
"Maaf, Mas, aku khilaf," lirih Zahra sambil menundukkan kepala.
Husein memang terlalu mencintai Zahra hingga dia tak pernah bisa sanggup mendiamkan ataupun marah padanya terlalu lama, dia sendiri juga tidak tahan melihat lelehan demi lelehan air matanya jatuh saat menatap mata Husein.
"Beritahu Mas sekarang! kenapa kamu bisa sampai memikirkan hal seperti itu? apa yang membuatmu mengatakan hal yang kau katakan kemarin?" Husein mulai mencari akar dari masalah yang membuat Zahra sampai mengatakan ucapan mustahil seperti kemarin.
"Aku hanya takut kehilanganmu karena sampai saat ini aku belum bisa hamil, aku takut jila diriku tak sempurna Mas, aku takut jika aku mandul dan tak bisa memberimu keturunan, kita sudah menikah hampir satu tahun tapi masih saja tak ada tanda-tanda jika aku hamil sedangkan ada banyak sekali orang yang silih berganti menanyakan kehamilan yang seharusnya sudah aku alami." Zahra mengatakan semua yang dia rasakan agar Husein tahu alasan dia mengatakan hal yang ternyata dapat menyakiti hati sang suami.
"Zahra, jangan pernah dengarkan apa yang fi katakan orang lain! selama aku tak mempermasalahkan apapun selama itu jangan pernah berfikir ataupun menuruti apa yang mereka katakan! sudah berkali-kali aku katakan padamu bahwa anak juga takdir yang tak bisa di tentukan ataupun di pilih oleh manusia, lagi pula kita menikah masih seumur jagung, di luar sana ada begitu banyak pasangan yang baru memiliki momongan setelah bertahun-tahun bahkan ada juga yang sudah puluhan tahun baru punya keturunan, kita hanya perlu berusaha sambil berdo'a. Sisanya serahkan kepada yang maha kuasa, apapun yang akan di berikannya nanti aku yakin itulah yang terbaik untuk kita, dan satu hal yang harus selalu kau ingat! aku akan tetp dan selalu menyayangi juga mencintaimu apapun yang terjadi dengan atau tanpa anak fdi antara kita." Husein kembali mengatakan apa yang ada di dalam hatinya agar Zahra tak lagi berfikir yang bukan-bukan.
Husein mengatakan semuanya dengan menatap lekat kedua bola mata indah milik Zahra dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan, Husein mencoba meyakinkan Zahra dengan apa yang dia rasakan.
"Terima kasih, Mas sudah menerimaku apa adanya, aku harap suatu saat nanti kita bisa mendapatkan anugerah seorang anak sama seperti pasangan yang lainnya," ucap Zahra dengan tatapan penuh harap.
"Amin," jawab Husein.
"Kenapa kamu menangis?" sambung Husein saat melihat Zahra meneteskan air mata.
"Aku menangis bahagia karena telah mendapatkan suami sebaik dirimu, Mas," ungkap Zahra sambil tersenyum.
"Aku juga merasa bahagia karena mendapatkan istri sebaik dirimu," Husein mencium kening Zahra kemudian memeluknya menyalurkan segala cinta yang mereka punya.
Pagi yang indah bagi sepasang suami istri yang kini terlihat begitu harmonis.
~
__ADS_1
Pagi ini terlihat begitu sibuk di rumah Oma Arum setelah kedatangan Rifki dan Gia juga Stev secara tiba-tiba semalam, kini semua anghota keluarga tengah sibuk menyiapkan beberapa barang yang akan di bawa ke rumah Arum.
Hari ini adalah hari tiga bulanan kehamilan Arum, Bunda Fia dan Rifki juga Stev sengaja meluangkan waktu untuk menemui Arum sekaligus menjenguknya.
"Stev!" Bunda Fia yang sejak pagi sudah heboh kini terlihat semakin heboh saat tak menemukan Stev yang seharusnya sudah siap di ruang makan untuk sarapan bersama sebelum berangkat ke rumah Arum.
Panggilan Bunda Gia tak mendapat sahutan, Stev masih saja tak terdeteksi berada di mana sejak tadi.
"Stev belum keluar dari kamarnya Sayang, jadi percuma kamu panggil sambil teriak pun dia gak bakal dengar," sahut Rifki yang baru saja datang daro kamar, sedang Oma hanya duduk manis di meja makan menyaksikan keributan yang terjadi, sungguh pagi ini hatinya begitu bahagia karena mension yang biasanya sepi seperti kuburan mendadak ramai saat Bunda Fia dan yang lain datang.
Tanpa banyak bicara Bunda Fia langsung berjalan dengan langkah lebar menuju kamar Stev untuk menemuinya.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu terdengar mengusik seorang laki-laki tampan yang tengah lelap di balik selimut tebalnya.
"Stev!!" Bunda Fia menaikkan datu oktaf suaranya karena tak mendapat sahutan dari dalam kamar.
"Emmm," Stev yang terlelap akhirnya terbangun karena terusik dengan suara cempreng sang Bunda.
'Ceklek'
Perlahan pintu kamar Stev terbuka, nampaklah Stev yang masih acak kadul karena baru bangun dari tidurnya.
"Astaghfirullah, Stev! apa kamu lupa kalau hari ini kita akan pergi ke rumah Arum?" Bunda Fia bertanya dengan suara sedikit keras.
__ADS_1
"Aku ingat Bun," jawab Stev santai sambil menguap.
"Kenapa kamu belum siap?" Bunda Fia mulai geram dengan tingkah sang putera yang selalu saja loading jika hendak bepergian seperti jaringan internet yang datanya hampir habis.
"Sebentar lagi Bunda, lagian ini masih jam berapa? santai saja Bun," jawab Stev enteng.
"Kamu bilang masih jam berapa? ini sudah jam delapan Stev, memangnya kamu mau ke rumah adikmu jam berapa? di sana itu lagi ada acara tiga bulanan calon keponakanmu, apa kamu tidak ingin membantu?" sarkas Bunda Fia sambil memelototkan mata geram dengan jawaban sang putera yang masih saja terlihat santai.
"Baiklah, sepuluh menit lagi Stev sudah siap di meja makan," jawab Stev sambil berjalan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri tanpa menutup pintu.
"Astaghfirullah, kenapa aku punya putera seperti dia ya? perasaan aku selalu tepat waktu dan gak selemot itu," lirih Bunda Fia seraya menutup pintu kamar Sang putera yang masih terbuka dengan sempurna.
"Bagaimana, Bunda?" tanya Rifki saat melihat Fia berjalan mendekat ke arah meja makan.
"Seperti biasa Yah, Stev masih tidur," jawab Bunda Fia.
Rifki yang mendengar jawaban Fia hanya tersenyum simpul karena dia sangat tahu bagaimana sifat puteranya itu, Stev akan sangat disiplin jika masalah kerjaan tapi akan sangat lamban jika menyangkut hal lain selain pekerjaan.
"Sudah, jangan terlalu di ributkan! lagi pula masih ada banyak waktu, lebih baik kalian makan dulu!" sahut Oma yang sejak tadi hanya diam memperhatikan apa yang terjadi di hadapannya.
Bunda Fia yang mendengar ucapan Oma hanya bisa menurut tanpa mendebatnya, sejak pertama menikah sampai saat ini Bubda Fia tak pernah sekalipun melawan ataupun mendebat perkataan Oma, karena hal itulah Oma Arum sangat menyayangi menantunya itu.
"Pagi semua!" seru Stev yang baru saja bergabung di meja makan, padahal semua anggota sudah mengahbiskan setengah dari porsi makan mereka tapi Stev baru datang dengan wajah sumringah tanpa ada dosa.
"Sudah jangan basa-basi! lebih baik kamu lansung makan saja!" sahut Bunda Fia.
__ADS_1
"Siap Bunda ku Sayang," jawab Stev sambil duduk tepat di samping sang Bunda untuk ikut bergabung makan bersama dengan yang lain.