Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Mau Main Lagi?


__ADS_3

Pagi terasa begitu dingin awan mendung menyelimuti langit membuat hawa dingin terasa semakin merasuk ke dalam tulang, hal ini tak berfungsi bagi sepasang anak manusia yang baru saja berolahraga, keringat yang masih membasahi badan membuktikan betapa aktif keduanya berolahraga.


"Syei'!" bisik Hasan yang masih setia memeluk sang istri dari belakang.


"Hmm," sahut Arum lemah, saat ini tenaganya benar-bebar terkuras habis setelah menuruti keinginan sang suami, bukan hanya sekali tapi Hasan meminta Arum menemaninya bermain hingga tiga ronde.


"Kamu haus gak?" tanya Hasan santai tanpa dosa sedikitpun, wajah datar Hasan membuat Arum sedikit jengkel, bagaimana dia bisa bertanya Arum haus atau tidak? sedangkan keringat mereka saja terlihat begitu banyak. Dan jelas saja jika Arum merasa haus.


"Haus Kak," jawab Arum tanpa mengubah posisi bahkan dia masih terpejam di bawa selimut.


"Tunggu di sini! biar aku ambilkan minum dulu." Pamit Hasan berdiri melenggang pergi menuju kamar mandi tanpa sehelai benangpun yang menutupi badannya.


"Ishhh, pakai baju dulu kenapa Kak," protes Arum saat melihat Hasan sang suami dengan santainya berjalan menuju kamar mandi.


"Kalau gak mau lihat tutup aja matanya!" sahut Hasan santai.


Arum yang mendengar jawaban hanya bisa diam dan kembali menutup mata menikmati badan yang mulai terasa remuk redam juga di beberapa sisi yang terasa sakit.


Hasan cukup memakan banyak waktu untuk membersihkan dirinya, hingga Arum mulai terlelap hanyut dalam dunia mimpi Hasan baru selesai dengan ritual mandinya, badan Hasan terasa jauh lebih segar dari sebelumnya, dan Hasan yang merasa sudah segar perlahan mendekati Arum berniat menanyakan menu makanan yang di inginkan untuk sarapan pagi ini.


"Syei'!" Hasan memanggil Arum dengan suara pelan mencoba mengecek apakah Arum sudah tertidur atau belum.


Arum yang merasa sangat lelah tak lagi merespon panggilan Hasan, Arum masih anteng tanpa bergerak menikmati indahnya dunia mimpi yang selalu membuatnya bahagia.


Hasan yang melihat Arum tak terusik dengan panggilan dan guncangan di bahu yang di berikan olehnya memilih untuk pergi meninggalkan kamar dan menyiapkan sarapan untuknya dan Arum.


"Pagi, Den Hasan," sapa seorang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan dapur dan menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah yang lain.

__ADS_1


"Pagi, Bik," sahut Hasan dengan senyum ramah yang terlihat begitu mempesona di wajah Hasan.


"Ada yang bisa saya bantu Den?" tanya sang Bibik yang berjalan mengikuti langkah Hasan, berjalan menuju tempat penyimpanan makanan.


"Tidak usah Bik! saya ingin masak sendiri." jawab Hasan yang kini mulai mengambil bahan untuk di masak.


Pagi ini Hasan berencana membuat bubur ayam spesial dengan kuah soto ayam juga susu sapi hangat untuk Arum. Hasan sangat mengerti jika saat ini Arum pasti kelelahan karena dirinya juga merasa sedikit lelah.


"Bik, apa di sekitar sini ada tukang pijat?" tanya Hasan sambil menggoreng ayam untuk toping Bubur ayamnya.


"Ada Den, apa Aden mau pijat?" sahut Bibik sambil bertanya pada Hasan.


"Iya, Bik, kalau bisa yang sepasang ya," pinta Hasan.


"Sepasang bagaimana maksudnya Den?" Bibik yang tak mengerti dengan ucapan Hasan kembali bertanya.


"Satu tukang pijat laki-laki dan satu tukang pijat perempuan kalau bisa yang tua Bik," Hasan menjelaskan maksud dari permintaannya.


Satu setengah jam sudah berlalu, semua masakan telah siap untuk di santap lengkap dengan susu sapi segar yang juga selalu tersedia di rumah Ummah karena selain memiliki kebun teh keluarga Hasan juga memiliki peternakan sapi peras yang cukup besar di desanya.


"Wahh pengantin baru makin rajin aja, pagi-pagi udah masak," goda Husein yang baru saja datang ke arah dapur dan melihat sang Kakak yang sedang menuangkan bubur ayam ke dalam mangkuk.


"Baru bangun kamu, Dek?" sahut Hasan tanpa menoleh ke arah Husein.


"Iya, hmm aroma bubur Kakak bikin laper, aku minta kak." Husein yang sudah merasakan bubur ayam buatan sang Kakak saat masih kuliah dan ngekos dulu, kini mulai meras lapar setelah mencium aroma bubur yang begitu menyengat.


"Ambil mangkuk sana! biar Kakak tuangin buburnya." Titah Hasan.

__ADS_1


Hasan memang sengaja membuat sedikit lebih banyak untuk keluarga yang lain.


"Jadi kangen masa-masa kuliah dulu Kak," lirih Husein yang masih di dengar oleh Hasan.


"Kangen masa kuliah atau kangen deretan mantan yang ada di sana?" tanya Hasan yang kini berbalik menggoda Husein.


Sejak dulu Husein selalu memiliki seseorang yang bisa dekat atau bahkan dengan terang-terangan ada yang menyatakan cinta padanya, sangat jauh berbeda dengan Hasan yang pendiam dan bersifat dingin. Meski sebenarnya ada banyak gadis yang diam-diam menyukainya tapi kebanyakan dari mereka takut untuk mendekat karena sifat dingin yang di miliki oleh Hasan.


"Kangen bubur buatan Kakak," jawab Husein mengambil satu gelas teh hangat dan satu bubur yang sudah di tuangkan oleh sang Kakak. Kemudian melenggang pergi meninggalkan Hasan yang memanggilnya karena teh yang di bawa Husein sebenarnya teh milik Hasan.


"Dek, teh Kakak jangan di bawa juga!" teriak Hasan yang justru tak di gubris oleh Husein.


"Kakak nanti minta buatin Bibik aja ya," sahut Husein terus melangkah tanpa menghentikan langkanya. Husein malah terus berjalan menuju ruang keluarga dengan santainya.


"Dasar kau Dek," keluh Hasan dengan senyum yang mengembang seraya berjalan kembali ke arah kompor untuk membuat kembali teh hangat yang tadi di bawa oleh sang Adik.


"Arum, bangun!" suara lembut Hasan mendayu-dayu di telinga Arum yang masih saja terlelap dalam dunia mimpi.


"Eummm, lima menit lagi Bi," sahut Arum sambil merapatkan selimutnya tanpa membuka mata.


"Syei', Abi sudah buatin sarapan dan susu untukmu, bangunlah! sudah waktunya bangun," Hasan masih belum menyerah untuk membangunkan Hasan yang terus saja berbisik di telinga Arum.


"Naiklah Bi," jawab Arum, mendengar kata sarapan di telinganya Arum mencoba melawan segala rasa kantuk yang menyerang dan mulai memaksa mata yang tadinya terasa begitu berat.


Senyum Hasan adalah hal pertama yang di lihat Arum, sungguh pagi yang indah untuk mengawali hari.


"Sudah jangan di tatap terus! lebih baik cepat mandi kita sarapan bersama." Ujar Hasan saat melihat Arum yang tak beranjak dari temlat tidur malah diam menatapnya.

__ADS_1


"Abi terlihat semakin tampan pagi ini," seloroh Arum yang kini tak lagi malu untuk mengungkapkan segala rasa yang bersemayam di hatinya.


"Kenapa? apa kamu mau main lagi? hm?" tawar Hasan dengan alis yang naik turun menggoda Arum yang langsung berdiri melangkah menuju kamar mandi sebelum Hasan memintanya untuk menemani Hasan bermain lagi.


__ADS_2