Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Jadi Seperti Umik


__ADS_3

Hasan tak menghiraukan pertanyaan Arum, dia malah berjalan melewati Arum mendahuluinya masuk ke dalam kamar.


"Mas Hasan!" panggil Arum dengan suara pelan, Arum tak berani mengeraskan suaranya mengingat malam telah larut.


Hasan yang mendengar panggilan Arum langsung berhenti menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Hasan lagi.


"Kenapa Mas Hasan ikut masuk ke dalam kamar?" bukannya menjawab Arum malah balik bertanya.


"Jangan mikir yang aneh-aneh! Aku mau ambil laptop sama berkas-berkas punyaku." Jawab Hasan.


Hasan memang terkadang menggunakan kamar Syafa saat dia merasa jenuh berada di rumahnya sendiri, saat ini Hasan sedang mengerjakan berkas untuk meeting besok pagi, tadi Hasan pergi ke dapur untuk minum dan melihat Arum yang sedang mengintip di kaca jendela langsung menghampirinya.


"Maaf," lirih Arum menundukkan kepala.


Saat ini Arum sedang berdiri menundukkan kepala di tengah pintu, dia merasa mengganggu aktifitas Hasan.


"Maaf untuk apa?" Hasan yang mendengar permintaan maaf Arum sontak terkejut dan langsung menoleh ke arahnya.


"Maaf, gara-gara Aku kamu jadi terganggu dan pindah." Jawab Arum dengan ekspresi penuh penyesalan.


"Tidak masalah, untukmu Aku akan berikan apapun." Hasan berucap sambil kembali melanjutkan aktifitasnya semula, menunpuk barang dan membawanya pergi keluar kamar.


"Apa??" Arum sedikit meninggikan suaranya karena terkejut.


"Ssstttt, jangan teriak nanti ada yang bangun! dan mengira kita sedang melakukan hal yang tidak baik." Hasan mendekat dan memberi peringatan atas tindakan Arum yang tiba-tiba berteriak.


"Mas Hasan tadi ngomong apa?" tanya Arum dengan nada sedikit keras.

__ADS_1


"Sssst jangan ramai! masuklah!" Hasan melenggang pergi meninggalkan Arum yang masih bertanya-tanya dengan ucapan Hasan.


Hasan yang memang sengaja mempermainkan Arum tersenyum lucu dan beranjak pergi menuju ruang keluarga melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.


Di Kamar tempat Arum sang gadis cantik nan baik hati merebahkan badannya meluruskan punggung menikmati rasa lelah yang menyerang.


"Apa maksud dari ucapan Mas Hasan tadi ya?" gumam Arum memikirkan perkataan Hasan.


Entah apa yang merasuki pikiran Arum. Dia selalu saja merasa perasaan aneh dan berbeda saat bersama Hasan. Perasaan yang sulit di artikan, perasaan yang mampu membuatnya melambung tinggi. Jantung yang berdebar seolah baru selesai berolahraga.


"Apa Aku suka ya sama Mas Hasan?" gumam Arum lagi. Dia terus memikirkan perkataan Hasan sampai matanya tak lagi mampu untuk di buka, keadaan Arum saat ini tak jauh berbeda dengan keadaan Hasan yang juga mulai terserang rasa kantuk hingga dia tertidur di sofa ruang keluarga dengan badan yang berada di lantai, hanya kepala dan kedua lengan yang berada di atas sofa.


Malam semakin larut semua penghuni rumah telah tertidur menuju negeri mimpi di atas awan, tapi tidak dengan Arum yang sejak tadi hanya membolak balikkan badan di atas kasur, mencoba merebahkan diri tapi tak bisa. Arum yang terus saja memikirkan ucapan Hasan kini memutuskan untuk mengambil minum ke dapur karena tenggorok'annya telah di landa rasa haus.


Perlahan Arum keluar dari rumah berjalan pelan menuju dapur, dan betapa terkejutnya dia saat netra matanya bertemu dengan pemandangan yang ada di depan matanya.


Arum melihat Hasan yang sedang tertidur dengan laptop yang masih menyala dan posisi yang pasti tidak nyaman.


"Mas, maaf perbaiki posisi tidurnya." Arum menggoyangkan badan Hasan pelan.


"Mas," lirihnya lagi berusaha membangunkan Hasan yang sedang terlelap dalam mimpi.


Hasan yang merasa tidurnya terganggu reflek menggeliat dan perlahan membuka mata, meski antara sadar dan tidak Hasan tetap membuka mata dan merespon apa yang di lakukan Arum.


"Hmm," sahut Hasan dengan mata setengah terpejam.


"Mas, jangan tidur dengan posisi duduk gak baik. Ini bantal untukmu," Arum memberikan bantal yang sejak tadi di pegangnya dan Hasan yang sebenarnya setengah sadar langsung mengambil bantal yang tadi di berikan Arum, kemudian langsung tertidur di lantai beralaskan karpet bludri lumayan tebal yang ada di dekat sofa.


Saking lelahnya Hasan langsung tertidur kembali sesaat setelah meletakkan kepalanya di atas bantal empuk pemberian Arum.

__ADS_1


Arum yang melihat tingkah Hasan tersenyum lucu dan menyelimuti tubuh Hasan dengan selimut bludru yang tadi di bawa olehnya. Setelah selesai dengan semua urusannya Arum beranjak ke dapur sesuai tujuan awalnya, mengambil air minum dan kembali tidur selesai minum.


Malam singkat telah beranjak pergi, sang rembulan yang bersinar cerah menyinari gelapnya malam telah kembali ke peraduan, berganti dengan cahaya mentari pagi.


Tok ... tok ... tok ....


"Arum!" panggil Umik.


"Iya, Umik," jawab Arum yang baru saja selesai melipat mukenah dan menaruhnya di tempat semula, Arum yang memang aslinya orang kaya memiliki dua mukenah yang dia simpan di kamar asrama dan di kamar syafa.


"Kamu gak ngaji, Nak?" tanya Umik.


"Ngaji Umik, ini mau ambil kitab di kamar asrama." Jawab Arum yang memang akan berangkat mengaji.


"Emm, Umik!" sambung Arum dengan nada ragu.


"Iya, ada apa?" tanya Umik yang kini menatap lekat gadis pilihannya, pilihan Umik untuk di jadikan mantu.


"Aku ingin beli kartu makan, di mana Aku bisa membelinya?" tanya Arum.


"Loh kenapa harus beli kartu makan, Umik kan sudah bilang kalau Arum makan bersama keluarga Umik saja." Jawab Umik.


"Maaf sebelumnya Umik, bukannya tidak mau. Tapi Arum benar-benar pengen jadi santri sesungguhnya meskipun belum sepenuhnya, perlahan Arum akan belajar dan berusaha." Arum berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan Umik yang merasa apa yang di pilih Arum itu baik hanya bisa menyetujuinya.


"Baiklah, tunggu sebentar!" Umik berjalan meninggalkan Arum yang masih berdiri di tengah pintu dan sesuai perintah, sedikitpun Arum tak berpindah tetap berdiri di depan pintu menunggu kedatangan Umik.


Tak beberapa lama Arum menunggu, Umik muncul dari arah kamarnya dengan beberapa kartu yang dia genggam.


"Ambillah! dan tukarkan di kantin, tapi jika kamu merasa tidak cocok dengan maskan di sana makanlah di rumah Umik!" ucap Umik memberikan satu ikat kartu makan yang lumayan tebal. Menandakan jika kartu itu lumayan banyak.

__ADS_1


"Umik, Arum harus bayar berapa? kartunya lumayan banyak." tanya Arum yang mengerti jika kartu di tangannya saat ini senenarnya harus dia beli.


"Tidak usah di bayar Sayang, cukup kamu belajar yang giat, itu sudah cukup untuk Umik. Dan persiapkan dirimu agar bisa jadi seperti Umik." Jawab Umik yang sukses membuat Arum bingung.


__ADS_2