
Dengan penuh semangat Hasan memasak untuk sang istri tercinta yang kini duduk di meja makan menikmati satu toples kue kacang yang sempat di belikan Hasan kemarin.
Begitu lihainya Hasan memasak nasi goreng campur yang kini menjadi makanan favorite Arum, sedang Bumil yang sedang banyak minta itu justru asyik menonton sang suami memasak sambil memakan kue kacang yang ada di hadapannya.
"Abi," panggil Arum.
"Iya, Syei', kenapa?" sahut Hasan menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Arum berada.
"Abi, mau selai kacang?" tawar Arum.
"Tidak, Syei', kamu aja yang makan," tolak Hasan yang memang kurang menyukai kue kacang yang saat ini di makan oleh Arum.
Arum yang mendapat penolakan dari Hasan terlihat cuek tak memperdulikannya, dia malah makan dengan nikmatnya menghabiskan setengah toples dari kue yang saat ini dia makan.
"Nasi goreng campur khusus untuk istriku tersayang," ujar Hasan sambil menaruh dua piring berukuran berbeda, yang satu berukuran seperti biasa sedang yang satunya lagi berukuran besar dengan porsi yang besar pula.
"Hemmm, nasi gorengnya harum Bi," celetuk Arum langsung mengambil sendok yang terletak tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Nasi goreng buatan Abi memang selalu enak," ucap Hasan berbangga diri.
Arum hanya tersenyim manis menanggapi ucapan Hasan yang sedang berbangga diri karena apa yang di katakannya memang benar adanya.
Satu porsi nasi goreng telah habis, Hasan benar-benar merasa lelah dan mengantuk, sekilas pandangannya beralih pada jam dinding yang tergantung indah tak jauh dari tempatnya Duduk.
'Pantas saja rasanya ngantuk sekali, ternyata sudah jam setengah satu malam,' batin Hasan sambil sesekali menguap menahan kantuk yang kini terasa semakin merasuki dirinya.
"Syei', sudah malam apa tidak lebih baik kita tidur?" cicit Arum.
__ADS_1
"Tapi aku masih belum ngantuk Bi," sahut Arum yang terlihat masih segar dan tak ada gurat lelah ataupun kantuk yang hinggap di wajahnya.
"Tapi Abi ngantuk Syei'," saat ini Hasan benar-benar merasa tak kuat lagi untuk menahan rasa kantuk dan lelah yang hinggap.
"Kalau begitu kita ke kamar aja Bi," ajak Arum berdiri melenggang pergi meninggalkan Hasan menuju kamar.
Hasan tak lagi membalas ucapan Arum, dia hanya mengikuti langkah Arum masuk ke dalam kamar menyusul Arum yang ternyata sudahax2 merebahkan diri di atas tempat tidur, Arum bersandar dengan santai sambil memainkan gawainya tanpa memperdulikan Hasan yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Tumben kamu main ponsel Syei'? memangnya lagi lihat apa?" tanya Hasan dengan ekspresi penasaran, tapi yang di ajak bicara justru tak meresponnya.
Hasan begitu geran dengan sikap Arum yang tiba-tiba cuek dan tetap fokus menatap layar gawai yang ada di hadapannya.
"Syei'," Hasan mencolek Arum ketika dia sudah berada di sampingnya.
"Eh iya, Bi, ada apa?" sahut Arum.
"Kamu lihat apa di ponsel sampai gak dengerin aku ngomong dari tadi?" tanya Hasan.
"Sejak kapan kamu suka main cacing?" tanya Hasan sambil mengerutkan dahi heran.
"Sejak sekarang," jawab Arum santai.
"Dan sejak kapan permainan itu ada di sana?" Hasan kembali bertanya, pasalnya tadi sebelum mereka tidur aplikasi game cacing yang sedang di mainkan Arum saat ini tidak ada di sana.
"Aku batu aja download Bi, dan ternyata permainannya seru Bi," jawab Arum sambil tersenyum tapi tatapannya masih lurus ke layar ponsel dan fokus menjalankan cacingnya yang terlihat lahap memakan apapun yang ada di hadapannya.
"Sudah malam Syei', lebih baik kamu tidurdan istirahat, main cacingnya besok lagi," Hasan mencoba mengingatkan Arum agar berhenti memainkan cacing itu dan mulai beristirahat.
__ADS_1
"Aku masih belum ngantuk Bi, kalau Abi ngantuk lebih baik tidur saja dulu. Nanti aku nyusul." Jawab Arum dengan tatapan yang masih fokus ke layar ponsel.
"Baiklah, Abi tidur dulu." Hasan yang sangat mengerti dengan sikap Arum yang berubah drastis sejak hamil memilih untuk mengalah dari pada harus berdebat, baginya saat ini kebahagiaan Arum lebih utama agar Hasan junior juga merasa bahagia di dalam rahim sang istri.
"Hm," jawab Arum singkat, Hasan yang melihat respon yang di berikan oleh Arum hanya bisa menggelengkan kepala heran tanpa bisa memprotesnya kemudian mulai merangkai mimpi dan lelap di dalamnya.
~
Malam indah telah berlalu, berganti cahaya jingga yang pagi ini terlihat, seperti hari-hari biasa Desy berjalan menuju rumah Umik untuk mencuci dan menjemur baju, Umik memang menyediakan mesin cuci untuk mencuci baju-bajunya agar santri yang mau membantunya tidak kesulitan dan terlalu capek.
Sambil menunggu baju yang masih tergiling manis di dalam mesin cuci Desy melanjutkan kewajibannya menyapu halaman, setiap hari jum'at dan minggu Desy selalu membantu santri lain yang sedang menyapu halaman di depan rumah Umik.
Tanpa di sadari Desy sudah satu bulan ini seorang santriwan memperhatikan semua yang di lakukan Desy di setiap kesempatan, dia selalu menatap lekat ke arah Desy yang sedang mencuci baju, kebetulan mesin cuci yang di pakai Desy berada di samping kamar yang dulu di gunakan oleh Huda yang berada di samping depan rumah Umik.
"Semakin aku memperhatikanmu rasa tertarik ini semakin menyiksa Desy," lirih laki-laki itu tersenyum simpul menatap setiap gerakan yang di lakukan oleh Desy.
"Heiii! kau lihatin dia lagi?" tegur sahabat yang selalu menemaninya.
"Dia semakin cantik Iwan," jawabnya pada sang sahabat yang bernama Iwan.
"Sudahlah Rey, jangan di pandang terus! dosa tahu, kalau kamu emang tertarik dan suka sama gadis itu kenapa tidak kau lamar saja dia lewat Abi Ilzham?" usul iwan yang merasa gemas dengan sikap sang sahabat yang sudah sebulan ini hanya memperhatikan Desy tanpa berani mendekat.
Reyhan Wibowo, putera tunggal Adi wibowo juragan tanah yang terkenal di desa sebelah pesantren.
"Belum waktunya Wan, tunggu setelah kita lulus nanti," sahut Reyhan.
"Gadis cantik dan soleha kayak Desy itu banyak yang ngincer Rey, kalau nunggu nanti keburu di comot orang, jadi sia-sia kau," seru Iwan.
__ADS_1
"Sudah diam, jangan berisik!" hardik Reyhan yang merasa sedikit terganggu dengan ocehan Iwan sang sahabat.
Jika kini Desy memiliki penggemar baru maka berbeda dengan Huda yang mulai melakukan apa yang di sarankan oleh sang Adik sepupu Hasan, sejak pagi tadi Huda menghubungi Erwin asisten pribadinya memerintahkannya membelikan sarapan untuk Arum, dan perintah yang di berikan Huda cukup membuat sang asistennya itu pusing, pasalnya Huda memberi perintah seenak sendiri tanpa melihat waktu, perbedaan empat jam waktu di Australian dan indonesia membuat Huda menghubunginya jam dua pagi, mungkin di Australia sudah jam enam tapi di indonesia masih jam dua dini hari.