
Husein masih saja meneruskan aksinya tanpa memperdulikan suara pintu yang kembali di ketuk.
Tok ... tok ... tok ....
"Mas, buka dulu pintunya!" titah Zahra setelah mengumpulkan semua kesadaran dan kekuatannya, Husein benar-benar pintar membuat Arum lemah dan tak berdaya.
Husein yang mendengar suara Zahra akhirnya memilih menghentikan kegiatannya, menarik selimut yang berada tak jauh darinya untuk menutupi tubuh sang istri, wajah Husein nampak merah padam, dia sedikit emosi karena terganggu dengan kehadiran orang yang tak di inginkan di saat gairahnya memuncak.
'Cekle'
Meski hatinya sesang jengkel, tapi Husein berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikannya dari siapapun.
"Maaf, Tuan, ini susu sapi yang Tuan pesan." Ternyata yang mengganggu kegiatan panas keduanya adalah Bik Sumik, karena terlalu asyik dengan mainannya membuat Husein lupa jika dia memesan susu sapi hangat pada Bik Sumik.
"Terima kasih, Bik," hanya ucapan terima kasih yang bisa di katakan oleh Husein, sebenarnya tadi dia berniat untuk sedikit mengomeli peganggu yang mengganggu kegiatannya, tapi niatnya itu urung karena sang pengganggu yang ingin dia omeli datang karena permintaannya sendiri.
"Siapa, Mas?" tanya Zahra yang kini terlihat sudah rapi kembali dengan piama yang terpasang sempurna.
"Kenapa di rapiin lagi?" tanya Husein heran bercampur jengkel, pasalnya Zahra kini terlihat sudah tak berminat untuk meneruskan kegiatannya tadi, sedangkan hasrat dalam diri Husein masih belum terpuaskan.
"Gak apa-apa, Mas, apa itu susu sapi yang aku minta?" jawab Zahra dengan ekspresi biasa saja tanpa ada beban atau dosa, padahal dirinya belum selesai menuntaskan hasrat sang suami.
"Iya, tadi Bik Sumik yang nganter." Jawab Husein berjalan mendekat ke arah Zahra dan duduk tepat di sampingnya.
"Minumlah!" ujar Husein menyodorkan segelas susu sapi hangat yang memiliki bau sedikit menyengat itu ke arah Zahra.
"Hmm, baunya enak ya, Mas?" seru Zahra membuat Husein yang tadinya menaruh nampan di atas nakas langsung menoleh ke arahnya.
"Apa, Dek? baunya enak?" tanya Husein dengan ekspresi kaget.
"Iya, coba deh Mas cium! baunya beber-bener enak," jawab Zahra meyakinkan Husein sambil mendekatkan gelas berisi susu sapi ke arah hidungnya.
"Enggak, Dek, kamu tahu kan, kalau Mas kurang suka susu sapi," Husein mencoba menolak dengan halus.
__ADS_1
"Kalau begitu biar aku sendiri saja yang suka dan menghabiskannya." Ujar Zahra membuat Husein semakin bingung dan terkejut dengan pengakuan sang istri.
"Sejak kapan kamu suka susu sapi, Dek?" tanya Husein yang mulai penasaran dengan perubahan sikap Zahra.
"Sejak sekarang," jawab Zahra enteng, dia begiti menikmati susu sapi hangat yang tadi di bawakan oleh Bik Sumik, Zahra terlihat sangat menyukainya hingga isi di dalam gelas itu tandas bersih tak tersisa.
"Alhamdulillah, apa di dapur masih ada susu sapinya, Mas?" tanya Zahra setelah menghabiskan satu gelas susu sapi di tangannya.
"Ada, apa kamu mau lagi?" jawab Husein.
"Apa boleh?" Zahra kembali bertanya.
"Tunggu di sini! biar aku yang buatkan." Ucap Husein berdiri hendak pergi meninggalkan Zahra yang masih setia duduk di tempatnya.
"Tunggu, Mas!" cegah Zahra sambil memegang tangan Husein.
"Apa ada yang kamu inginkan lagi?" Husein menghentikan gerakannya menoleh ke arah Zahra.
"Sini, mendekatlah, Mas!" pinta Zahra memberi isyarat pada Husein agar mendekat ke arahnya.
'Cup'
Satu kecupan manis kini mendarat di bibirnya, kali ini kecupannya berpindah tempat, biasanya Zahra suka mengecup pipi Husein tapi kini berpindah ke bibirnya.
"Kenapa sekarang pindah tempat?" tanya Husein heran.
"Biar gak ada yang iri Mas, dan aku gak perlu mengulangi kedua kalinya," jawab Zahra tersenyum centil sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Husein.
"Jangan pernah tersenyum seperti itu pada orang lain! ingat itu!" Husein selalu saja mengingatkan Zahra agar dia tak bersikap manja ataupun centil pada siapapun termasuk Kakak dan Ayahnya.
"Siap pawangku Sayang," ujar Zahra.
Husein yang melihat perubahan tingkah Zahra hanya bisa menggelengkan kepala heran, meski terlihat sedikit aneh tapi Husein menyukainya, Zahra terlihat jauh lebih imut dan menggemaskan saat bersikap seperti sekarang.
__ADS_1
"Aku tunggu susu sapinya ya suamiku Sayang," seru Zahra dengan suara sedikit lebih keras agar Husein masih bisa mendengarnya, karena saat ini Husein sudah berada di depan pintu, dan dia hanya tersenyum manis ke arah Zahra sebagai tanda jika dia mendengar apa yang di ucapkan oleh Zahra kemudian melenggang pergi meninggalkan kamar menuju dapur untuk membuatkan susu sapi yang Zahra minta.
"Bik Sumik!" panggil Husein saat melihat sang asisten rumah tangganya kini sedang sibuk mengelap meja.
"Iya, Tuan," sahut Bik Sumik berjalan mendekat ke arah Husein.
"Bik, hari ini Bibik saja yang masak, Zahra lagi gak enak badan." Titah Husein.
"Baik, Tuan," jawab Bik Sumik yang langsung berjalan menuju dapur menjalankan apa yang di minta oleh Husein sedang Husein juga ikut berjalan ke dapur mengikuti langkah Bik Sumik.
"Loh, Tuan kok ikut ke dapur?" tanya Bik Sumik menghentikan langkahnya menoleh ke arah Husein yang masih berdiri di belakangnya.
"Apa ada yang bisa Bibik bantu, Tuan?" sambung Bik Sumik.
"Aku mau buat susu sapi lagi satu gelas, apa masih ada?" jawab Husein.
"Susu sapinya masih banyak kok Tuan, sini biar Bibik ambilkan." Bik Sumik mengulurkan tangan meminta gelas yang ada di tanagn Husein.
"Apa sususnya sudah matang, Bik?" tanya Husein.
"Sudah Tuan, tadi Bibik masak satu botol, jadi sisanya masih ada," jawab Bik Sumik.
Husein yang mendengar penuturan Bik Sumik langsung memberikan gelas yang dia bawa agar di isi kembali.
"Neng Zahra kok tumben suka susu sapi, Tuan?" tanya Bik Sumik yang sejak tadi penasaran dengan apa yang di minta oleh Zahra, pasalnya sejak mereka pindah dan tinggal di rumah ini tak sekalipun Zahra meminta atau terlihat meminum susu sapi, meski terkadang Bik Sumik membelinya dan menaruhnya di kulkas tak sedikitpun susu itu di sentuh hingga akhirnya Bik Sumik membawanya pulang sebelum basi.
"Aku gak tahu Bik, sejak tadi pagi sikap Zahra berubah aku sendiri juga bingung di buatnya," tutur Husein.
"Apa mungkin Neng Zahra hamil Tuan?" tebak Bik Sumik.
"Hamil? apa mungkin Bik?" sahut Husein dengan wajah penuh harap.
"Mungkin saja Tuan, orang hamil itu biasanya suka bersikap aneh, dan menyukai sesuatu yang biasanya gak di sukai, dan sebaliknya," jelas Bik Sumik.
__ADS_1
Husein terdiam memikirkan apa yang di katakan oleh Bik Sumik, mengingat setiap kejadian yang terjadi sejak tadi pagi.