
Acara wisuda sudah di mulai, satu persatu wisudawan dan wisudawati di panggil untuk naik ke atas pentas, menerima simbol kelulusan dari para guru. Hingga tibalah pengumuman siapa saja lulusan terbaik yang tahun ini berhasil melewati ujian dengan hasil memuaskan.
Satu persatu nama para juara di panggil hingga juara ketiga, nama Desylah yang di sebut, Desy yang sedang duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya langsung berdiri kemudia memeluk Ayah dan Ibunya yang ikut berdiri ketika nama sang putri di sebut.
"Alhamdulillah, aku dapat juara," ucap Desy memeluk sang Ibu kemudian bergantian memeluk sang Ayah.
"Alhamdulillah, semoga ilmu yang kau dapatkan bermanfaat, Nak," sahut Ayah Desy.
"Dan semoga kamu jadi putri yang berguna bagi banyak orang," sahut sang Ibu.
Dengan penuh rasa bahagia bercampur haru Desy berjalan menuju pentas untuk menerima hadiah. Awalnya terasa biasa saja hingga Desy melihat sosok yang selama setahun ini dia rindukan tengah tersenyum dengan satu buket bunga dan kotak di tangannya, senyuman yang sudah lama dia rindukan.
'Mas Huda, apa aku gak salah lihat?' batin Desy menajamkan penglihatan memastikan jika sosok laki-laki yang sedang tersenyum itu adalah Huda.
"Desy!" tegur sang guru saat melihat Desy menatap lekat ke arah lain, sedang sang guru sedang memberinya hadiah.
"Eh, maaf, terima kasih Bu," ujar Desy setelah mengambil bingkisan yang di berikan oleh sang Guru.
Desy kembali menatap ke arah Huda yang sedang berdiri sambil tersenyum ke arahnya, setelah sesi penerimaan hadiah dan foto kini Desy kembali turun dari panggung, berjalan mendekat ke arah Ayah dan Ibunya berada.
"Ayah, Ibu, aku pergi dulu sebentar," pamit Desy sesaat setelah memberikan bingkisan yang di perolehnya.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" cegah Ibu Desy saat melihat sang Putri hendak pergi meninggalkannya.
"Aku mau pergi sebentar saja Bu, setelah itu aku ke sini lagi," pamit Desy yang terlihat enggan menjelaskan ke mana dia pergi.
"Ya sudah, jangan lama-lama!" sahut Ibu Desy yang mendapat anggukan dari Desy sebagai jawaban.
Usai berpamitan dengan sang Ibu, Desy berjalan menuju tempat di mana dia melihat Huda berdiri tadi, tapi setelah sampai Desy tak melihat Huda lagi, dia hilang bak di telan bumi.
'Perasaan tadi aku lihat Mas Huda ada di sini," batin Desy.
Cukup lama Desy memutari tempat di mana tadi dia melihat Huda, hingga akhirnya dia menyerah dan kembali duduk di samping sang Ibu dengan ekspresi wajah kecewa. Sedang Huda yang bersembunyi di balik pohon tersenyum bahagia melihat gadis pujaan hatinya kebingungan mencari dirinya.
'Belum waktunya Sayang, Aku tunggu kamu di rumah, kita bertemu di sana nanti,' batin Huda, melenggang pergi meninggalkan tempat acara untuk pulang ke rumah Desy di mana Adik dan kedua orang tuanya sudah menyiapkan pesta kecil-kacilan untuk menyambut kedatangan Desy nanti sore.
"Jangan pernah lupain aku ya Shinta," ucap Desy.
"Kamu juga Desy, jangan pernah lupakan Aku yang cantik dan imut ini," sahut Shinta.
Kedua sahabat yang telah menghabiskan waktu bersama selama tiga tahun terakhir itu saling berpelukan meluapkan segala rasa yang tengah mereka rasakan, setelah bertukar nomor ponsel keduanya berpisah membawa barang bawaan masing-masing menuju arah yang berbeda, karena rumah merwka memang beda arah.
-
__ADS_1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Kakak2 maaf ya updatenya sedikit author sedang di serang demam, buat part ini saja author bner2 berjuang dan author juga mau memperkenalkan karya baru author yang insya allah gak kalah seru, jangan lupa mampir ya kak, insya allah akan update tiap hari, tapi untuk sementara cuma satu bab tapi nanti author bakal crazy up di karya baru author.
Jangan lupa mampir ya kak, mohon dukungannya, lope2 sekebon buat kakak2 pembacaku yang super baik😘😘😍😍
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya Kak 🤗🤗😍😍