Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Menonton Bersama


__ADS_3

"Ini minuman untuk Umik," Hasan memberikan satu gelas minuman kesukaan sang Umik kemudian duduk telat di samping Umik.


"Keluarga Arum sudah setuju dengan apa yang kamu ajukan," ucap Umik dengan senyum yang mengembang sembari menperhatikan wajah Hasan yang langsung berbinar setelah mendengarnya.


"Alhamdulillah," ucap Hasan dengan wajah yang terlihat begitu lega dan bahagia.


"Jangan senang dulu!" ucap Umik.


"keluarga Hasan mengajukan beberapa syarat yang harus kamu penuhi." sambung Umik.


"Apa syaratnya Umik?" tanya Hasan dengan wajah penuh penasaran.


Umik menjelaskan semua syarat yang di ajukan keluarga Arum pada Hasan, sejenak Hasan terdiam mencerna dan menimang apa yang di minta oleh keluarga Arum.


"Aku siap Umik," jawab Hasan dengan ekspresi wajah penuh keyakinan.


"Alhamdulillah jika kamu memang sanggup," sahut Umik.


"Terus kapan acaranya akan di mulai?" tanya Hasan yang terlihat sudah tak sabar untuk menghalalkan Arum.


"Sabar dulu Nak, semua butuh proses." Tutur Umik yang merasa lucu dengan wajah Hasan yang begitu tak sabar.

__ADS_1


Hasan yang mendengar ucapan Umik hanya bisa menunduk malu karena merasa Umiknya tahu jika dirinya sudah tak sabar ingin menghalalkan Arum.


Rencana yang di susun tak di ketahui oleh Arum dan Umik berencana akan membicarakan segalanya setelah mendapat persetujuan dari keluarga Arum.


Jika Hasan merasa begitu bahagia setelah mendapat kabar jika permintaan yang di ajukan telah di terima oleh keluarga Arum, maka keadaan berbeda terjadi pada Arum yang sedang asyik menikmati suasana pesantren yang begitu asri dan di penuhi kehangatan.


Mereka bukan saudara atau sahabat mulai kecil, bahkan mereka bukan tetangga tetapi setelah masuk ke dalam pesantren semua santri langsung menjadi saudara dengan sendirinya.


"Sinta!" panggil Desy.


"Apa?" sahut Sinta yang baru saja melangkahkan kakinya hendak ke kamar.


"Hillih, kamu kebiasaan suka nitip," ujar Desy kemudian berbalik berjalan menuju kamarnya.


Meski sahutan yang di ucapkan Sinta tak enak di dengar bagi mereka yang tak biasa mendengarnya tapi bagi Desy ucapan Sinta sudah biasa.


"Oiii bentar lagi televisinya mau mulai. Siap-siap !" ujar Desy yang langsung mengambil tempat yang paling nyaman untuk menonton televisi.


Hari ini adalah hari kamis, hari paling di tunggu setelah hari jum'at. Karena hari ini waktunya menonton televisi bersama seluruh santri di aula, kegiatan yang selalu di lakukan setiap hari kamis sebagai hiburan agar rasa jenuh tak hinggap.


"Hari ini kita nonton apa?" tanya Arum yang jarang sekali ikut acara menonton bersama di aula.

__ADS_1


Arum memang lebih sering menghabiskan waktu di ndalem Umik dari pada di asrama sebelumnya.


"Biasanya kita nonton serial drama rumah tangga di saluran iman terbang." jawab Desy.


"Ishhh, kenapa harus lihat drama itu sih?" keluh Arum yang kurang suka dengan acara yang akan di pilih.


"Sepertinya kamu kurang suka dengan drama itu kenapa?" tanya Desy yang penasaran dengan reaksi yang di berikan oleh Arum.


"Hidup udah susah ngapain lihat yang susah-susah gitu? bikin makin susah aja," jawab Arum dengan senyum yang mengembang.


"Mau bagaimana lagi yang lain pada suka drama ikan terbang, kita mah cuma bisa ngikut aja," ujar Desy.


"Sudahlah nikmati aja, dari pada gak ada hiburan," sambung Desy yang membuat Arum mengangguk mengerti.


"Misi-misi, Sinta yang cantik cetar membahana mau lewat," ucap Sinta langsung duduk di antara keduanya.


"Dasar kau ini sukanya nyelip-nyelip," keluh Desy yang terpaksa harus bergeser karena Sinta yang tiba-tiba duduk di tengah-tengah keduanya.


"Ternyata cukup menyenangkan," lirih Arum yang merasakan hal berbeda, menonton bersama jauh lebih menyenangkan dari pada menonton televisi sendiri tanpa ada yang menemani.


"Iyalah, apapun akan terasa menyenangkan kalau bareng sama sahabat," sahut Desy dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


__ADS_2