tanpa aba-aba Husein memeluk tubuh Zahra yang mematung membelakanginya, dan sikap Husein sukses membuat Zahra terkejut, tubuhnya semakin terasa kaku tak bisa di gerakkan karena tegang.
"Santai saja, jangan terlalu tegang! aku sudah jadi suamimu sekarang, dan memelukmu seperti ini bukan hal yang akan menimbulkan dosa, tapi akan menimbulkan pahala untuk kita," ucap Husein pelan tepat di telinga Zahra membuat sang empu merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan.
Sejenak suasana menjadi hening dan sunyi dengan posisi Husein masih memeluk Zahra. Hingga kesadaran Zahra mulai kembali.
"Mas, tadi Bibik membawakan makanan untuk kita. Apa kamu lapar?" setelah mengatur detak jantungnya yang berpacu dan mengumpulkan segala keberanian. Zahra mengatakan apa yang seharusnya sejak tadi dia katakan.
__ADS_1
"Apa makanan dan minumannya sudah di antar?" Husein balik bertanya.
"Sudah, Mas," jawab Zahra.