
Hasan mengusap lembut kepala Arum kemudian berdiri hendak pergi meninggalkan Arum, tapi langkahnya terhenti karena suara Arum mulai terdengar.
"Abi jangan ke mana-mana!" rengek Arum.
"Abi cuma mau ambilin kamu buah sebentar, setelah itu Abi akan segera kembali." Sahut Hasan.
"Tapi aku pengen ditemenin Abi," Arum kembali merengek, sungguh sikap Arum saat ini sang jauh berbeda dengan sikapnya sebelum hamil, Arum yang biasanya mandiri kini menjadi manja.
"Setelah ambil buah. Abi akan temani kamu, oh ya kamu pengen makan buah apa? biar Abi ambilkan." Tawar Hasan mencoba mengalihkan pandangannya.
"Aku terserah Abi, yang penting Abi cepat kembali," jawab Arum membuat Hasan semakin tersenyum lebar.
Entah mengapa menghadapi Arum yang manja jauh lebih membahagiakan, Hasan merasa sangat di butuhkan dan lebih di cintai saat Arum bersikap manja seperti saat ini, sikap Arum membuat Hasan semakin jatuh cinta padanya.
Setelah meyakinkan Arum jika dirinya hanya pergi sebentar Hasan langsung melangkah keluar kamar dengan langkah lebar menuju dapur yang terlihat masih sepi tak berpenghuni.
'Umik pasti sedang keluar bersama Hana membeli susu untuk Arum' batin Hasan seraya mengambil beberapa buah yang ada di lemari es.
Hasan mengambil buah begitu saja, menaruhnya di wadah juga mengambil pisau kemudian kembali menuju kamar mengingat Arum yang sudah menunggunya di kamar.
"Astaghfirullah, tadi di suruh cepetan, pas udah cepet-cepet dianya malah tidur, dasar bumil membingungkan," lirih Hasan saat masuk kamar dan melihat Arum malah tertidur nyenyak di atas tempat tidur.
Hasan hanya bisa diam dan membiarkan Arum melakukan apapun yang dia inginkan karena saat ini Arumlah sedang menjadi ratu sembilan bulan demi kesehatan sang jabang bayi Hasan rela melakukan apapun agar Arum tersenyum dan tak bersedih.
~
Rumah Desy pagi ini terlihat masih lenggang dan sepi, sang Ibu sedang sibuk betsih-bersih sedang Ayah Desy sudah berangkat ke sawah sejak tadi dan Adik kesayangan Desy juga sudah berangkat ke sekolah. Kini sang Ibu tinggal sendiri di rumah menyelesaikan tugas rumah yang setiap hari seperti tak pernah ada habisnya.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu menghentikan aktifitas Ibu Desy yang asyik mencuci piring di dapur.
"Assalamualaikum!" teriak seseorang dari luar rumah.
"Waalaikum salam," jawab Ibu Desy berjalan menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
"Maaf Bapak cari siapa?" tanya Ibu Desy dengan tubuh sedikit bergetar melihat seorang laki-laki memakai setelan jas kantor berdiri tegap dan nampak gagah di depan rumahnya.
Fikiran Ibu Desy sudah melayang jauh entah ke mana, dia takut sang suami atau dirinya melakukan kesalahan dan orang yang datang saat ini datang untuk meminta pertanggung jawaban, Ibu Desy juga berfikir jika yang datang penagih hutang tapi Ibu Desy bingung hutang apa yang di miliki keluarganya karena sepanjang hidup mereka selalu berusaha untuk tidak berhutang pada siapapun.
"Maaf Bu, apa benar ini rumah keluarga Desy?" tanya Asisten Huda yang bernama Erwin.
Ibu Desy masih saja sibuk dengan berbagai hal buruk yang ada di fikirannya, pasalnya ini pertama kalinya orang yang ada di hadapannya ini datang.
"Desy, benar ini rumah keluarga Ibu Desy, apa anak saya membuat kesalahan?" sahut Ibu Desy dengan ekspresi panik yang terlihat jelas di wajahnya.
"Tidak Bu, putri Ibu baik-baik saja di pesantren, perkenalkan nama saya Erwin dan saya asisten pribadi Tuan Huda, calon menantu Ibu dan saya ke sini di utus beliau untuk menemui Ibu dan memberikan barang yang dia pesan agar di kirim ke pesantren," Erwin menjelaskan siap dirinya dan tujuannya datang ke rumah Desy.
"Oh kamu di suruh Nak Huda ke sini, kalau begitu silahkan masuk dulu!" Ibu Desy membuka lebar pintu rumahnya menyuruh Erwin sang tamu dadakan yanh bikin sport jantung itu masuk ke dalam rumah.
"Saya mau ambil barang-barangnya dulu, Bu," pamit Erwin berbalik berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari halaman rumah Desy.
Erwin membawa empat buah kardus ke dalam rumah yang penuh dengan barang-barang kebutuhan Desy juga beberapa barang untuk keluarga Desy.
"Masya Allah kok banyak sekali, ini untuk apa saja?" tanya Ibu Desy heran melihat empat tumpuk kardus cukup besar yang sekarang sudah ada di ruang tamu.
__ADS_1
"Dua kardus yang atas untuk Ibu dan yang lain, dua kardusnya lagi bisa Ibu bawa ke pesantren untuk mengirim Desy." Erwin menjelaskan kenapa kardusnya bisa sebanyak itu.
"Loh kenapa Ibu juga di kirim? bukankah seharusnya tidak usah Nak Erwin," ujar Ibu Desy merasa heran dengan sikap sang calon menantu.
"Kalau itu saya tidak tahu Bu, karena tugas saya hanya mengantarnya ke sini dan saya tidak punya wewenang untuk melawan ataupun menanyakan hal lain selain itu." Jelas Erwin membuat Ibu Arum mengerti.
"Kalau begitu sampaikan rasa terima kasih saya pada Nak Huda, semoga semua usahanya semakin lancar." Ibu Desy mengutarakan apa yang dia rasakan, sungguh saat ini dia merasa begitu bersyukur karena mendapatkan calon menantu yang begitu baik dan perhatian pada keluarganya.
"Baik Bu, nanti akan saya sampaikan pesan dari Ibu, dan ini uang saku untuk Desy." Ujar Erwin memberikan satu amplop berwarna cokelat yang sama persis seperti amplop bulan lalu yang di berikan Huda untuk Desy.
"Sebenarnya barang-barang ini saja sudah cukup," ucap Ibu Desy yang merasa jika Desy masih tanggung jawab mereka karena dia belum menikah.
"Ini titipan dari Tuan Huda Bu, jadi kalau Ibu keberatan mohon bilang sendiri ke beliau karena saya tidak bisa menolaknya." Erwin kembali menjelaskan posisinya yang hanya seorang asisten tak bisa melawan perintah sang majikan.
"Baiklah, terima kasih untuk semuanya, Nak Erwin tunggu di sini dulu! Ibu mau buatin minum." Pamit Ibu Desy, dia yang berada sendiri di dalam rumah sejak tadi tak bisa membuatkan Erwin minum karena harus menemaninya mengobrol.
"Sudah tidak usah Bu! tugas saya sudah selesai dan saya harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan saya di sana, mungkin lain kali saja Bu, maaf," sahut Erwin sambil mengatakan kata maaf agar Ibu Desy tak tersinggung dengan penolakan yang baru saja dia ucapkan.
"Kenapa terburu-buru, Nak? apa tidak sebaiknya minum atau makan camilan dulu?" tawar Ibu Desy.
"Tidak terima kasih, mungkin lain waktu saja," Erwin menolak tawaran Ibu Desy dengan nada sangat lembut takut menyinggung perasaannya.
"Kalau begitu hati-hati di jalan, Nak!" pesan Ibu Desy saat Erwin sudah keluar dari rumah dan berjalan menuju mobil yang tadi dia kendarai.
"Iya, permisi Bu, assalamualaikum," pamit Erwin masuk ke dalam mobil dan melesat pergi dari rumah Desy.
"Waalaikum salam," sahut Ibu Desy dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
__ADS_1