
Ketiganya berjalan menuju ruang keluarga di mana Arum sedang beristirahat, merebahkan badan menikmati setiap gejolak rasa aneh yang dia rasakan.
"Arum, bagaimana keadaanmu, Nak?" Umik berjalan lebih cepat menghampiri Arum yang sedang merebahkan diri di sofa dengan mata yang tertutup.
"Umik, Budhe," lirih Arum ketika matanya sedikit terbuka melihat Umik dan Imah yang sudah duduk di bawah sofa tempatnya tidur.
"Sudah jangan di paksakan duduk! jika kamu masih belum kuat," larang Imah.
"Tidak apa-apa Budhe, Arum sudah lebih kuat sekarang," jawab Arum merubah posisinya yang tadi tiduran kini duduk di sofa.
"Umik sama Budhe pindah di sini saja!" pinta Arum merasa sungkan jika kedua wanita paruh baya yang paling dia hormati harus duduk di bawah sedang dia sendiri duduk di sofa.
Umik dan Imah beralih duduk di sisi kanan dan kiri Arum setelah mendengar permintaan Arum sang keponakan dan menantu.
"Arum, kamu ke sini bawa bakso iga, dan kebetulan masih hangat, apa perutmu masih mual, atau lebih baik?" tanya Umik sambil memegang tangan sang putri.
"Perut aku sudah lebih baik Umik, dan aku mau bakso iganya," jawab Arum dengan wajah yang bahagia.
Begitulah keadaan Arum saat ini, dia bisa makan apaapun dan berapapun tapi sepuluh menit setelah makanan itu masuk akan kembali keluar tanpa bisa dia tahan, dan hal inilah yang membuat Hasan merasa bingung begitu juga dengan Arum, dia selalu merasa ingin terus mengunyah makanan meski pada akhirnya akan keluar dan membuat tenggorokannya sedikit sakit karenanya.
"Syei', apa kamu yakin tidak akan apa-apa kalau makan lagi?" tanya Hasan dengan ekspresi penuh kekhawatiran menatap Arum yang justru mengangguk dengan pasti. Sebenarnya Arumjuga sudah lelah kalau harus terus-terusan muntah setelah makan, tapi perasaan ingin makan yang timbul dalam dirinya juga tudak bisa dia tahan.
"Sudahlah Hasan, jangan cegah istrimu untuk makan! barang kali yang sekarang gak bikin mual," lerai Imah.
"Kamu benar Kak, lebih baik sekarang Kamu ambilkan mangkuk untuk Arum dan untukmu sendiri di dapur!" sahut Umik yang ikut-ikutan membela Arum.
Hasan yang mendengar perintah sekaligus pembelaan dari keduanya langsung melenggang pergi meninggalkan ruang keluarga menuju dapur sesuai dengan perintah keduanya. Tanpa di sangka Hasan ternyata juga membuatkan empat gelas teh hangat yang dia bawa di atas nampan beserta mangkuknya.
__ADS_1
"Wah lengkap sekali," seru Imah.
"Kamu memang suami idaman, tapi ngomong-ngomong kok banyak banget tehnya Hasan?" sambung Imah yang bingung melihat empat gelas teh yang ada di hadapannya.
"Teh ini untuk semua yang ada di sini Budhe," jawab Hasan menaruh ke empat gelas teh di meja dan mengambil dua bungkus bakso yang tadi di bawakan oleh Umik.
"Wah sayang sekali, Budhe dan Umik sudah minum barusan, jadi sepertinya teh buatanmu akan tersia-siakan," ujar Imah.
"Budhe kamu benar, Nak, harusnya tadi kamu gak usah buatin Umik sama Budhe! karena kita baru aja pulang dari warung bakso." Sahut Umik.
"Tidak apa-apa, kalau tidak di minum nanti masoh bisa di simpan di kulkas kalau sudah dingin," jawab Hasan dengan senyum yangasih terlihat manis meski kedua wanita yang ada di hadapannya mengatakan hal yang cukup mengecewakannya.
"Syei', makanlah!" sambung Hasan menyodorkan satu mangkuk bakso yang baru saja dia tuang.
Sebenarnya sejak tadi Arum ingin sekali melahap habis bakso yang ada di atas meja. Entah mengapa melihatnya saja sudah membuat selera makan Arum meningkat. Dengan lahap Arum menghabiskan satu porsi bakso yang ada di pangkuannya, kini hanya sisa tulang yang tadi menjembul di atas bulatan baksonya.
"Minum dulu Syei'!" dengan sigap Hasan mengambilkan teh hangat untuk Arum agar segera dia minum.
Hasan adalah suami siaga yanh selalu berada di samping Arum saat dia membutuhkannya, sejak Hasan mengetahui jika Arum sedang mengandung anaknya dia lebih sering menghabiskan waktu bersama Arum di dalam rumah dan mengerjakan pekerjaan melalui email yang di kirim oleh sekertarisnya.
Hasan terus memperhatikan Arum yang kini sedang mengobrol bersama dengan Umik dan Imah, yang membuat aneh Arum tak muntah seperti sebelumnya, dia justru terlihat biasa saja.
'Kok aneh ya?' batin Hasan sambil terus menatap lekat ke arah Arum.
"Bi, kenappa lihatin aku seperti itu? baksonya nanti keburu dingin kalau tidak segera di makan," ujar Arum yang baru menyadari jika sang suami hanya menatapnya tanpa bergerak dengan semangkuk bakso yang masih ada di tangannya.
"Eh, tidak apa-apa," jawab Hasan kembali melahap bakso yang ada di tangannya.
__ADS_1
Meski dalam hati Hasan masih ada sejuta rasa penasaran, tapi dia tak sedikitpun di ungkapkan karena bagi Hasan melihat Arum tidak muntah lagi merupakan hal yang membuatnya bahagia, setidaknya Arum dan sang calon bayi bisa mencerna makanan dengan baik.
~
Jika Hasan sedang bingung dengan keadaan Arum, maka berbeda dengan Husein yang sedang asyik menikmati masa-masa pengantin baru.
"Di minum dulu kopinya, Mas," ucap Zahra sambil memberikan secangkir kopi di depan meja yang ada di balkon kamar.
"Terima kasih, Dek," sahut Husein dengan senyum yang selalu terlihat cerah secerah mentari di pagi hari.
'Grep'
Melihat Zahra berdiri tak jauh dari tempatnya duduk membuat Husein tak bisa menahan diri untuk tetap diam. Tanpa aba-aba dia menarik tangan Zahra sampai dia terjatuh di atas pangkuannya.
"Astaghfirullah, Mas, ini du balkonjangan seperti ini! kalau ada yang lihat bagaimana?" keluh Zahra yang akan merasa malu jika ada yang melihat dia duduk di pangkuan sang suami.
"Lima menit, Dek, biarkan seperti ini dulu, lagi pula tak akan ada yang lewat jam segini." Cicit Husein semakin memper erat pelukannya dan mencium aroma tubuh sang istri yang terasa begitu harumdi pagi hari karena Zahra baru saja mandi.
"Baumu harum sekali, bagaimana aku bisa jauh-jauh darimu, Dek?" ungkap Husein sambil terus menghirup aroma sabun dan shampo yang masih tercium di sana.
"Kalau begitu besok Zahra gak bakal mandi subuh lagi kalau bisa bikin Mas Husein nempel terus." Ujar Zahra.
" Kenapa bisa begitu, Dek?" tanya Husein mengerutkan dahi bingung mendengar pernyataan Zahra.
"Iya, kalau Mas Hasan terus-terusan nempel kayak gini kerjanya kapan?" ujar Zahra polos.
"Kamu lupa ya, Dek, kalau aku ini bosnya," seru Husein.
__ADS_1
"Bos bukan berarti bisa kerja semaunya, seorang bos harus bisa jadi panutan bagi anak buahnya, Mas," tutur Zahra.
"Kamu benar sih, tapi khusus untuk satu minggu ini aku bisa menikmati posisiku sebagai Bos, karena aku sudah membuat izin untuk menikmati liburan setelah menikah." Bela Husein tanpa mengubah posisinya.