
Dengan langkah penuh semangat dan penuh harap Husein berjalan menapaki tangga menuju kamar untuk menemui Zahra dan memastikan jika sang istri tengah hamil.
'Ceklek'
Suara pintu kamar terbuka menampakkan pemandangan yang tak di inginkan oleh Husein, dia yang tadinya berjalan penuh semangat kini malah menatap sang istri dengan tatapan lesu tak bersemangat, pasalnya Zahra terlihat memejamkan mata terlelap dalam dunia mimpi.
"Yah, dia malah tidur," keluh Husein sambil menutup pintu melangkah pelan menuju sofa tempatnya tadi duduk dan kembali membuka laptop menyelesaikan pekerjaan yang sempat dia tinggal.
~
Pagi indah penuh harapan, sungguh tak terasa waktu berjalan begitu cepat bagi mereka yang menjalani hidup seperti biasa, berbeda bagi dua sejoli yang tengah menantikan hari di mana mereka bisa bertemu dan menyatukan rasa juga raga yang cukup lama terpisah.
"Rasanya waktu berputar begitu lamban ya Shin," ucap Desy.
Saat ini Desy sedang menikmati suasana cerah di sore hari, duduk bersantai di depan kamar H yang berada di tingkat dua menikmati angin sepoy dari sawah yang berada di sebelah bangunan asrama yang hanya di tutupi kere (anyaman bambu berbentuk selambu).
"Jelas kalau ada yang di tungguin kayak kamu, apa lagi menunggu yang tak pasti, aku yakin rasanya pasti sulit banget," sahut Shinta yang membuat hati Desy gelisah.
"Dasar kau sahabat sadis," umpat Desy.
"Sadis kenapa? bukannya selama ini aku baik?" ujar Shinta sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya, kamu emang baik, tapi suka bikin aku galau kalau menyangkut Mas Huda," sergah Desy.
__ADS_1
"Loh, aku bukannya sadis Desy, hanya mengingatkan saja, apa kamu masih ingat kata-kata sedia payung sebelum hujan? aku ha~" Shinta belum menyelesaikan ucapannya, tapi Desy sudah menyela.
"Stop! jangan di teruskan! ucapanmu bikin pusing, lagi pula aku sudah tahu apa kalimat selanjutnya," sela Desy sebelum Shinta mengatakan lebih banyak hal yang membuat Desy semakin pusing dan gelisah setelah mendengarnya.
Shinta hanya tersenyum simpul mendengar penolakan Desy, dia sangat hafal jika Desy tak menyukai setiap ucapan yang di ucapkannya tentang penantian yang akan berujung kesedihan.
"Kenapa kamu gak balas surat dari Mas Huda saja?" Shinta yang diam dan tak lagi memberi kalimat pembawa kegelisahan kini malah memberi ide, tapi kali ini ide Shinta cukup masuk akal dan tak membuat Desy gelisah ataupun takut.
"Ide kamu boleh juga, tapi bagaimana aku memberikan surat balasan itu?" Desy kembali bingung.
"Kamu ini semua hal mudah selalu di bikin susah dan ribet, padahal semuanya gampang kok," jawab Shinta penuh keyakinan.
"Gampang gimana caranya?" tanya Desy mengalihkan perhatiannya yang sejak tadi memperhatikan tanaman padi yang terlihat bergoyang karena tempaan angin kini beralih menatap Shinta yang duduk di sebelahnya.
"Kamu tulis aja surat balasan dengan kata-kata menyentuh hati, terus titipin aja ke Erwin. Asisten Mas Huda yang selalu setia mengirim makanan tiap pagi dan sore hari itu. Gampang Kan," jelas Shinta membuat Desy menyadari jika Shinta jauh lebih peka darinya.
"Jelas gak bakal nyampeklah, aku yakin seribu persen kalau di otak kamu saat ini cuma berisi bayangan Mas Huda, semuanya full tentang dia, jadi mana bisa kamu mikir yang lain," ujar Shinta yang sukses membuat Desy sedikit jengkel karenanya.
"Dasar kau sahabat sengklek, ngatain orang seenaknya aja, gini-gini aku juga juara di kelas tau," bela Desy sambil menepuk pelan bahu Shinta yang justru tertawa karenanya.
"Aku jadi mikir, kalau nanti kita lulus dari sini, kira-kira kita masih bisa ketemu lagi gak ya?" ujar Shinta yang kini menatap setiap tanaman yang terlihat bergoyang karena tertiup angin.
"Entahlah, tapi yang aku bisa pastikan, aku gak bakal lupain kamu sebagai sahabat sengklek yang selalu setia menemaniku," sahut Desy.
__ADS_1
Keduanya terdiam karena sibuk dengan fikiran masing-masing, satu bulan lagi ujian akhir sekolah akan di adakan yang artinya mereka akan segera lulus dan pergi meninggalkan pesantren untuk menempuh jenjang yang lebih tinggi.
"Rencana ke depanmu apa Desy?" tanya Shinta tanpa mengalihkan pandangannya, dia tetap menatap ke arah yang sama.
"Entahlah, aku gak tahu Shin, yang aku tahu saat ini aku cuma nunggu Mas Huda sebelum akhirnya aku akan pergi dari pesantren dan kembali ke rumah, mungkin aku akan cari kerja untuk membantu ekonomi kedua orang tuaku," jawab Desy yang juga masih setia menatap padi yang bergoyang.
"Kalau rencana kamu apa?" Desy balik bertanya.
"Gak tahu juga, orang tuaku ingin aku kuliah di sini, tapi kalau tetap di sini tanpa ada kamu kayaknya bakal gak asyik lagi, mungkin aku akan cari fakultas lain di luar sana," jawab Shinta.
"Bukankah fakultas di sini juga bagus Shin," ujar Desy.
"Bagus sih, tapi aku pengen cari suasana baru Desy," jelas Shinta.
"Gak kerasa ya udah hampir tiga tahun lebih kita hidup bareng-bareng di pesantren ini, mungkin suatu saat aku akan merindukan saat-saat seperti ini nanti," sambung Shinta.
"Aku juga akan begitu Shin, akan banyak hal yang pasti kita rindukan nanti," sahut Desy dengan ekspresi sedih di wajahnya.
"Astaghfirullah, kenapa kita jadi mellow-mellowan gini sih? udah jangan fikirkan hal yang belum terjadi, lebih baik sekarang kita nulis surat aja buat Mas Huda," sela Shinta yang merasa suasana mulai menyedihkan, Shinta yang periang langsung mencoba mengubah suasana yang tadinya mulai mellow kembali hidup dan ceria.
"Kamu sih bahas perpisahan nanti, jadi mellow kan," protes Desy.
"Perpisahan itu pasti datang Desy, tapi yang terpenting sekarang kita balik ke kamar ambil buku sama bulpoin tulis kata-kata indah penyejuk hati, terus sembunyiin semua yang bisa bikin kita di hukum besok sebelum terlambat." Bisik Shinta yang langsung di turuti oleh Desy.
__ADS_1
Hari ini adalah hari kamis, dan setiap malam di hari kamis akan ada pemeriksaan kamar dan barang yang akan di lakukan oleh para petugas keamanan, yang di beri julukan seksi keamanan dan seksi kebersihan. Setiap barang yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran akan di sita dan pemiliknya akan mendapat sanksi keesokan harinya, bukan cuma barang yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran saja yang akan di sita, tapi barang dari pacar atau sejenisnya juga akan di sita termasuk novel dan komik.
"Aku sampai lupa, Shin, kalau hari ini akan ada pemeriksaan," ujar Desy melangkah pergi menuju kamar untuk mengamankan segala hal yang bisa menimbulkan masalah.