Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Sarapan Bersama


__ADS_3

Hari demi hari terus terlewati, Arum hanya bisa pasrah tanpa bisa menolak takdir yang telah tertulis. Semakin hari Hasan menunjukkan keseriusannya berusaha untuk mendapatkan hati Arum.


Seperti pagi ini Hasan sengaja belajar memasak untuk sarapan bersama dengan Arum dan meminta izin kepada Umik untuk membawa Arum pergi keluar pesantren untuk jalan-jalan.


Beberapa orang yang ada di pesantren hanya bisa menggerutu dalam hati melihat perlakuan istimewa yang di dapatkan oleh Arum, tapi mereka tak bisa berbuat apapun karena sejak awal Arum memang sudah mendapat fasilitas berbeda karena dia calon istri dari putera pemilik pesantren.


"Mbak Arum!" panggil Hana.


"Mbak Hana, tumben ke sini?" tanya Arum yang merasa aneh dengan kedatangan Hana, karena tak biasanya Hana datang sendiri ke kamar untuk mencarinya. Biasanya Hana akan menyuruh seorang santri untuk menggantikannya memanggil Arum.


"Saya di suruh Mas Hasan untuk manggil Mbak Arum," jawab Hana dengan senyum yang terlihat manis.


"Ada apa Mbak?" Arum yang sejak tadi duduk dan sedang bergosip ria bersama Desy dan Sinta kini berdiri berjalan menghampiri Hana yang berdiri tepat do depan pintu.


"Mbak Arum di tunggu Mas Hasan di ndalemnya," Hana memberitahukan maksud dia mencari Arum.


"Nunggu Aku? memangnya ada apa?" Arum terus saja bertanya karena dia tak mengerti kenapa Hasan menunggunya.


"Kalau Mbak Arum mau tahu langsung ke ndalem aja, saya permisi dulu." Hana yang memang tidak di perbolehkan memberitahu Arum tujuan Hasan memanggilnya langsung berpamitan meninggalkan Arum yang masih setia berdiam diri di tempat.


"Mbak Hana di tanya bukannya jawab malah pergi," gerutu Arum.


"Sudah gak usah ngedumel! mending kamu langsung samperin aja barang kali Pangeranmu itu punya sesuatu yang bisa membuatmu tersenyum seperti sebelum-sebelumnya," sahut Desy yang mengetahui perlakuan Hasan yang begitu manis akhir-akhir ini.


Hasan pernah memberikan sebuket bunga dan sekotak coklat yang di titipkan pada seirang santri, Hasan juga pernah bersusah payah memasak nasi goreng seafood untuk Arum hanya karena Arum mengatakan jika dia ingin makan nasi goreng seafood.


Sungguh sifat dingin Hasan seolah sirnah di makan waktu saat berhubungan atau berhadapan dengan Arum.

__ADS_1


"Ssttt, Desy jangan berisik!" ujar Arum yang tak ingin membuat keributan, karena jika ada oranglain yang tahu sikap Hasan pada Arum pasti akan ada reporter dadakan yang akan mewawancarainya.


"Sudahlah jangan mulai berdebat lebih baik Kamu segera pergi ke ndalem Mas Hasan, dia pasti sudah nungguin kamu." Sela Sinta yang tak ingin mendengar kembali perdebatan yang sering kali mengganggu dirinya.


Arum yang mendengar ucapan Sinta langsung pergi meninggalkan kamar menuju ndalem Hasan memenuhi panggilannya, di tengah perjalanan Arum sempat merasa lucu mengingat cara dirinya dan Hasan yang melakukan pendekatan dan penyesuaian tak lazim, biasanya jika pasangan kekasih di luar sana akan melakukan video call atau saling chat setiap waktu tapi berbeda dengan hubungannya dan Hasan yang tak bisa berkomunikasi melewati alat canggih yang biasa di gunakan para pasangan kelasih lainnya.


"Assalamualaikum," ucap Arum yang merasaaneh karena pintu rumah Hasan tertutup rapat.


"Waalaikum salam," sahut Hasan melangkah medekat ke arah pintu untuk membukakan pintu Arum.


"Masuklah!" titah Hasan memerintahkan Arum untuk masuk ke dalam rumah.


"Kak Hasan panggil Arum ada apa?" tanyaArum to the point tanpa basa basi.


"Kita sarapan dulu, setelah itu Aky akan jelaskan semuanya." Jawab Hasan sambil berjalan menuju ruang makan.


"Aku memang sengaja mempersiapkan semuanya untukmu, jadi makanlah!" Hasan menarikkursi untuk Arum duduki dan mengambilkan satu piring untuknya, sikap Hasan benar-benar manis, semanis madu.


"Kak ini terlalu banyak dan Aku tak bisa menghabiskannya," ucap Arum yang merasa begitu heran dengan banyaknya makanan yang terhidang di atas meja.


"Sudah makan dulu, nanti kita fikirkan bersama mau di bawa ke mana sisanya," jawaban Hasan membuat Arum tersenyum bahagia.


Mereka makan dengan tenang hanya dentingan sendok yang terdengar menggema di ruangan, hanya sesekali Arum melempar senyum ke arah Hasan saat Arum tak sengaja melihat Hasan yang tersenyum ke arahnya.


"Alhamdulillah," lirih Arumsetelah menghabiskan semua makanan yang ada di piringnya kemudian beranjak menuju tempat cuci piring setelah mengambil piring bekas Hasan makan.


"Aku siap-siap dulu, kamu tunggu sini!" pamit Hasan melenggang pergi meninggalkan Arum yang masih asyik mencuci piring.

__ADS_1


"Memangnya kita mau ke mana Kak?" tanya Arum yang membuat Hasan menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Arum yang juga menghentikan kegiatannya mencuci piring dan melihat ke arah Hasan.


"Kita akan jalan-jalan." Jawab Hasan enteng, tapi jawaban Hasan justru membuat Arum bingung pasalnya di pesantren tak fi izinkan untuk pergi keluar pesantren tanpa izin.


"Ke mana Kak?" tanya Arum.


"Apa Umik ngasih izin?" sambung Arum.


"Kita jalan-jalan ke rumah Ummah dan mampir ke alun-alun kota." Jawaban Hasan membuat Arum tersenyum, karena sudah cukup lama dia tak bisa jalan-jalan hanya berdiam diri di dalam pesantren dengan segudang tugas yangs sering kali di berikan oleh Hasan.


"Kak Hasan!" Arum kembali memanggil Hasan saat memiliki ide untuk menghabiskan makanan yang ada di atas meja.


"Ada apa Sayang?" sahut Hasan yang kembali menghentikan langkahnya menoleh ke arah Arum.


"Kak apa Aku boleh membungkus semua makanan ini?" tanya Arum dengan ekspresi wajah penuh harap.


"Boleh bungkus aja." Jawab Hasan.


"Apa kakak punya kertas minyak?" Arum kembali bertanya.


"Kertas minyak ada di dalam lemari penyimpanan makanan tepat di atasmu." Jawab Hasan kemudian kembali berjalan menjauh meninggalkan Aeum yang tengah tersenyum bahagia karena sudah mendapatkan izin atas apa yang dia inginkan.


Arum langsung mengehntikan cuci piringnya mengambil kertas minyak yang sudah dia tahu di mana tempatnya, kemudian membungkus semua makan an yang ada di atas meja menjadi beberapa bungkus dan menyimpannya di kantong plastik yang dia temukan di dalam lemari yang sama.


'Kak Hasan belum menikah tapi peralatan dan kebutuhan dapur di sini begitu lengkap,' batin Arum setelah merapikan bungkusan makanan yang selesai dia bungkus.


Arum mengambil beberapa wadah yang tadi di pakai untuk menaruh makanan yang sudah di bungkus olehnya dan mencucinya sampai bersih.

__ADS_1


"Loh kenapa di bungkusin begitu? mau kamu bawa ke mana makanannya Sayang?" tanya Hasan yang baru saja kembali dengan penampilan yang jauh lebih rapi dan tampan, meski saat ini dia tengah memakai sarung tapi tak mengurangi radar ketampanannya sedikitpun. Dan Arum harus mengakui jika aura seorang santri itu memang kuat dan santri memang mempesona.


__ADS_2