Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Hatiku Seperti Kaca


__ADS_3

Sejatinya hati itu seperti kaca yang tak akan pernah bisa kembali seperti semula saat sudah pecah, meskipun sudah di lem dengan lem berkualitas tinggi retakan yang tercipta pasti akan tetap terlihat.


Begitulah keadaan hati Huda saat ini, apa yang selama ini dia jaga dan dia sayangi segenap jiwa kini telah berkhianat, saat ini Huda merasa jika tak ada cinta yang dapat di percaya semuamya hanya fatamorgana, terlihat indah tapi menyakitkan.


Huda terus saja berdiri menatap langit yang berwarna jingga, kini senja sudah datang menyinari bumi dengan warna jingga yang terlihat begitu indah. Tapi keindahan langit sore ini tak seirama dengan hati Huda yang sedang kacau.


"Kak Huda," panggil Arum yang tak sengaja melihat Huda berdiri di pinggir sungai kecil di belakang pesantren.


Arum yang mendapat tugas membuang sampah di lubang besar yang sengaja di gali untuk menampung sampah yang mudah di bakar, dan akan di bakar saat hari jum'at tiba. Arum melihat Huda sedang termenung menatap langit senja.


Mendengar namanya di panggil oleh suara orang yang sangat dia kenal membuat Huda membuang nafas kasar seolah ingin mengeluh tapi tak mampu untuk mengatakannya.


"Maaf," satu kata yang terucap dari bibir Arum yang membuat perasaan Huda semakin hancur.


"Maaf untuk apa?" sahut Huda seolah tak ada masalah apapun yang terjadi meski tatapannya menunjukkan hal yang lain, tatapan yang di tujukan ke Arum terlihat begitu pilu tatapan kecewa yang bercampur kesedihan.


"Kak, bolehkah Aku meminta waktumu sebentar saja?" tanya Arum dengan tatapan penuh harap.


"Untuk apa?" nada suara Huda terdengar begitu berbeda, dia yang selalu bertutur kata dengan lembut selembut sutera kini terdengar begitu dingin seperti kutub.


"Aku ingin menjelaskan segalanya Kak." Jawab Arum yang saat ini merasa begitu bersalah setelah menatap tatapan mata Huda.

__ADS_1


"Sudahlah, semua sudah berakhir Arum, Aku tak mau terus menyalahkanmu ataupun Hasan. Mungkin kita memang tak berjodoh, tapi satu hal yang harus kamu tahu di dunia ini jika perasaan yang ku berikan padamu itu tulus dari dalam lubuk hatiku," Huda yang tak ingin mendengar penjelasan Arum langsung mengatakan apa yang kini dia rasakan di dalam hatinya.


Nada suara Huda terdengar begitu kecewa yang bercampur emosi dan Arum yang mengerti itu hanya bisa diam menundukkan kepala menghindari tatapan Huda yang juga menyayat hatinya.


"Maaf Kakak, Aku sudah di jodohkan sejak kecil oleh Bunda dengan Hasan dan Aku baru mengetahuinya beberapa bulan yang lalu, sungguh tak ada sedikitpun niat untuk menghianati ataupun menyakiti hatimu Kak, sekali lagi Aku minta maaf Kak, semoga kakak bisa menemukan gadis yang jauh lebih baik dari Aku," Arum terus menjelaskan apa yang terjadi meski Huda sama sekali tak menyahuti bahkan dia berpaling tak mau melihat ke arah Arum saat mendengarkan penjelasan Arum.


"Pergilah! sungguh terlihat tidak pantas jika kita hanya berdua di sini, apalagi jika ada yang melihatnya, lebih baik kamu segera kembali ke asrama sekarang." Ujar Huda dengan nada dinginnya dan tak melihat ke wajahnya.


"Apa Kak Huda sudah memaafkanku?" Arum terus saja membahas permintaan maafnya meski tak di sahuti ataupun di tanggapi oleh Huda.


Hening, tak ada suara yang terdengar yang artinya Huda tak menyahuti ataupun menanggapi permintaan maaf Arum yang di ucapkannya.


"Aku akan tetap meminta maaf padamu Kak, sekalipun kamu tak memaafkanku, bagaimanapun Kakak adalah orang yang baik dan selalu ada untukmu, semoga Allah membalikkan hati kakak untuk gadis lain yang jaub lebih sempurna dari Aku." Untaian do'a yang seharusnya membuat hati orang yang di do'akan menjadi bahagia tapi berbeda dengan Huda yang justru merasa sakit hati dengan do'a yang di ucapkan oleh Arum.


Do'a yang seolah-olah menegaskan jika Arum memang ingin berpisah dengannya, dan Huda merasa jika Arum sudah tak memiliki rasa padanya hingga dia berdoa agar Huda menemukan pasangan yang menurutnya cocok.


Arum yang tak lagi mendengar respon dari Huda kembali melanjutkan perjalanan menuju asrama meninggalkan Huda yang masih setia berdiri menatap langit dan bahkan kini Huda berpaling tak lagi menghadap ke arah Arum.


'Do'amu sungguh menyakiti hatiku Arum, andai kamu tahu jika saat ini hatiku sedang hancur, bahkan sangat hancur sehancur-hancurnya, Arum Aku masih belum bisa menerima semua yang terjadi. Ingin rasanya Aku mempercayaimu tapi sudut hatiku yang lain menolak hal itu,' batin Huda terus saja mengeluarkan kata-kata bernada kecewa.


Sore ini adalah sore terburuk dalam hidup Huda, entah dia masih bisa percaya cinta atau tidak di kemudian hari yang dia tahu saat ini hanya satu, dia tengah terluka dan hatinya sedang hancur.

__ADS_1


"Arum," panggil Hasan yang melihat Arum baru saja masuk ke dalam lingkungan pondok puteri dengan membawa saru keranjang sampah di tangannya.


"Kak Hasan," sahut Arum mengehentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya.


"Kamu dari mana?" tanya Hasan yang penasaran dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Arum meski sebenarnya tanpa harus di tanya harusnya Hasan sudah mengerti jika Arum baru kembali dari membuang sampah.


"Aku baru selesai buang sampah Kak, ada apa?" tanya Arum yang bingung dengan panggilan Hasan yang tiba-tiba.


"Aku mencarimu." Jawab Hasan


"Mencariku ada apa Kak?" Arum kembali bertanya karena dia sama sekali tak mengerti kenapa Hasan tiba-tiba mencarinya.


"Ganti bajumu dan bersiap-siaplah! setelah itu datang ke rumah, pamanku ingin menemuimu." Titah Hasan


"Baiklah Kak, Aku siap-siap dulu." Jawab Arum yang mendapat anggukan dari Hasan.


Arum berjalan menuju ke asrama dengan langkah penuh ragu, di fikirannya saat ini Arum sedang bingung dan bimbang memikirkan jika paman Hasan yang akan datang tak masalah tapi yang paling Arum takutkan jika mereka mengenali Arum.


Meski tak pernah bertemu dengan Paman Hasan yang itu artinya Ayah dari Huda, Arum banyak berfikir akankah mereka mengenalinya atau malah sebaliknya, sejak dulu Huda sering cerita jika dia sudah mengenalkan Arum pada keluarganya dan orang tua Arum begitu bahagia saat mendengar anaknya sudah punya tambahan Hati, tapi nasi sudah menjadi bubur jadi apapun yang akan terjadi mereka harus tetap berhubungan baik meski tak lagi ada ikatan cinta pada keduanya.


Arum langsung bersiap-siap bukan hanya menyiapkan baju yang pantas, Arum juga menyiapkan mental untuk menjaga hal yang akan datang seburuk apapun itu.

__ADS_1


__ADS_2