Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Sholat berjamaah telah usai semua yang ikut berjamaahpun telah meninggalkan mushollah menuju ke tempat masing-masing, melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Arum berjalan meninggalkan mushollah, sedang Hasan dan yang lain masih khusuk berdo'a.


"Bibik," panggil Arum pada seorang asisten rumah tangga yang tadi mau mengajarinya memakai kerudung.


"Iya, Non," sahut Bibik.


"Katanya mau ngajarin pakai kerudung ini?" Arum menunjukkan kerudung yang tengah dia pakai.


"Iya Non, mari Bibik ajari." Jawab Bibik berjalan mendekat ke arah Arum.


"Ayo belajar di kamar!" Arum menarik tangan Sang Bibik masuk ke dalam kamar.


Dengan telaten dan penuh kesabaran Bibik mengajari Arum memakai kerudung pasmina.


"Masya Allah Non," ucap Bibik menatap lekat wajah Arum dari balik cermin.


"Kenapa Bik?" tanya Arum mengernyitkan dahi bingung dengan ucapan Bibik.


"Non terlihat begitu cantik, masya Allah cantik." Jawab Bibik yang menjelaskan kekagumannya pada Arum yang terlihat cantik sempurna dengan kerudung pasmina yang bertengger indah di kepalanya.


"Bibik bisa aja," ujar Arum tersenyum malu sambil menunduk.


"Non Arum," panggil seorang asisten rumah tangga lain yang kini berdiri di depan pintu.


"Iya Bik," sahut Arum menoleh ke belakang melihat siapa yang memanggilnya.


"Non Arum di tunggu Tuan Hasan di teras samping." jawab Sang Bibik.


"Terima kasih sudah di kasih tahu Bik," ujar Arum berdiri hendak meninggalkan kamar dan berhenti sejenak menoleh ke arah belakang.


"Bibik terima kasih sudah ngajari Aku pakai kerudung," ucap Arum, kemudian kembali berjalan meninggalkan kedua Bibik yang tengah tersenyum mengagumi sikap Arum yang ramah dan sopan, juga sama sekali tidak sombong.


"Sama-sama Non Arum," sahut Bibik yang tadi membantu Arum memakai kerudung.


Arum berjalan dengan langkah pelan tapi pasti menuju teras samping rumah yang di maksud oleh Bibik yang memberitahunya tadi, saat berada di tengah pintu Arum reflek berhenti ketika melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


Tempat duduk yang tadi di tempati Arum berubah menjadi meja makan berhiaskan lilin-lilin kecil yang ada di tengah meja di kelilingi aneka maskan seafood yang terlihat begitu menggiurkan.

__ADS_1


"Indahnya," gumam Arum yang masih mematung di tengah pintu menatap lurus ke arah meja yang di sulap sedemikian rupa, terlihat jelas suasana romantis yang tercipta.


"Silahkan Non!" seorang pria berpakaian pelayan mempersilahkan Arum untuk mendekat sedang di meja yang sudah tersedia begitu banyak makanan sudah ada Hasan yang terlihat begitu tampan dengan baju kokoh khas seorang santri.


Hasan sedang duduk sambil tersenyum menoleh ke arah Arum yang perlahan berjalan mendekat, Hasan sungguh terlihat seperti pangeran yang begitu tampan di negeri dongeng membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona.


"Apa Kak Hasan yang mempersiapkan ini semua?" tanya Arum dengan nada yang penuh rasa penasaran.


Arum memang penasaran sekaligus terkejut, apa bener Hasan yang menyiapkan ini semua atau orang lain, Arum benar-benar di buat bingung karenanya.


Hasan yang terkenal dingin dan cuek, sungguh mustahil jika bisa menyiapkan semua yang ada di depan mata Arum.


"Bukan," jawab Hasan singkat.


"Terus kalau bukan Kak Hasan, siapa yang nyiapin?" tanya Arum lagi.


"Pelayan," Hasan kembali menjawab pertanyaan Arum dengan kata-kata yang singkat.


"Huft dasar kutub" lirih Arum tapi masih di dengar oleh Hasan.


"Kutub? maksudnya apa?" tanya Hasan yang bingung dengan ucapan Arum.


"Kamu mau makan apa?" tanya Hasan.


Arum tak menjawab pertanyaan Hasan dia malah sibuk memperhatikan setiap hidangan yang ada di atas meja.


"Aku mau ini," tunjuk Arum pada dua ekor kepiting berukuran besar yang berada tepat di depan Hasan.


Dengan penuh kelembutan Hasan mengambilkan makanan yang tadi di tunjuk oleh Arum, setelah se ekor kepiting telah mendarat sempurna di piring Arum, dia kembali menunjuk seekor lopster besar yang juga berada di samping piring kepiting.


Hasan kembali mengambilkan makanan yang di tunjuk oleh Arum, dan Arum menerima makanan yang di ambilkan Hasan dengan senyum yang mengembang.


"Pelayan itu kok tahu makanan favoriteku ya?" lirih Arum yang merasa takjub karena makanan yang di hidangkan rata-rata makanan seafood yang di sukai Arum, tak lupa juga dengan orek tempe yang ada di meja.


"Kamu gak mau nyoba orek tempe buatanku?" tanya Hasan.


"Orek tempe?" Arum yang mendengar pertanyaan Hasan kembali bertanya.


"Iya, bukankah kamu suka orek tempe?" Hasan mengingatkan ucapan Arum yang suka makan orek tempe.

__ADS_1


"Jika ada nasi Aku akan suka makan orek tempe, tapi jika tidak Aku akan memilih makan yang lain dulu." Jelas Arum.


"Pelayan," panggil Hasan.


"Iya Tuan," jawab sang pelayan.


"Tolong Ambilkan nasi untuk Arum!" pinta Hasan yang kemudian kembali duduk di tempatnya semula.


Sedang pelayan sudah berjalan menjauh masuk ke dalam rumah untuk memgambil nasi yang di pinta oelh Hasan.


"Apa masakan ini semua pelayan di sini yang?" tanya Arum dengan wajah berbinar seraya memakan semua makanan yang di ambilkan Hasan.


"Semuanya pelayan yang masak kecuali ini," Hasan mengambil satu piring orek tempe yang tergeletak tak berdaya di samping lopster.


"Aku mau Kak," ucap Arum membingungkan Hasan.


"Mau apa Arum?" tanya Hasan yang bingung setelah mendengar ucapan Arum.


"Orek tempe buatan kakak." Jawab Arum.


"Ini makanlah!" Hasan menaruhkembali orek tempe yang dia pegang tadi dan meletakkannya dekat dengan tempatku duduk.


"Terima kasih kak," ucap Hasan yang sekarang duduk menatap ke arah Arum.


"Jangan lihatin Aku Kak, entar makanannya ku habisin." Ancam Arum yang merasa risih terus di tatap lekat oleh Hasan.


"Habiskan!" tantang Hasan yang sama sekali tak menggubris ataupun takut dengan ancaman Arum.


"Ishhh," gerutu Arum, tapi tak bisa berbuat apa-apa lagi.


Arum lebih memilih kembali fokus menghabiskan makanan yang ada di depan mejanya.


"Ini nasinya Tuan," seorang pelayan memberikan satu piring nasi yang di bawakan oleh sang pelayan.


"Terima kasih," ucap Hasan.


"Sama-sama Tuan," sahut sang pelayan sedikit menunduk kemudian mengambil jarak lumayan jauh dari Arum dan Hasan.


Sejak tadi Arum dan Hasan tidak makan berdua , ada Irfan yang juga ikut makan duduk di tempat yang lain, tak jauh dari tempat duduk Hasan dan Arum. Irfan juga memakan masakan yang sama dengan yang ada di meja tempat Arum dan Hasan.

__ADS_1


__ADS_2