Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Dasar Plagiat


__ADS_3

"Iya, Bi," sahut Arum yang perlahan membuka mata melihat pemilik suara lembut yang sering dia dengar.


"Di ruang tamu ada Husein dan Zahra, mereka ingin bertemu denganmu," tutur Hasan dengan senyum yang selalu terlihat di wajahnya.


Arum yang mendengar penuturan Hasan perlahan bangun dan duduk bersandar di sandaran sofa.


"Jika kamu masih merasa lemas atau tak enak badan jangan di paksakan! biar aku yang menemui mereka." Ujar Hasan, merasa tak tega dengan keadaan Arum yang terlihat pucat dan lemas.


"Tidak Bi, aku kuat kok," elak Arum berdiri berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Husein dan Zahra yang menunggunya di ruang tamu.


Hasan hanya bisa mengikuti langkah Arum yang berjalan lebih dulu menuju ruang tamu menemui Husein dan Zahra.


"Kak Arum, hati-hati!" seru Zahra reflek berjalan mendekat ke arah Arum yang terlihat berjalan dengan keadaan badan yang lemas.


"Aku tidak apa-apa, Dek," ucap Arum merasa tak enak hati dengan perilaku reflek Zahra yang memapahnya.


"Sudah, Kak, biar aku bantu," Zahra tetap mendampingi Arum yang berjalan sedikit tertatih.


"Ini ada buah segar untuk Kakak." Zahra membuka satu kantong plastik berisi beberapa macam buah yang dia bawa tadi.


"Terima kasih, Dek," respon Arum dengan perasaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dia merasa begitu bahagia mendapatkan adik ipar yang begitu baik dan perhatian seperti Zahra.


"Sama-sama, Kak, apa Kakak mau makan salah satunya? biar Zahra yang mengupasnya untuk Kakak." Tawar Zahra.


"Aku ingin makan apel ini, Dek, tapi bukan kamu yang ngupasin," jawab Arum.


"Kakak ingin apel? biar aku yang mengupasnya." Zahra masih bersi keras ingin mengupas buah apel yang di inginkan sang Kakak Ipar.


"Aku ingin Abi yang mengupas apel untukku," tukas Arum membuat Husein bingung, dia mengernyitkan dahi mendengar permintaan Arum.


'Ngupas apel aja serepot ini, bagaimana dengan hal lainnya?' batin Husein yang merasa aneh dengan sikap seorang bumil.


"Tunggu sebentar! biar Abi ambil pisau dulu." Pamit Hasan melenggang pergi menuju dapur dan mengambil pisau dan minuman botol juga beberapa camilan yang bisa di makan bersama Husein dan Zahra.

__ADS_1


"Kalian minum dan makan dulu camilannya!" Hasan memberikan botol minuman dan camilan yang dia bawa dan menaruhnya di atas meja.


"Abi aku ingin apel yang ini." Arum memberikan satu apel yang berukuran paling besar di antara yang lain kemudian memberikannya pada Hasan.


Dengan telaten Hasan mengupas juga menyuapkan potongan apel yang dia pegang, sikap Hasan membuat Husein dan Zahra saling terdiam menatap ke arah mereka, sungguh pasangan yang romantis. Hingga tanpa mereka sadari seutas senyum muncul di wajah keduanya.


"Kenapa kalian senyum- senyum gak jelas gitu lihat kita?" sarkas Hasan merasa risih di tatap oleh kedua orang yang saat ini tepat berada di hadapannya.


"Kalian romantis banget, aku jadi pengen," Zahra yqng terlanjur terbawa perasaan akhirnya keceplosan.


"Apa, Dek?" reflek Husein membuat Zahra sadar jika dirinya sedang keceplosan.


"Astaghfirullah, maaf aku keceplosan," jawab Zahra sambil menundukkan kepala malu dengan apa yang baru saja di ucapkannya.


"Santai saja, Dek, lagi pula apa yang kamu katakan benar, Abi memang tipe pria idaman, selain romantis Abi juga perhatian. Dan Kamu Husein harus bisa bersikap seperti Kakakmu agar Zahra bahagia dan betah terus berada di sisimu." Tutur Arum dengan senyum yang mengembang di bibirnya menatap Husein dan Zahra bergantian.


"Kakak tenang aja, aku pria sejati yang pantang bikin seorang wanita sakit hati," ucap Husein dengan penuh keyakinan dan nada meyakinkan.


"Buka mulutmu!" titah Hasan menyodorkan sepotong apel merah yang di minta oleh Arum.


Arum yang mendapat suapan dari Hasan langsung melahap dan mengunyah tanpa sisa, sungguh makanan apapun yang di makan lewat tangan Hasan terasa jauh lebih enak apalagi jika makanan itu di bawa dari luar rumah, tak ada kata mual atau enek dalam diri Arum. Zahra terus saja memperhatikan Arum yang memakan buah yang di suapkan oleh Hasan.


"Buka mulutmu, Dek!" suara Husein mengejutkan Zahra yang tengah fokus menatap ke arah dua sejoli yangs edang menikmati apel di hadapannya.


Zahra reflek menoleh ke arah Husein yang ternyata sedang mengulurkan tangan ke arah mulutnya dengan sepotong apel yang ada di tangannya.


"Maksudnya, Mas?" tanya Zahra mengerutkan dahi bingung.


"Makanlah, biar aku suapin!" jawab Husein.


Husein tersenyum ke arah Zahra setelah sepotong apel yang dia ulurkan telah masuk ke dalam mulutnya.


"Aku romantis, Kan?" bisik Zahra dengan senyum menggoda di sertai kerlingan mata.

__ADS_1


"Hadeuch, dasar plagiat!" ejek Hasan saat melihat Husein melakukan apa yang dilakukan Hasan dan melakukan hal yang sama.


"Biarin, suka-suka aku donk, Kak," bela Husein tak memperdulikan apapun yang di katakan oleh Hasan.


Zahra dan Arum hanya tersenyum lucu melihat si kembar sedang berdebat, sungguh sebuah pertunjukan yang sangat menghibur.


"Kak, tadi Umik berpesan supaya kita ke rumah Umik untuk makan bersama di sana." Ucap Husein setelah mengingat pesan sang Umik.


"Udah mau maghrib, kita jama'ah dulu ke masjid, biar Zahra dan Arum di rumah." Ajak Hasan.


"Apa kamu tidak apa-apa aku tinggal ke masjid, Dek?" Husein bertanya sambil menatap wajah Zahra dengan tatapan sendu.


"Astaghfirullah, kita cuma ke masjid Sein bukan keluar kota," sela Hasan saat melihat adegan romantis yang tersaji di depan mata.


Husein hanya melirik sebentar ke arah Hasan kemudian kembali fokus menatap Zahra yang tersenyum sambil menganggukkan kepala tanda jika dia setuju.


Hasan berdiri melenggang pergi meninggalkan ketiganya menuju kamar untuk bersiap.


"Sudah, kamu pergi ke masjid saja Sein. Biar Zahra sholat bersamaku di sini." Arum mencoba meyakinkan Husein yang masih tetap menatap Zahra tanpa mengubah posisinya.


"Baiklah, kalau gitu aku pinjem sarung sama baju juga peci buat sholat Kak," ucap Husein.


"Kamu pergi ke kamar aja. Susulin Kakakmu!" jawab Arum.


Tanpa ada kata lagi Husein berdiri langsung pergi meninggalkan Arum dan Zahra setelah mengusap lembut kepala Arum yang tertutup kerudung.


"Zahra, kita ke kamar atas yuk!" ajak Arum yang sudah bisa menebak jika Hasan dan Husein saat ini berada di kamar bawah di mana baju Hasan untuk sholat di simpan.


"Ayo, Kak!" sahut Zahra berdiri mendekat ke arah Arum dan berjalan masuk menuju kamar.


"Apa Kak Arum tidak jadi masalah jika harus naik tangga?" tanya Zahra menatap Arum ragu.


"Tidak apa-apa, sesekali naik tangga buat olahraga, lagian terus-terusan tiduran juga gak bakal baik buat kesehatan," jawab Arum menapaki satu-persatu tangga yang ada sambil berpegangan pada lengan juga pegangan tangga yang ada di samping kiri dan kanan.

__ADS_1


__ADS_2