
"Bi," Arum mulai merengek, setiap malam sebelum tidur Arum selalu mencari Hasan suaminya. Dia tidak akan bisa tidur sebelum Hasan mengusap-usap lembut perutnya sambil mencium pucuk kepalanya.
Semakin hari Arum semakin manja, sangat jauh berbeda dengan sikap dan sifat Arum sebelum hamil, tapi Hasan tak pernah mengeluh ataupun menolak apapun yang di minta oleh Arum, baginya saat ini Arum adalah hal yang harus di utamakan, karena saat ini dia tengah berjuang mengandung buah cinta mereka.
Usapan lembut tangan Hasan membuat rasa kantuk Arum semakin terasa, Arum tak bisa menjabarkan betapa nyamannya mendapat usapan perut dari tangan Hasan membuatnya lelap dalam dunia mimpi yang selalu terlihat indah.
Malam semakin larut jarum jam terus saja berjalan tanpa bisa di hentikan, hingga saat ini jarum jam menunjukkan puku dua belas lebih sepuluh menit. Arum yang tengah asyik berkelana dalam mimpi tiba-tiba terbangun.
"Abi," suara serak khas bangun tidur terdengar mendayu-dayu di telinga Hasan, tapi sang empu masih saja tak ingin membuka mata, Hasan merasa berada di awang-awang antara sadar dan tidak.
"Abi, bangun!" Arum kembali mengulangi panggilannya yang kini di sertai gerakan tangan sedikit mengguncang sang suami agar cepat terbangun.
"Emm, ada apa Syei'?" sahut Hasan sedikit membuka mata tanpa bergerak.
"Buka matanya dulu Bi!" jawab Arum sedikit kesal melihat tingkah sang suami yang terlihat santai dengan respon yang lamban.
"Iya, ada apa?" ucap Hasan sambil mengumpulkan kesadarannya agar bisa menuruti apa keinginan Arum kali ini.
Sudah berapa kali Hasan harus bangun tengah malam untuk memenuhi keinginan Arum yang terkadang cukup menyusahkan. Terakhir Arum meminta Hasan memasak oseng kangkung dengan tempe goreng lengkap bersama sambal terasinya, untung saja mereka baru saja selesai belanja dan mengisi bahan masakan di kulkas, jika tidak bisa di pastikan Hasan akan kelimpungan mencari bahan-bahan tersebut.
"Bi, kenapa tiba-tiba aku pengen makan martabak daging ya?" keluh Arum merasa aneh dengan dirinya sendiri yang hampir setiap malam menginginkan sesuatu untuk dia makan. Padahal sebelumnya Arum termasuk tipe irang yang kurang suka makan saat malam hari.
"Hah? apa Syei'?" mata Hasan yang tadinya terlihat masih sayup-sayup kini mulai terbuka lebar setelah mendengar pertanyaan bernada permintaan yang keluar dari mulut Arum.
"Aku pengen makan martabak daging Abi," Arum kembali mengatakan keinginannya pada Hasan.
__ADS_1
Hasan langsung melirik jam dinding yang masih menggantung indah di dinding tak jauh dari tempatnya istirahat.
"Ini sudah jam setengah satu Syei', mau cari martabak di mana?" sahut Hasan dengan ekspresi bingung yang menyelimuti wajahnya.
Permintaan Arum kali ini benar-benar akan merepotkan Hasan, di tempat Hasan saat ini akan jarang sekali penjual makanan yang masih buka, dan karena itulah permintaan sang istri kali ini akan merepotkan Hasan.
"Tapi aku ingin makan martabak sekarang Bi," Arum yang tak bisa menahan diri kembali merengek.
"Baiklah, Abi akan ganti baju dan cuci muka dulu." Pamit Hasan sambil bangkit dari kasur menuju kamar mandi, bagi Hasanberdebat ataupun menolak permintaan Arum bukanlah hal yang baik, karena Bumil yang dia tahu selalu ingin menang sendiri dan menuntut untuk di kabulkan segala permintaannya.
Seutas senyum muncul di bibir mungil Arum, wajahnya terlihat begitu lega dan senang setelah mendengarjawaban Arum yang menyanggupi apa yang dia inginkan.
Setelah melihat Hasan masuk ke dalam kamar mandi, Arum juga bergegas bangun untuk ikut bersiap-siap.
"Loh, kamu mau ke mana Syei'?" tanya Hasan dengan ekspresi heran melihat Arum yang kini juga ikut bersiap-siap dengan satu kerudung yang ada di tangannya.
Hasan tak bisa mendebatnya lagi, dia lebih memilih untuk diam dan membiarkan Arum melakukan apa yang dia inginkan.
"Ayo Bi!" ajak Arum dengan semangat empat lima yang terlihat jelas di wajahnya.
Hasan hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat tingkah sang istri, sebenarnya dia kurang suka jika Arum ikut keluar rumah untuk mencari martabak yang dia inginkan, bukan apa-apa, tapi hari sudah sangat larut, sedangkan udara malam tak baik untuk ibu yang sedang hamil.
"Tunggu!" cegah Hasan yang kini berjalan berbalik arah menuju lemari yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kenapa Bi? apa ada yang ketinggalan?" tanya Arum heran melihat sang suami malah berjalan menuju lemari dan melepas genggaman tangan Arum.
__ADS_1
"Pakai ini!" Hasan memakaikan jaket cukup tebal kw badan Arum membuat sang empu sedikit terkejut.
"Kalau pakai jaket setebal ini, aku nya jadi gerah Bi," Arum hanya bisa mengeluh tanpa bisa menolak, dia lebih memilih membiarkan Hasan memakaikan jaket ke tubuhnya.
"Udara malam itu sangat dingin Syei', gak baik juga untuk kesehatan," ujar Hasan tak terbantahkan.
Arum lebih memilih diam dari pada nanti malah tidak jadi, karena apa yang di ucapkan Hasan memang benar adanya, jika udara malam memang tak baik untuk Ibu hamil.
Keduanya melangkah beriringan menuju garasi mobil. Arum memeluk erat lengan sang suami saat melihat suasana sepi dan sedikut gelap di area pesantren, setiap malam para santri memang terbiasa mematikan lampu kamar saat tidur dan hanya menyalakan lampu teras saja.
"Kenapa?" tanya Hasan yang merasakan gelagat aneh Arum.
"Takut Bi," jawab Arum semakin mempererat pegangannya.
"Kalau takut tadi kenapa minta martabak malam-malam?" sahut Hasan.
"Namanya juga kepengen Bi, mana bisa di atur?" seru Arum membuat Hasan tersenyum.
Hasan sama sekali tak menganggap beban setiap keinginan. yang di ajukan Arum, dia justru menikmati momen-momen yang menurutnya langkah, karena Hasan bisa memastikan jika Arum tidak akan bersikap seperti itu jika dia tidak hamil.
Mobil melaju dengan kecepatan rendah, karena selain fokus menyetir sesekali Hasan juga harus memperhatikan sekeliling, mencari penjual martabak yang masih buka di tengah malam seperti ini, dan hal yang sama juga di lakukan oleh Arum.
"Kenapa sepi ya Bi?" tanya Arum saat melihat deretan warung dan tokoh yang sudah tutup.
"Di daerah sini memang jarang ada yang buka di tengah malam, lebih baik kita ke kota saja." Ajak Hasan yang kini mempercepat laju mobilnya menuju pusat kota untuk mencari penjual martabak yang masih buka.
__ADS_1
Arum hanya menurut saja, yang terpenting sekarang dia bisa memakan martabak daging seperti yang dia inginkan. Hasan masih terus melajukan mobilnya sambil sesekali melirik ke arah tepi jalan untuk mencari penjual martabak.