Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Permintaan Maaf Hasan.


__ADS_3

"Khem," Hasan menetralkan perasaannya yang sedang bercampur dan tak menentu.


"Makanlah, bukankah kau suka tempe?" ucap Hasan mencoba mencairkan suasana.


"Aku memang menyukai tempe, tapi seleraku akan hilang dan rasa suka ku itu juga akan ikut sirnah ketika Aku merasa jengkel," jawab Arum.


Seketika Hasan menundukkan kepala dan menghirup udara sebanyak-banyaknya menetralkan perasaannya yang semakin tak menentu.


'Ternyata gadis ini lebih keras kepala dari yang ku duga, dia terlihat manis ketika diam dan terlihat begitu mempesona saat tersenyum tapi, akan terlihat menakutkan saat marah, dia lebih mirip betina macan yang akan marah saat anaknya di ganggu.' Hasan menggerutu di dalam hati.


"Jika sudah tak ada yang di bicarakan, Aku permisi." Arum sudah siap hendak berdiri meninggalkan Hasan yang sontak langsung mendongakkan wajah sesaat setelah mendengar ucapan Arum.


"Makanlah dulu! Aku minta maaf atas apa yang terjadi tadi," Hasan kembali mengucapkan kata maaf, entah sudah yang ke berapa kali kata itu meluncur bebas daei mulutnya.


Arum yang mendengarkan kata maaf berkali-kali dari mulut Hasan akhirnya memilih menyerah dan mulai mencairkan gunung emosi yang sejak tadi bersarang di hatinya. Arum akhirnya mengurungkan niat untuk pergi dan kembali duduk dengan tenang menatap lekat ke arah Hasan kemudian menghembuskan nafas beratnya.


"Baiklah Aku akan memaafkan Kakak, tapi lain kali Aku minta Kakak cari tahu dulu pokok permasalahannya sebelum ikut berkomentar." Ujar Arum.


"Baiklah Aku mengaku salah, sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" pinta Hasan yang lebih memilih mengalah karena saat itu dia memang salah.


Dengan berat hati Arum menceritakan semua kejadian yang terjadi waktu di koperasi, kesalah fahaman Hasan terjawab sudah.


"Jika memang seperti itu ceritanya maafkan santriku," ucap Hasan setelah mendengar cerita Arum.


Meski sebenarnya tak seluruhnya salah, Hasan meminta maaf demi meruntuhkan emosi gadis pujaan hatinya itu.


"Sudahlah, lagi pula Aku juga salah tak memeriksa dulu uang yang ku ambil malah mengambil banyak barang." Ujar Arum yang memang merasa ikut salah dalam hal yang telah terjadi.


"Kalau begitu, makanlah! kasihan Mbak Hana yang sudah menyiapkan." Ucap Hasan.


Tanpa basa basi Arum langsung melahap tempe goreng yang ada di depannya, sebenarnya sejak tadi Arum sudah menahan diri untuk tak menyentuh tempe goreng yang memang sudah jadi makanan favoritnya.


Hasan hanya bisa tersenyum menatap ke arah Arum yang tengah melahap tempe goreng.

__ADS_1


"Kamu bawa apa Arum?" tanya Hasan saat netra matanya tak sengaja melihat tangan Arum yang sedang menggenggam sesuatu, tapi barang yang di bawa Arum tak terlihat jelas karena tertutup abaya yang kebetulan cukup lebar yang sedang dia pakai.


"Ini mie instan," jawab Arum enteng.


"Jangan terlalu sering makan mie instan tak baik untuk kesehatan!" Hasan yang mendengar jawaban Arum langsung mengutarakan ultimatumnya.


"Hemm," jawaban singkat yang di berikan Arum membuat Hasan sedikit jengkel.


Hasan yang sangat mengerti kebiasaan anak santri yang gemar memakan mie instan langsung merasa khawatir, Hasan khawatir jika kebiasaan itu menular pada Arum, karena mie instan adalah makanan yang paling di jauhi oleh Hasan.


"Aku serius Arum," ujar Hasan.


Ucapan Hasan sukses membuat Arum bingung, karena Arum merasa Hasan tak punya hak untuk melarang atau mengatur hidupnya sekalipun mereka sudah kenal.


"Memang Kakak punya alasan, kenapa Aku gak boleh makan mie instan?" tanya Arum dengan mengernyitkan dahi bingung.


"Mie instan tidak baik untuk kesehatan Arum," jelas Hasan.


"Assalamualaikum Kakak!!!" ucap Husein dengan suara sedikit keras.


"Waalaikum salam," sahut Arum dan Hasan hampir bersamaan.


"Wihhh ada bidadari surga, tumben ada di sini?" tanya Husein yang langsung nimbrung duduk di samping Hasan yang justru terlihat jengkel dengan kehadiran Husein.


Husein yang baru saja datang langsung menyambar satu tempe goreng yang ada di atas meja sambil tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang putih berkilau bak mutiara.


"Kak Husein habis dari mana?" tanya Arum mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia merasa malas untuk membahas masalah yang sudah terjadi.


"Aku baru balik dari pondok putera," jawab Hasan yang masih setia dengan senyum yang terlihat di wajahnya.


"Oh," sahut Arum manggut-manggut tanda mengerti.


"Kamu mau masak mie instan?" tanya Husein yang melihat mie instan kini berada di kursi sebelah Arum duduk.

__ADS_1


"Iya, tapi gak jadi." Jawab Arum menampakkan wajah kecewanya.


"Kenapa gak jadi?" tanya Husein.


"LPG di kantin abis jadi gak bisa numpang masak." Arum kembali menjawab pertanyaan Arum.


"Tumben telat, biasanya gak pernah telat selalu ada," sahut Husein, Arum hanya mengedikkan bahu tanda tak mengerti.


Seperti biasa Hasan hanya menjadi pendengar saat Husein ikut nimbrung jika dia sedng berbicara dengan seorang wanita.


"Bagaimana kalau kamu masak di sini atau di rumah Umik?" usul Husein.


"Apa boleh?" tanya Arum menatap Husein dan Hasan bergantian.


"Kalau di rumah Umik pasti boleh, tapi kalau di rumah Kak Husein kamu harus izin dulu sama empunya." Jawab Husein enteng tanpa dosa meski dia menawarkan sesuatu yang belum dapat persetujuan dari yang punya rumah.


"Kak Hasan, apa Aku boleh numpang masak mie di sini?" kini Arum mengalihkan pandangan menatap lekat ke arah Hasan dengan tatapan penuh harapan.


"Masaklah! tapi ada dua syarat yang harus kamu penuhi jika kamu ingin masak di sini." Jawab Hasan.


"Syarat apa Kak?" tanya Arum.


"Tahu ni Kak Hasan, numpang masak aja pakai syarat." Husein sedikit geram mendengar Hasan yang memberi syarat hanya karena untuk numpang memasak.


"Syarat pertama jangan ajak teman-temanmu masak di sini, cukup kamu saja yang masak. Syarat kedua, kamu harus masak untuk Aku!" Hasan berbicara seenaknya seolah tak menggubris ucapan Hasan yang kurang setuju atas syarat yang akan di ajukan oleh Hasan.


"Jika cuma masak Aku akan masakin, tapi kalau tidak sesuai selera jangan di protes! plus satu lagi Aku butuh seseorang untuk menemaniku memasak nanti." Arum menyetujui syarat yang di ajukan Hasan, tetapi Arum tak mau kalah dia juga mengajukan syarat pada Hasan.


"Kamu akan di temani Mbak Hana saat memasak nanti," Hasan menyetujui syarat yang di berikan oleh Arum.


"Dan satu lagi, masaknya nanti sore ya, soalnya Aku mau makan bareng plus ngabisin waktu libur bareng teman-temanku." Arum kembali memberi syarat.


"Baiklah, itu terserah kamu." Hasan langsung menyetujui syarat dari Arum dan langsung berdiri meninggalkan Husein dan Arum yang masih duduk manis di sofa ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2