Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Mual Di Pagi Hari


__ADS_3

"Syei', kamu kenapa?" tanya Hasan dengan ekspresi wajah khawatir karena saat ini wajah Arum terlihat begitu pucat dan berbeda dari biasanya.


"Entahlah Mas, sejak kemarin aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku," jawab Arum berjalan kembali tidur dan menutup selimut rapat.


Hasan tak lagi bertanya tentang apa yang di rasakan oleh Arum, dia langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkan susu sapi hangat favorite sang istri.


"Mas Hasan tumben pagi-pagi sudah pergi ke dapur?" tanya Hana yang sedang membersihkan cucian piring semalam.


Sejak Hasan menikah tugas Hana bertambah, dia akan pergi ke rumah Hasan terlebih dahulu untuk membersihkan apa yang peelu fi bersihkan, meskipun terkadang Arum sudah membereskan sebagian besar pekerjaan di sana Hana tetap datang untuk memeriksanya kembali sesuai permintaan Umik.


"Arum lagi tidak enak badan Mbak, makanya aku ke sini mau buatin minum untuknya." Jawab Hasan terus berjalan menuju tempat penyimpanan susu dan gula.


"Biar aku saja yang membuatkannya Mas Hasan." Tawar Hana.


"Mbak Hana kerjakan yang lain saja! biar aku sendiri yang membuat minum. Lagi pula Mbak Hana juga masih harus bersihkan rumah Umik." Hasan menolak bantuan Hana dengan nada lembut agar dia tak tersinggung.


"Kalau begitu saya tinggal dulu ya Mas Hasan." Pamit Hana melenggang pergi meninggalkan Hasan yang masih berkutat dengan kompor memanasi susu sapi yang dia ambil.


"Syei'!" panggil Hasan sesaat setelah masuk ke dalam kamar dengan satu nampan berisi susu juga kopi untuk dirinya.


"Mmm," sahut Arum tanpa merubah posisinya.


"Bi, baunya amis, Abi bawa apa?" sahut Arum.


"Abi bawa susu sapi kesukaanmu, bukankah kamu sangat menyukai susu sapi ini?" tanya Hasan mengerutkan dahi bingung dengan ucapan Hasan.


"Baunya amis Bi, bawa pergi perutku mual gak tahan dengan baunya Bi," keluh Arum sambil menutup hidup dan benar saja satu detik kemudian dia berdiri berlari ke dalam kamar mandi memuntahkan apapun yang dia makan semalam.


"Syei', kamu gak apa-apa?" Hasan menaruh nampan yang dia bawa di atas nakas kemudian ikut berlari menghampiri Arum dan memijat lehernya agar rasa mual yang dirasakan oleh sang istri bisa sedikit lebih reda.

__ADS_1


"Sudah Bi," Arum menyingkirkan tangan Hasan yang masih tercium bau susu meski hanya sedikit.


"Tanganmu bau Bi," ucap Arum kembali menutup hidung. Sikap Arum benar-benar aneh pagi ini dan itu membuat Hasan bingung, tanpa banyak bertanya dan berucap Hasan langsung pergi menuju westafel dan mencuci tangannya dengan sabun di sana.


"Apa susu itu masih ada di kamar?" tanya Arum.


"Masih, tunggu sebentar!" mendengar pertanyaan Arum membuat Hasan mengerti jika saat ini dirinya harus segera keluar dan membawa pergi susu sapi yang biasanya sangat di sukai oleh Arum kini menjadi sesuatu yang membawa masalah.


Hasan membawa nampan berisi susu dan menaruh kopi yang akan dia minum di atas nakas, entah mengapa pagi ini Hasan ingin sekali meminum kopi bukannya susu yang sama seperti Arum.


"Loh, susunya kok di bawa keluar Mas Hasan?" tegur Hana yang ternyata masih ada di rumah, Hana menegur Hasan dengan kemonceng dan juga sapu di tangannya.


"Arum aneh hari ini Mbak, biasanya dia suka sekali minum susu hangat di pagi hari, tapi hari ini dia malah muntah-muntah hanya karena aroma susu yang katanya amis," Hasan menceritakan keanehan yang di alami oleh Arum.


"Benarkah Mas Hasan?" sahut Hana dengan rona wajah bahagia yang terpancar jelas di wajahnya.


"Mbak Hana kok kelihatan bahagia gitu? padahal aku sedang bingung Mbak," Hasan mengeluh dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh Hana.


"Memangnya kalau hamil aneh begitu ya Mbak?" tanya Hasan dengan ekspresi wajah penuh antusias.


"Setahu saya memang begitu Mas Hasan," jawab Hana membuat ekspresi antusias Hasan berubah menjadi binar kebahagiaan.


"Kalau begitu susu ini untukmu saja. Jangan lupa si minum!" Hasan langsung menyerahkan nampan yang berisi susu ke arah Hana kemudian berjalan cepat masuk kembali ke dalam kamar menemui Arum.


"Syei', apa kamu masih mual?" tanya Hasan.


"Sudah enggak Bi," jawab Arum yang kini duduk bersandar pada kepala ranjang.


Hasan berjalan mendekat ke arah Arum. Awalnya dia biasa saja hingga tanpa sengaja Hasan melihat segelas kopi yang sempat dia tinggalkan telah tandas tak tersisa hanya ada ampas yang terlihat mulai mengering karena airnya telah habis.

__ADS_1


"Kamu yang menghabiskan kopi Abi?" tanya Hasan semakin heran, dan yakin dengan dugaan Han jika sng istri kini sedang berbadan dua.


"Hm, kopi buatan Abi enak, aku suka Bi," jawab Arum dengan senyum yang terlihat begitu manis, ekspresi wajah Arum saat ini jauh berbeda dengan keadaannya saat Hasan membawa segelas susu sapi tadi.


'Sejak kapan Arum suka kopi?' batin Hasan.


"Kalau begitu kapan-kapan Abi buatin kopi lagi untukmu." Jawab Hasan.


"Terima kasih Bi," sahut Arum.


"Apa perutmu masih terasa tidak nyaman?" tanya Hasan sambil memperhatikan Arum yang terlihat biasa saja meski wajahnya sedikit pucat.


"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik, Bi," Arum tersenyum kembali menjawab pertanyaan Hasan yang terlihat khawatir padanya.


"Baguslah, bagaimana kalau nanti kita periksa ke dokter?" usul Hasan.


"Aku tidak sakit Bi, untuk apa pergi ke dokter?" tanya Arum.


Sejak kecil Arum begitu benci dengan bau rumah sakit yang begitu menyengat, kadi Arum tidak akan pergi ke rumah sakit jika tidak sakit parah.


"Tapi kamu tadi muntah-muntah Syei', jadi kamu perlu di periksa di rumah sakit," ujar Hasan.


"Abi, aku benci bau rumah sakit, jadi jangan paksa aku untuk ke sana jika aku tidak sakit parah. Aku hanya muntah saja Bi," tolak Arum.


Hasan hanya bisa mengalah untuk saat ini, karena baginya kesehatan juga kenyamanan Arum jauh lebih penting dari pada egonya sendiri.


"Baiklah, aku tidak akan membawamu ke rumah sakit, sekarang kamu mau sarapan apa? biar Abi siapkan!" tawar Hasan membuat mata Arum berbinar senang, hari ini dia tidak perlu susah payah untuk memasak di pagi hari.


"Bagaimana kalau kita makan nasi pecel pincuk yang di jual di tepi danau Bi?" tawar Arum.

__ADS_1


Pagi ini Arum tiba-tiba ingin memakan nasi pecel yang dulu sering dia beli setiap kali dia bermain di danau. Tapi sejak menikah dengan Hasan dia belum pernah membeli atau memakannya lagi.


"Pagi ini kita sarapan pecel, lebih baik kamu bersiap-siaplah biar Abi siapkan mobilnya." titah Hasan berjalan pergi meninggalkan Arum yang kini langsung bersemangat untuk bersiap.


__ADS_2