Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Pernyataan Cinta Si Kembar


__ADS_3

Usai mandi dan berganti pakaian Arum kembali berjalan menuju rumah Hasan.


"Assalamualaikum," ucap Arum yang kini berdiri di depan pintu.


"Waalaikum salam," sahut seorang laki-laki yang sejak tadi mengganggu.


"Loh Kak Husein di sini juga?" tanya Arum.


"Iya, kebetulan tadi pas nyampek sini sudah maghrib jadi, sekalian iku sholat di sini." Jawab Hasan.


Sebenarnya saat Hasan memberi perintah pada Arum untuk kembali setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian Husein sempat mendengar, seketika ide brilliantnya muncul. Hasan tadi berniat ingin melihat Arum memasak tapi sudah telat.


"Ohh," jawaban singkat muncul dari bibir imut Arum sedangkan Hasan yang sudah jengkel hanya bisa diam tak berkomentar melihat kelakuan Husein.


"Kak Husein nyuruh Aku ke sini untuk apa?" tanya Arum to the poin saat sudah berada di hadapan Hasan.


"Kita sholat dulu setelah itu akan Aku jawab." Jawab Hasan melangkah pergi menuju mushollah kecil yang sudah tersedia di sana. Arum dan Husein hanya bisa pasrah mengikuti langkah Hasan.


Ibadah sholat telah usai, Hasan melantunkan wirid dan do'a yang di amini oleh Arum juga Husein.


"Kak Ha~" ucapan Arum terpotong karena ucapan Hasan.


"Makanlah dulu baru ngomongin yang lain!" potong Hasan.


Ketiganya berjalan menuju meja makan yang berada tak jauh dari mushollah yang baru saja di pakai untuk sholat berjamaah.


"Kamu masak apa tadi Arum?" tanya Huseinsetelah melihat menu yang ada di meja makan.


Husein memiliki perbedaan dengan Hasan, jika Hasan lebih suka dengan makanan khas kampung berbeda dengan Husein yang memang lebih suka makanan kekinian, ayam, spageti atau daging-dagingan dan kurang menyukai sayur.


"Aku masak tempe, sayur pucuk daun singkong memangnya kenapa Kak?" tanya Arum.


"Gak apa-apa," jawab Husein sambil mengambil nasi yang ada di wakul.


"Dek, jangan ambil nasi jangung!" Hasan yang melihat Husein hendak mengambil nasi jagung langsung di cegah.

__ADS_1


"Loh kenapa Kak Hasan ngelarang Kak Husein ngambil nasi jagung?" tanya Arum yang bingung melihar sikap Hasan.


"Dia gak bisa makan nasi jagung, perutnya akan sakit setelah memakan nasi jagung." Jawab Hasan.


"Wahh, Kakak ternyata perhatian juga." Ucap Arum dengan mata berbinar kagum melihat ke arah Hasan, sedang yang di tatap sedang berusaha keras menyembunyikan rasa bahagianya. Seandainya jika dia sedang sendiri bisa di pastikan dia akan tertawa dan berjingkrak bahagia karenanya.


"Kalau begitu, sini piringnya biar Arum yang ngambilin nasi putih untuk Kakak." Tawar Arum yang sukses membuat mata Hasan lang melebar dan terlihat tajam.


"Wah pengertian sekali kamu Arum, ini silahkan!" Husein yang mendengar tawaran Arum tak mau tinggal diam, dia langsung menyodorkan piring yang beradadi hadapannya.


Arum berjalan meninggalkan tempat makan menuju magic com yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Dia bisa ambil sendiri Arum." Ketus Hasan.


"Arum yang niat ngambilin kenapa kamu yang repot?" ucap Husein.


"Gak apa-apa Kak, lagi pula ini juga bisa di makan nanti setelah ambilin Kak Husein." Jawab Arum dengan senyum yang mengembang.


Makan malampun menjadi kurang memuaskan dengan datangnya Husein di tengah-tengah ke duanya.


"Iya Kak, ada apa?" tanya Arum yang justru merasa begitu bingung.


"Arum ada sesuatu yang ingin Aku katakan padamu." Ucap Hasan dengan ekspresi wajah gugup yang tak bisa di tutupi oleh Hasan.


"Arum," lirih Hasan.


"Iya kak, ada apa?" sahut Arum yang mendengar namanya di sebut.


"Arum bagaimana jika ada seorang laki-laki yng berniat akan meminangmu? apa kamu sudah siap atau akan menolaknya?" tanya Hasan yang masih takut dan mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan keinginannya.


"Tergantung Kak, siapa yang meminangku? jika memang orangnya baik dan Aku ada rasa padanya maka tak ada alasan untukku menolak." jawaban yang membuat Hasan bernafas lega dan memiliki sedikit keberanian di dalam hatinya.


Sedang di sudut ruangan terlihat seorang laki-laki yang memiliki wajah yang sama dengan Hasan sedang berdiri memperhatikan dan menguping apa yang di bicarakan sang Kakak dengan gadis yang juga memenuhi hatinya itu.


"Jika Aku ingin meminangmu, apa kamu akan menerimanya?" dengan segenap keberanian yang telah terkumpul Hasan mengutarakan keinginannya.

__ADS_1


Arum yang mendengar pertanyaan Hasan langsung terdiam mematung dan memelototkan mata terkejut mendengar apa yang di ucapkan Hasan.


Dan Husein yang sejak tadi berdiri di sudut ruanganpun langsung mengambil langkah seribu untuk mendekat ke arah Hasan dan Arum setelah mendengar ucapan sang Kakak.


"Apa Kakak serius dengan ucapan Kakak tadi?" tanya Husein yang langsung duduk di kursi tak jauh dari tempat Hasan duduk.


"Husein? sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Hasan yang begitu terkejut sekaligus jengkel, karena Adiknya itu tiba-tiba muncul di waktu yang tidak tepat.


"Aku tak pernah main-main dengan sebuah hubungan atau perasaan Husein," jawab hasan sedikit ketus, terdengar jelas kejengkelan dari nada bisaranya.


"Tapi Aku juga punya perasaan yang sama, dan niat yang sama sepertimu Kak," ucap Husein yang membuat Hasan dan Arum langsung menoleh ke arahnya karena terkejut.


"Apa????" Hasan dan Arum berucap hampir bersamaan.


"Benar Kak, Arum, sejak pertama kali Aku melihatmu perasaan ini sudah ada." Jawab husein jujur.


Hasan yang mendengar pengakuan Husein langsung menunduk dan memijit pelan pelipis tanda jika dia sedang pusing dengan keadaan yang terjadi.


Sedang Arum terlihat begitu kaget dan frustasi setelah mendengar dua pernyataan cinta dan niatan meminang dari dua orang sekaligus di tambah keduanya juga kembar dan bersaudara.


Arum juga ikut menundukkan kepala bingung, apa yang harus dia lakukan dan siapa yang ahrus dia pilih.


"Kak Hasan tenang saja, seperti sebelum-sebelumnya. Aku akan bersaing sehat dan akan berusaha sekuat mungkin jika memang harus kalah darimu Kak. Semua keputusan ku serahkan pada Arum." Husein menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian membuangnya perlahan.


Sedangkan Hasan yang mendengar penuturan sang Adik langsung menoleh ke arahnya.


"Jadi Kak Hasan juga harus bersikap sama sepertiku, mari bersaing dengan sehat," sambung Husein.


"Hah??" Hasan menghembuskan nafas kasar, terlihat jelas dia sedang frustasi. Bagaimana bisa dia bersaing dengan Adik kandungnya sendiri.


"Baiklah, Aku akan ikuti apapun yang kamu rencanakan Dek," ucap Hasan.


Tak ada pilihan lain selain pasrah dan mengikuti apa yang di sarankan oleh Husein, lebih baik pasrah dan mengalah dari pada. harus bertengkar hanya demi seorang gadis.


"Baiklah jika Kakak setuju, sekarang kita tanyakan saja pada Arum, siapa yang akan dia pilih?" ucap Husein enteng tanpa beban, berbeda dengan Arum yang justru langsung mendongak dan makin terkejut dengan ucapan Husein.

__ADS_1


__ADS_2