
"Sholat subuh dulu Bi, waktunya keburu habis kalau kita main," jawab Arum.
Hasan langsung meraih ponsel yang berada tak jauh dari tempatnya mengukung Arum, melihat angka yang tertera di dalamnya.
"Astaghfirullah, sudah setengah lima lebih," lirih Hasan menatap layar ponsel yang kini menyala.
Hadan langsung berdiri melenggang pergi meninggalkan Arum yang masih terbaring do tempat menuju kamar mandi, sedangkan Arum hanya tersenyum lucu melihat tingkah Hasan.
"Syei'! kamu gak sholat?" tanya Hasan saat melihat sang istri malah asyik bermain ponsel sambil duduk menyilangkan kaki di pinggir ranjang.
"Tadi udah Bi," jawab Arum dengan senyum yang mengembang dan terlihat begitu manis di bibir Arum.
Sebelum membangunkan Hasan, Arum sudah sholat lebih dulu. Kini dia tinggal duduk santai menunggu Hasan sang suami selesai sholat, Hasan selalu membutuhkan waktu sedikit lebih lama saat melaksanakan sholat dan Arum yang mulai bosan beranjak pergi keluar dari kamar mengambil dua botol air minum dalam kemasan yang tersimpan di lemari es kecil yang sudah di sediakan di dalam kamar hotel kemudian kembali ke dalam kamar untuk menemui Hasan.
"Abi ke mana ya?" lirih Arum sesaat setelah dia masuk ke dalam kamar dan tak menemukan Hasan di tempatnya.
"Cari siapa Syei'?" suara Hasan terdengar baru keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat lebih segar tapi baju yang dia paksi sudah berganti piama setelah tadi memakai baju kokoh untuk sholat.
"Cari Abi, mau cari siapa lagi? ini untukmu Bi." Arum berjalan mendekat berniat memberikan satu botol minuman yang dia bawa pada Hasan.
"Kamu mau goda Abi lagi?" tanya Hasan menatap Arum dari bawah ke atas dengan tatapan lapar.
"Menggoda apa Bi? aku kan cuma mau ngasih minuman ini." Jawab Arum polos membuat Hasan semakin gemas.
"Baiklah, aku memang butuh minum agar lebih bertenaga saat bermain nanti," jawab Hasan mengambil alih minuman yang di sodorkan Arum.
"Memangnya Abi mau main apa?" Arum kembali bertanya seolah-olah dia tak mengerti apa maksud dari ucapan Hasan.
__ADS_1
"Abi mau main ke gua gelap penuh kenikmatan," jawaban Hasan sukses membuat mata Arum melebar sempurna.
"Mana ada gua penuh kenikmatan Bi, di mana-mana gua itu gelap dan lembab, jadi gak ada yang nikmat," ucap Arum menggelengkan kepala heran dengan jawaban Hasan.
"Ada Syei', kamu mau tahu gak di mana gua penuh kenikmatan itu?" Hasan menaruh botol yang dia bawa kemudian berjalan mendekat ke arah Arum.
"Abi mau apa?" tanya Arum heran melihat Hasan berjalan mendekat bukannya mengajak Arum keluar melihat gua yang dia maksud.
"Abi mau jalan-jalan ke gua penuh kenikmatan." Jawaban yang sungguh membuat Arum heran, sejenak dia berfikir dengan keras untuk memahami maksud dari ucapan Hasan, hingga beberapa menit kemudian Arum mulai mengerti dengan gua yang di maksud oleh Hasan.
"Jangan bilang gua yang Abi maksud itu ..." suara Arum tak lagi di lanjutkan karena dia mulai mengerti dengan gua yang di maksud oleh Hasan.
"Hm, kamu tepat sekali, gua lembab tersembunyi dan hanya aku yang bisa datang ke sana, gua milikmu yang kini juga jadi milikku," jelas Hasan membuat Arum mengerti, kini dia hanya bisa diam membiarkan Hasan melakukan apapun yang dia inginkan.
Pagi hari yang cukup dingin bagi sebagian orang tak berlaku bagi Hasan dan Arum yang kini di penuhi peluh, olahraga panas di pagi hari membuat keduanya terlihat begitu lemas setelah beberapa ronde yang terlewati.
Satu kecupan manis mendarat indah di kening Arum yang terkapar lemas di atas ranjang dengan mata yang tertutup, kini badan Arum terasa begitu lelah mengingat Hasan melakukannya berkali-kali, apa yang di ucapkannya semalam benar-benar dia wujudkan, Arum terlelap kembali sesaat setelah permainan usai, seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga.
"Terima kasih istriku Sayang," bisik Hasan kemudian bergabung bersama Arum menuju dunia mimpi yang begitu indah setelah seluruh hasrat yang sempat tertunda kini telah tuntas.
Jika kedua sejoli itu tertidur lemas setelah memainkan permainan panas berkali-kali sangat berbanding terbalik dengan Husein dan Zahra yang terlihat bersemangat untuk berolahraga pagi diluar ruangan.
"Kalau pagi di sini cukup ramai juga ya, Mas," ucap Zahra memperhatikan begitu banyak orang yang hilir mudik di hadapannya.
Zahra duduk meluruskan kaki di tepi jalan mengistirahatkan badan setelah cukup jauh berjalan.
"Kamu jangan ke mana-mana! aku mau nyari minum dulu sebentar." Pesan Husein berdiri melenggang pergi meninggalkan Zahra yang masih setia duduk selojoran di tepi jalan.
__ADS_1
"Mas!" panggil Zahra.
"Ada apa?" tanya Husein berbalik menghadap ke arah Zahr dan menghentikan langkahnya.
"Jangan jauh-jauh ya," jawab Zahra dan Husein hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Mas tunggu!" Zahra kembali menghentikan langkah Husein yang baru saja berbalik hendak melanjutkan langkahnya.
"Ada apa lagi, Dek?" Husein kembali menghentikan langkah menghadap ke arah Zahra.
"Jangan lupa cemilannya ya, Mas! aku lapar." Zahra tersenyum semanis mungkin mencoba mengusir ekspresi kesal yang mulai terlihat di wajah Husein.
"Baiklah, apa ada yang mau di pesan lagi?" tawar Husein sebelum kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.
"Sudah tidak ada lagi, Mas," jawsb Zahra dengan senyum yang terlihat semakin lebar.
Husein kembali berjalan meninggalkan Zahra setelah sang istri benar-benar tak meminta apapun lagi, Husein berjalan mencari minum dan beberapa camilan yang bisa mengganjal perutnya yang belum terisi apapun sejak bangun tidur tadi.
Cukup lama Zahra menunggu Husein kembali, dia yang tadinya duduk berselojor di tepi jalan kini berpindah duduk di kursi yang di sediakan tak jauh dari tempatnya tadi duduk. Hingga Husein kembali dengan satu kantong plastik berukuran sedang terlihat penuh di tangan Husein dan hal itu membuat senyum Zahra semakin mengembang.
"Wahh Mas Husein beli apa saja," sambut Zahra setelah Husein duduk di sampingnya.
"Ini aku beliin es buah, lumpia, cilok, putu dan satu lagi pecel lontong plus kerupuk juga air mineral sebagai pelengkap." Husein mengabsen satu per satu makanan yang tadi dia beli dan menunjukkannya ke arah Zahra.
"Masya allah, banyak banget Mas, bagaimana aku bisa menghabiskannya?" sahut Zahra saat melihat setiap menu yang di beli oleh Husein masing-masing ada dua porsi.
"Makanlah! aku yakin ini akan habis, bukankah kita belum makan sejak tadi," jawab Husein.
__ADS_1
Zahra hanya bisa mengikuti apa yang di katakan oleh Husein tanpa mau mendebatnya, toh apa yang di katakan Husein benar jika dia belum makan apapun sejak bangun tidur tadi. Tanpa banyak berdebat Zahra menikmati makanan khas jogja yang di belikan oleh Husein sambil menikmati pemandangan yang ada.