Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Mandi kilat


__ADS_3

Arum yang mendapat panggilan dari Umik langsung memakai kerudung bergegas pergi meninggalkan kamar menuju rumah Umik.


"Arum!!" panggil Desy yang ternyata baru selesai mandi.


"Desy," sahut Arum, menatap heran ke arah Desy yang sudah selesai mandi.


'Cepet amat mandinya?' batin Arum yang merasa heran dengan waktu yang di gunakan Desy untuk mandi.


'Ini Desy yang terlalu cepat mandinya atau Aku yang kelamaan dandan?' batin Arum kembali menerka-nerka.


"Kenapa bengong?" tanya Desy yang kini ikutan heran melihat Arum hanya diam mematung melihat ke arahnya.


"Gak ada, Aku pergi dulu!" pamit Arum yang langsung berjalan menjauh meninggalkan Desy yang justru bingung dengan sikap Arum.


"Dasar aneh," gumam Desy sambil menggelengkan kepala berjalan pergi menuju kamar.


Arum berjalan perlahan menuju rumah Umik yang terlihat sedikit terbuka pintunya, tanpa banyak fikir Arum langsung masuk tanpa menghiraukan santri yang menatapnya dengan ekspresi yang berbeda.


"Assalamualaikum," ucap Arum membuka pintu lebih lebar sambil celingukan melihat situasi di dalam rumah.


"Ngapain celingukan di situ?" suara seorang laki-laki mengejutkan Arum yang sedang fokus celingukan.


"Astaghfirullah," spontan Arum mengusap dada karena terkejut mendengar suara laki-laki yang tiba-tiba terdengar dari balik selambu penghubung ruang tengah dan ruang tamu.


"Kak Hasan!" panggil Arum yang melihat Hasan di balik selambu, ya laki-laki yang tadi mengejutkannya adalah Hasan.


"Apa?" jawab Hasan dengan senyum tipis yang tak terlihat karena terlalu samar.


"Kak Hasan ngapain di situ?" tanya Arum berjalan mendekat ke arah Hasan berdiri.


"Mau ke dapur." Jawab Hasan berjalan pergi meninggalkan Arum yang justru terdiam mematung melihat tingkah acuh Hasan.


Arum berjalan mencari Umik, tapi tak seorangpun terlihat.


"Kok sepi?" lirih Arum masih celingukan mencari seseorang, berharap ada yang bisa di tanya.


"Kamu lagi apa Arum?" tanya Husein yang baru saja datang dari ruang tamu mengejutkan Arum yang sedang celingukan mencari seseorang yang bisa dia tanya.

__ADS_1


"Aku lagi nyari Umik," jawab Arum


"Umik ada di mana ya Kak?" sambung Arum yang merasa lega karena bisa bertemu Husein untuk dia tanyai.


"Umik lagi di dapur, sekarang waktunya makan. Kamu ada perlu apa sama Umik?" jawab Husein.


"Tadi kata Mbak-Mbak santri Umik nyariin Aku." Jawab Arum jujur.


"Kalau gitu, ikut Aku aja ke dapur." Ajak Husein dengan senyum manis yang mengembang sejak pertama kali mereka bertemu.


"Boleh?" tanya Arum.


"Boleh lah, udah ikut aja!" Husein berjalan menjauh ke arah dapur setelah memberi isyarat agar Arum mengikuti langkahnya.


Arum yang memang tak memiliki pilihan lain akhirnya memilih berjalan mengikuti Husein menuju dapur menemui Umik yang katanya ada di sana.


"Assalamualaikum," ucap Arum sesaat setelah sampai di dapur.


Terlihat semua keluarga tengah berkumpul dan duduk di kursi meja makan.


"Waalaikum salam," sahut semua orang yang sedang duduk di meja makan.


"Kok lama? kamu dari mana saja Arum?" tanya Umik.


"Aku nyariin Umik sejak tadi." Jawab Arum dengan senyum canggungnya karena saat ini dia sedang berada di tengah-tengah keluarga Umik.


"Maaf, Umik lupa bilang kalau kamu Umik tunggu di sini." Jelas Umik.


'Pantesan Aku cariin dari tadi kagak ada.' Batin Arum.


"Umik nyari Arum ada perlu apa ya?" tanya Arum.


"Umik menyuruh Arum ke sini untuk makan bersama." Jawab Umik.


"Sudah tanya jawabnya jangan di terusin, kalau di terusin makannya kapan?" celetuk Husein yang merasa jengah melihat tanya jawab yang tak berujung itu.


"Oh iya, ayo di makan." Umik mempersilahkan semua keluarga untuk makan.

__ADS_1


Semua keluarga makan dengan tenang hingfa satu insiden menciptakan rasa canggung di antara kedua insan.


Saat semua sedang makan, Arum ingin mengambil orek tempe yang berada tepat di depan Arum, tapi saat bersamaan Hasan juga ingin mengambil orek tempe yang sama seperti Hasan. Alhasil tangan mereka bersentuhan karena ingin mengambil makanan yang sama akhirnya Arum memegang sendok untuk ikan sedang Hasan memegang tangan Arum yang sedang memegang sendok.


Suasana tempat makan seketika sepi, perhatian semua orang tertuju pada Hasan dan Arum yang masih saling berpegangan tangan. Semua orang juga ikut terdiam sampai deheman Husein menyadarkan semua.


Husein yang sedikit geram melihat tingkah gadis dan Kakak kesayangannya itu langsung mengeluarkan deheman maut agar semua orang yang ada di sini tahu jika di dekatnya masih ada Husein dan yang lain.


"Khem," deheman Husein menyadarkan Hasan dan Arum yang masih berpegangan.


"Maaf," lirih Hasan yang memang memiliki sifat yang lembut dan penyayang jauh berbeda dengan Husein yang terlihat selengek'an, padahal sebenarnya mungkin mereka sama hanya keadaan yang membuat sikap mereka berbeda. Mungkin jika nanti Husein punya pasangan dia akan merubah sikapnya.


"Oh, tidak. Seharusnya Aku yang meminta maaf Bukan Kakak. Maaf ya Kak." cerocos Arum.


"Tidak apa-apa, jangan terlalu di fikirkan. Lebih baik kita lanjutkan makannya." Ujar Hasan dengan senyum menawan yang dia miliki.


Arum yang baru pertama kali melihat senyum Hasan yang menawan langsung menoleh ke arah Hasan, sejenak Arum terpaku hingga dia sadar dan kembali menunduk menyembunyikan rasa kagumnya.


Arum dan yang lain kembali memulai makan yang sempat tertunda. Detik berikutnya mereka meneruskan makan hanya dentingan sendok yang terdengar menggema di ruangan.


"Arum," panggil Husein setelah makan.


"Iya, Kak Husein ada apa?" tanya Arum menghentikan langkah menoleh ke arah Husein yang berada tepat di belakangnya.


"Apa hari ini kamu ada acara?" tanya Husein.


"Memangnya ada apa kak? kok tumben tanya Arum ada acara atau enggak?" tanya Arum.


"Kalau kamu gak ada acara, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?" tawar Husein.


"Kakak mau ngajak Aku ke mana?" tanya Arum.


"Bagaimana kalau kita keliling kota dekat sini?" Hasan kembali menawarkan jalan-jalan menyenangkan.


"Sebenarnya Aku pengen Kak, tapi hari ini Aku ada janji sama anak-anak kamar mau ngajak Aku masak dan makan bareng-bareng. Jadi lain kali aja ya Kak." Sebenarnya Arum tak enak hati untuk menolak keinginan Husein, hanya saja dia tidak bisa membatalkan acara masak dan makan bersama dengan teman-teman di kamar. Jadi dengan berat hati Arum menolak ajakan Husein yang sebenarnya dia suka dan inginkan.


"Baiklah, kalau begitu kapan-kapan saja." Ucap Husein yang sebenarnya kecewa hanya saja dia menutupi rasa kecewanya dengan senyum menawan.

__ADS_1


"Maaf ya Kak," lirih Arum tak enak hati karena merasa telah mengecewakan Husein.


"Its okey tak apa" jawab Husein meninggalkan Arum yang masih setia berdiri menatap ke pergiannya.


__ADS_2