
Pagi sendu penuh air mata telah terlewati, Arum berjalan beriringan dengan Desy menuruni setiap anak tangga menuju tempat belajar masing-masing.
Arum pergi ke ndalem rumah Umik untuk menemui Husein sedang Desy pergi ke sekolah bersama Sinta.
"Assalamualaikum," ucap Arum setelah sampai di depan rumah Umik.
"Waalaikum salam," sahut Hana sambil membukakan pintu.
"Mbak Hana Kak Huseinnya ada?" tanya Arum.
"Mas Husein sepertinya ada di kamar Mbak," jawab Hana.
"Terima kasih udah di kasih tahu Mbak," sahut Arum berjalan masuk ke dalam rumah.
"Arum!" panggil Umik yang melihat Arum berjalan masuk ke rumah.
"Iya, Umik," jawab Arum.
"Sini, Nak!" titah Umik.
Arum berjalan mendekat ke arah Umik, padahal baru beberapa langkah dia masuk ke dalam rumah.
"Iya Umik, ada apa?" Arum berjalan mendekat ke arah Umik yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Umik.
"Mau nyari Kak Husein Umik," jawab Arum.
"Husein gak ada di rumah Nak, dia lagi ada urusan di luar kota," jawab Umik.
"Loh kok tiba-tiba Umik, apa ada masalah sama Kak Husein?" tanya Arum yang merasa khawatir jika Husein punya masalah.
"Tidak Nak, Husein hanya mengecek dan meresmikan hotel yang baru dia resmikan." Jawab Umik dengan senyum yang terlihat begitu jelas di wajah Umik.
"Apa ada hubungannya dengan masalah perjodohan ini Umik?" tanya Uqi.
"Tidak Sayang, putera Umik sudah dewasa dan mereka sudah bisa berfikir juga bersikap seperto orang dewasa lainnya." Umik mencoba menenangkan Arum yang terlihat gelisah.
__ADS_1
"Maaf Umik," lirih Arum yang merasa tak enak hati karena dirinya kedua anak kembar Umik harus berselisih.
"Sudahlah Nak, tidak usah minta maaf! karena ajal dan jodoh adalah takdir yang tak bisa di ubah oleh manusia.
Umik langsung menghibur Arum yang terlihat bersedih dengan apa yang terjadi, di cintai dua laki-laki kembar yang memiliki sifat sama-sama baik bukanlah hal yang menyenangkan, karena Arum harus menyakiti salah satunya saat dia harus memutuskan mana yang akan dia pilih.
"Arum cari Husein memangnya ada apa?" tanya Umik.
"Aku mau belajar sama Kak Husein seperti biasa Umik," jawab Arum.
"Bagaimana kalau kamu belajarnya sama Hasan saja?" usul Umik.
"Jam belajar sama Kak Husein Kan nanti siang Umik." jawab Arum.
"Benar juga, kalau begitu mulai besok kamu bisa belajar dengan Hasan lebih lama." Ucap Umik.
"Maksudnya bagaimana Umik?" tanya Arum yang tak mengerti dengan ucapan Umik.
"Biasanya kamu akan belajar dengan Hasan satu jam saat makan siang, maka Umik akan memerintahkan Hasan untuk memberi materi pelajaran padamu lebih banyak dengan durasi waktu lebih panjang, sebagai ganti waktu belajarmu dengan Husein," Umik menjelaskan maksud dari ucapan Umik.
"Loh memangnya Kak Husein kapan pulang? kok aku harus belajar lebih lama dengan Kak Hasan." Arum kembali bertanya karena Umik masih belum menjelaskan alasan kepergian Husein sebenarnya.
"Alhamdulillah jika kepergian Kak Husein gak ada hubungannya denganku, karena Aku akan semakin sedih jika itu terjadi." Arum menundukkan kepala tanda jika dia sedang bersedih.
"Sudah jangan di fikirkan! fokus aja sama materi yang akan kamu pelajari, ingatlah Nak! jika kamu berjodoh dengan Hasan anak Umik, maka otomatis kamu akan menggantikan posisi Umik sebagai pengasuh pesantren ini." Umik menenangkan Arum dan menyuruhnya untuk fokus pada materi yang akan dia pelajari, Umik juga memberitahu jika Arum berjodoh dengan Hasan maka dia akan meneruskan tugas Umik.
Arum yang mendengar penjelasan Umik hanya bisa diam mematung tanpa bisa melawan ataupun menimpali ucapan Umik, ada banyak hal yang sedang menguasai hati juga fikuran Arum dan sukses membuatnya terdiam seperti orang yang sedang melamun.
"Arum!" lirih Umik.
"Hey!! Arum!! kamu gak apa-apa?" Umik mencoba menyadarkan Arum yang terlihat sedang melamun.
"Eh i~iya Umik, Aku gak apa-apa." Jawab Arum sedikit gugup karena dia sedang melamun tadi.
"Sydah jangan banyak berfikir! lebih baik sekarang kamu temani Umik." Ajak Umik yang mengerti apa yang sedang di rasakan Arum, Umik juga tahu jika tadi Arum sedang melamun.
"Memangnya kita mau ke mana Umik?" tanya Arum yang bingung dengan ajakan Umik.
__ADS_1
"Hari ini Umik akan pergi ke bandara untuk menjemput Adik Abi." Jawab Umik.
Hari ini rencananya Syafa sang adik ipar akan pulang untuk menjenguk Buya dan Ummahnya, sudah dua bulan lamanya Syafa pergi ke luar negeri tepatnya pergi ke singapore mengikuti sang suami yang mendapat tugas di sana.
"Apa boleh Arum ikut keluar Umik?" tanya Arum yang mengerti peraturan di pesantren jika seorang santri tidak boleh keluar dari area pesantren tanpa izin.
"Ya bolehlah Nak, kan kamu perginya nemenin Umik." Jawab Umik dengan senyum yang mengembang sambil mengusap pelan kepala Arum yang kini tertutup rapi oleh kerudung.
"Baiklah, kalau begitu Arum siap-siap dulu ya Umik." Pamit Arum berjalan keluar dari ndalem Umik setelah mencium punggung tangan Umik.
Umik hanya tersenyum dan sedikit mengangguk sebagai jawaban. Arum yang mendapat jawaban kembali berjalan menuju asrama untuk bersiap-siap ikut Umik.
"Arum!" panggil Desy.
"Eh Desy, ada apa?" tanya Arum menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiri Desy yang sedang duduk di teras kamar.
"Kamu mau ke mana kok buru-buru?" tanya Desy.
"Umik ngajakin Aku jemput Adiknya di bandara," jawab Arum.
"Oh yasudah, sono cepet siap-siap jangan buat Umik menunggu!" ucap Desy.
"Siap Desy, kamu mau pesen apa?" tanya Arum yang mengira dia bisa pergi kemanapun untuk membeli oleh-oleh.
"Emang selain ngajakin kamu ke bandara Umik ngajak ke mana lagi?" tanya Desy.
"Gak tahu, Umik cuma bilang mau pergi ke bandara." Jawab Arum.
"Ya sudah percuma sekalipun Aku pesen kamu gak bakal bisa beliin." Ujar Desy.
"Kok gitu?" tanya Arum.
"Kalau ikut Umik itu gak bisa bebas Arum, kamu ikut Umik itu ya cuma bisa ngikutin ke mana Umik pergi. Gak bisa bebas pergi ke manapun yang kamu mau." Jelas Desy yang pernah ikut Umik pergi keluar.
"Mbak Desy!" panggil seorang santri yang baru saja keluar dari ndalem.
"Iya Mbak, ada apa?" tanya Desy.
__ADS_1
"Mbak di suruh siap-siap sama Umik, katanya di suruh nemenin beliau bepergian." Jawab Sang santri.
"Oh Iya mbak, makasih sudah di kasih tahu," sahut Desy yang mendapat jawaban acungan jempol oleh Sang santri.