Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Menginap di Villa


__ADS_3

Acara makanpun berjalan dengan lancar Arum benar-benar merasa Hasan jauh berbeda dari Hasan yang biasa dia temui, Hasan lebih sering tersenyum dan menunjukkan wajah ramahnya.


"Terima kasih," ucap Arum setelah menghabiskan makanan yang ada di meja sampai tandas tanpa tersisa.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Hasan.


"Terima kasih untuk ilmu dan makanan yang sudah Kak Hasan kasih hari ini." Ucap Arum dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Aku yang harusnya berterima kasih," jawab Hasan dengan senyum yang mengembang.


"Loh kok Kak Hasan yang harusnya berterima kasih, bukankah hari ini Aku yang mendapat banyak hal dari Hasan?" Arum semakin bingung dengan ucapan Hasan yang mengharuskan dirinya berterima kasih padanya.


"Terima kasih untuk waktu yang sudah kau berikan," ujar Hasan yang tak pernah berpaling dari tatapan matanya yang tertuju pada Arum.


"Maksudnya?" Arum semakin bingung mendengar ucapan Hasan.


Arum semakin tak mengerti dengan apa yang di maksud Hasan, dia tak berani berfikir jika Hasan memiliki perasaan lebih terhadapnya, meski kata-kata yang keluar dari mulut Hasan terkadang memberi sebuah tanda tapi sikap Hasan yang tetap dingin membuat Arum tak berani menerka.


"Sudahlah, nanti kamu akan tahu sendiri jika waktunya sudah tiba." Hasan kembali tak memberikan jawaban pasti dari pertanyaan Arum.


"Untuk sekarang kamu bisa istirahat di sini, malam ini menginaplah! besok kita bisa kembali ke pesantren." Tutur Hasan.


"Apa Umik mengizinkan jika Aku menginap di sini?" dengan ragu Arum kembali bertanya.


"Soal itu biar Aku yang mengurus, kamu nikmati saja suasana di pantai malam ini!" titah Hasan.


"Bolehkah Aku jalan-jalan di tepi pantai?" tanya Arum penuh harap.


"Silahkan! tapi bawa dua pelayan wanita bersamamu, mereka sudah lama tinggal di sini jadi kamu akan aman bersama mereka." Hasan tak ingin terjadi hal yang buruk pada Arum, tapi melihat wajah Arum yang penuh harapan membuatnya tak tega dan memberikan izin untuk Arum keluar. Dengan syarat yang harus di penuhi.


"Baiklah Aku akan pergi dengan dua pelayan wanita bersamaku, terima kasih sudah mengizinkanku." Arum berdiri berjalan mendekat ke arah pelayan yang sedang berkumpul tak jauh dari tempat Arum duduk.


"Kak Hasan, Aku pergi dulu ya!" pamit Arum melenggang pergi meninggalkan Hasan yang masih setia berdiri menatap kepergian Arum sambil tersenyum.


Setelah melihat kepergian Arum hasan memanggil sang asisten.

__ADS_1


"Irfan!" panggil Hasan.


Irfan yang mendengar panggilan Hasan langsung berjalan mendekat dan menghampiri Hasan saat Arum tak ada.


"Iya, Tuan," sahut Irfan setelah berada tepat di samping Hasan.


"Ambilkan ponselku yang ada di kamar, dan ambil kan juga berkas-berkas yang harus ku kerjakan!" titah Hasan pada Irfan dengan pandangan yang masih lurus ke depan di mana Arum sedang berjalan ke tepi pantai bersama kedua pelayan yang selalu setia mengikuti ke manapun Arum pergi.


Irfan yang mendapat perintah dari sang Tuan langsung berjalan meninggalkan Hasan berjalan menuju kamar Hasan.


Dari tempat Hasan berdiri terlihat jelas Arum sedang berlari-lari kecil menyusuri tepi pantai dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Tuan," panggil Irfan tapi Hasan yang di panggil tak mendengarkan panggilan Irfan, membuat Irfan sedikit geram, pasalnya panggilan yang dia lakukan sudah gak bisa karena masa berlakunya telah habis.


"Tuan Hasan!" Irfan kembali memanggil kali ini dengan nada yang lumayan tinggi, dan cukup membuat yang di panggil menoleh ke sumber suara.


"Iya Irfan," sahut Hasan.


Hasan benar-benar tak mau melewatkan sedikitpun pandangannya pada Arum, meski sudah menyahuti panggilan Irfan.


"Para pelayan sedang mencuci bekas makan kita tadi," jawab Arum


"Baiklah Tuan, ini berkasnya silahkan di kerjakan." Irfan menyodorkan beberapa berkas yanga ada di tangannya.


Dengan gerakan cepat Hasan menyalakan ponsel dan kembali menatap Arum yang masih betah bermain di tepi pantai, setelah merasa sedikit puas Hasan membuka ponsel mencari nama Umik yang pasti tertulis jelas di ponselnya dan mulai melakukan panggilan.


Tut ... tut ... tutu ....


Suara nada tersambung tapi masih belum ada balasan hingga satu suara terdengar begitu lembut di telinga Hasan.


"Assalamualaikum, Hasan," ucap Umik.


"Waalaikum salam, Umik," sahut Hasan.


"Nak, Arum ke mana kok gak balik-balik," tanya Umik.

__ADS_1


"Arum sedang main di pantai, Aku mengajaknya ke Villa kita yang ada di tepi pantai Umik," jawab Ika.


"Terus kenapa kalian masih belum pulang,?" Umik kembali bertanya.


"Hati ini Aku mengajaknya menginap di sini Umik, apa boleh?" tanya Hasan.


"Apa?? menginap?" Umik mengeraskan suaranya seolah dia terkejut dan tak memberi izin.


"Umik tenang saja, di sini Aku tidak berdua. Ada Irfan dan supir kantor, juga beberapa pelayan yang tinggal di sini," jelas Hasan sebelum Umik salah faham dan tak memberi izin Hasan langsung menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"Ohh baiklah, tapi ingat Hasan kamu harus hati-hati karena godaan setan itu ada di mana-mana!" Umik memberi peringatan pada Hasan.


"Iya Umik, Hasan sudah mengerti. Dan Hasan akan terus menjaga diri agar tak tergoda oelh rayuan setan." Hasan mencoba meyakinkan Umiknya.


"Umik," panggil Hasan.


"Iya Nak," sahut Umik dari seberang sambungan telfon.


"Besok Aku ingin berbicara serius sama Umik setelah pulang dati sini." Ujar Hasan dengan penuh keyakinan.


"Hasan mau bicara serius apa sama Umik?" tanya Umik yang masih belum mengerti berbicara serius yang seperti apa yang di maksud Hasan.


"Besok saja Hasan beri tahu, yang penting untuk saat ini Hasan sudah meminta izin pada Umik. Agar Arum bisa menginap di Villa ini," Hasan yang merasa kurang lega jika harus berbicara di telfon memutuskan untuk tidak mengatakannya sekarang dan akan mengatakannya nanti setelah pulang dari Villa.


"Baiklah, jika itu keputusanmu Umik mengerti. Tapi satu hal yang harus kamu tahu tetap berhati-hatilah!" Umik terus saja mengingatkan Hasan untuk berhati-hati.


"Iya Umik, kalau begitu saya tutup sambungan telfonnya Umik. Assalamualaikum," pamit Hasan.


"Waalaikum salam," jawab Umik.


Hasan mematikan sambungan telfonnya dan meneruskan kembali pekerjaan yang sempat tertunda.


Hari ini Hasan benar-benar merasa bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama Arum, karena rasa bahagia itu pula mempengaruhi moodnya untuk mengerjakan semua berkas yang tadi di bawa oleh Irfan, karena moodnya sedang bagus maka pekerjaan itu selesai dengan cepat.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," gumam Hasan meregangkan badannya yang terasa lumayan capek dan pegal setelah fokus menatap layar laptop.

__ADS_1


__ADS_2