Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Keanehan Arum


__ADS_3

Drrrtttrrt ... drtrttt ... drrrtt ....


Suara getar telfon terdengar begitu nyaring mengusik Hasan dan Arum yang sedang menikmati sarapan mereka.


"Bi, di angkat dulu telfonnya takut penting," ucap Arum menolehke arah Hasan yang terlihat cuek.


"Assalamualaikum, Kak Hasan," suara Husein terdengar dari sebrang.


"Waalaikum salam, ada apa, Dek?" tanya Hasan.


"Kak, aku jadi pindah hari ini. Mungkin nanti siang aku mau ambil barang-barang di rumah Umik. tolong bilangin Umik ya, soalnya sejak tadi aku telfon gak aktif," jawab Husein.


"Ok entar aku kasih tahu," sahut Hasan.


"Kakak entar harus ikut ke rumah!" titah Husein.


"Beres, entar aku ikut." Jawab Hasan.


"Kalau gitu aku lanjut beres-beres dulu ya Kak," pamit Husein seraya mematikan panggilan yang mereka lakukan.


"Siapa yang telfon Bi?" Arum langsung bertanya setelah melihat Hasan mematikan telfon.


"Husein, dia jadi pindah hari ini," jawab Hasan.


"Kalau gitu setelah ini kita pergi ke supermarket ya Bi." Pinta Arum.


"Mau ngapain ke supermarket?" tanya Hasan menatap heran ke arah istrinya.


"Kebutuhan dapur sudah habis, lagi pula aku juga mau beli buah tangan untuk Husein dan Zahra." Jelas Arum.


"Nanti kita akan mampir ke supermarket. Tapi habiskan dulu makannya!" tegas Hasan.


"Bi," lirih Arum.


"Kenapa?" sahut Hasan.


"Kalau aku minta bungkusin untuk nanti di rumah apa boleh?" tanya Arum sedikit ragu.

__ADS_1


"Bungkuslah berapapun yang kamu mau Suei'!" jawaban yang membuat Arum tersenyum lebar.


"Buk, bungkus dua ya sama teh hangatnya juga di bungkus satu saja!" mendengar persetujuan Hasan Arum langsung berdiri dan meminta pemilik warung untuk membungkus makanannya.


"Siap, Non," sahut pemilik warung.


Setelah memesan untuk di bungkus Arum melanjutkan makannya hingga tandas, tak tersisa sebutir nasi di piring. Sedang Hasan hanya menatap heran sang istri yang terlihat begitu lahap.


"Kamu masih kurang Syei'?" tanya Hasan.


"Kenapa Abi bilang begitu?" bukannya menjawab Arum malah balik bertanya.


"Tidak apa-apa, Abi mau nawarin lagi kalau kurang." Jawab Hasan.


"Tidak usah Bi, aku sudah memesannya," Arum tersenyum manis ke arah Hasan.


Keduanya pergi setelah selesai dan makanan yang mereka pesan telah siap, Arum begitu bersemangat masuk ke dalam mobil mendahului Hasan yang masih membayar semua yang mereka makan dan pesan.


"Astaghfirullah," lirih Hasan saat masuk ke dalam mobil Hasan begitu terkejut mendapati Arum sedang memakan pecel yang tadi dia pesan dengan lahapnya.


"Kenapa Bi?" sahut Arum polis menatap wajah Hasan yang terlihat terkejut.


Arum kembali melanjutkan makan setelah mendengar jawaban Hasan tanpa peduli apapun lagi. Kecurigaan Hasan semakin menunjukkan jika memang benar, pasalnya Arum terlihat berbeda pagi ini, tapi Hasan tak ingin mengambil kesimpulan lebih awal sebelum mendapatkan bukti yang kuat.


Hasan melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan, meski sebenarnya jarak antara warung pecel dan supermarket tak terlalu jauh tapi perjalanan kali ini memakan waktu cukup lama karena Hasan sengaja memperlambat laju mobilnya agar saat sampai di supermarket Arum telah selesai makan.


"Alhamdulillah," ucap Arum setelah menghabiskan satu bungkus pecel yang tadi dia pesan.


"Kamu masih mau lanjut makan atau kita ke supermarket dulu?" tanya Hasan seraya mengusap lembut kepala Arum yang tertutup rapat oleh kerudung.


"Kita ke supermarket saja dulu. Satu bungkus ini untuk nanti," jawab Arum sambil menunjukkan satu bungkus pecel yang belum dia makan.


"Baiklah, ayo turun!" Hasan mengajak Arum turun dari mobil dan membawanya masuk ke dalam super market.


Dengan langkah penuh semangat Arum turun mengambil trolly dan mulai memilih barang yang dia butuhkan.


"Sini, biar Abi yang membawanya." Hasan mengambil alih trolly yang sedang di dorong oleh Arum.

__ADS_1


"Syei', bukankah waktu itu kita sudah membeli ini semua?" tanya Hasan saat melihat Arum mengambil barang yang seharusnya masih ada di lemari penyimpanan.


"Aku ingin membelinya lagi Bi, apa tidak boleh?" ucap Arum dengan wajah memelas.


"Tidak, beli saja apa yang Kamu inginkan Syei'!" jawab Hasan yang tak ingin istrinya itu merajuk.


Arum benar-benar membeli semua barang yang biasa dia beli untuk kebutuhan satu bulan, dia juga membeli beberapa perabotan rumah yang sebenarnya sudah ada di rumahnya.


"Apa masih ada yang ingin di beli Syei'?" Hasan kembali bertanya.


"Tidak ada Bi, semuanya sudah terbeli," jawab Arum.


Hasan berjalan kembali menuju kasir sambil mendorong trolly yang terisi penuh dengan barang yang telah Arum masukkan.


"Bi, tunggu!" Arum tiba-tiba menghentikan langkah Hasan dan memegang tangannya.


"Ada apa Syei'?" sahut Hasan dengan nada lembut.


"Aku ingin ice cream, kita beli ice cream dulu ya." Ajak Arum sambil menarik tangan Hasan untuk pergi menuju stand ice cream yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Hasan tak lagi bisa menolak ataupun mendebat permintaan Arum, dia hanya bisa mengikuti langkah Arum ke manapun dia pergi.


Arum begitu antusias memilih ice cream yang terlihat menggiurkan di depannya, Arum juga membeli mochi dengan berbagai rasa.


"Syei', apa ini tidak terlalu banyak Syei'?" tanya Hasan menatap begitu banyak ice cream dan mochi yang telah masuk ke dalam keranjang.


"Ini untuk stok di rumah Bi," jawab Arum tersenyum begitu manis ke arah Hasan.


Keduanya berjalan menuju kasir untuk membayar semua yang telah Arum beli, Hasan sungguh tak mengerti dengan perubahan sikap sang istri, entah sejak kapan dia menyukai ice cream, padahal sebelumnya Hasan jarang sekali melihat Arum memakan ice cream.


Sepanjang perjalanan mulut Arum tak pernah bisa diam, ada saja yang dia makan ice cream ataupun cemilan kini bungkus keduanya telah memenuhi kantong plastik kecil yang sengaja Arum siapkan hingga tanpa terasa Arum tertidur, mungkin itu efek dari perutnya yang telah kenyang.


"Kenapa hari ini kamu bersikap begitu aneh Syei'?" lirih Hasan mengusap lembut pipi sang istri kemudian beralih mengusap perut rata Arum.


"Semoga saja apa yang di katakan Mbak Hana benar, dan si junior tengah tumbuh di sana," sambung Hasan.


Melihat betapa lelapnya sang istri, Hasan tak ingin membangunkan ataupun mengganggu Arum, dia memilih keluar dari mobil setelah membuka kaca mobil agar Arum tidak gerah, satu persatu Hasan mengeluarkan belanjaan Arum memasukkannya ke dalam rumah. Saat ini mobil yang di gunakan sengaja di parkir di depan gerbang rahasia depan rumah Hasan agar mempermudahnya untuk memindah barang juga memindahkan sang istri ke kamar.

__ADS_1


Semua barang telah masuk ke dalam rumah kini giliran Arum yang di gendong oleh Hasan, dengan gerakan pelan dan lembut Hasan memindahkan Arum dari mobil menuju ruang keluarga, entah sejak kapan berat badan Arum semakij bertambah hingga Hasan hanya mampu menidurkannya di ruang keluarga, padahal tubuh Arum tak terlihat gendut tapi cukup berat untuk di pindahkan.


"Kamu tidur di sini dulu ya Syei! maaf cAbi cuma mampu memindahkanmu sampai sini," lirih Hasan kemudian melenggang pergi meninggalkan Arum keluar rumah untuk memarkirkan mobil ke dalam garasi.


__ADS_2